Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Mengapa Plagiarisme di Digital Mudah Terbongkar?

13 Juli 2017   10:57 Diperbarui: 13 Juli 2017   12:44 1327 22 8
Mengapa Plagiarisme di Digital Mudah Terbongkar?
Meniru perbuatan baik itu terpuji, tapi mencuri tulisan baik itu tercela (Illustrasi: media2.s-nbcnews.com)

Baru-baru ini jagad maya, juga mungkin fana, dihebohkan kasus plagiarisme "Warisan" yang dilakukan seorang rekan muda ANF.

Saya tidak ingin membahas lagi kasus ANF itu di sini, karena sudah jelas duduk perkaranya. Juga, sudah jenuh, sehingga ulasan yang terbit akhir-akhir ini sudah mengarah pada "penelanjangan kepribadian".

Hal yang hendak saya bicarakan, dan ini singkat saja, adalah soal gampangnya plagiarisme terungkap di media online. Pertanyaannya, mengapa?

Alasan utama, media online adalah dunia tanpa batas. Siapa saja dapat masuk ke dalamnya, dengan atau tanpa kata kunci, untuk kemudian berselancar di lautan informasi. Entah itu berita, artikel, majalah, buku, gambar, atau data.

Akses setiap orang ke media online, termasuh media sosial, memungkinkan keterpaparan informasi yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat. Ini memungkinkan banyak orang untuk mengakses banyak informasi, katakanlah tulisan, di banyak situs dalam satu hari yang sama.

Sederhananya begini. Jika saya menerbitkan satu artikel plagiat di Kompasiana.com dan dibaca oleh 1,000 orang, maka setiap orang dari 1,000 orang itu mungkin telah membaca 100 judul artikel yang beragam sebelumnya. Maka akan ada 100,000 ribu artikel yang dibandingkan dengan satu artikel saya. Dengan demikian peluang untuk terbongkarnya plagiasi saya akan mendekati angka 1.0. Artnya, kemungkinan terbongkar sangat besar.

Kondisinya beda dibanding masa pra-online 30 tahun lalu. Jika saya menulis satu cerpen plagiat di Majalah Dinding sebuah sekolah di Tanah Batak sana, dan cerpen itu hanya dibaca oleh 50 siswa yang jarang baca cerpen, maka peluang terbongkarnya plagiasi saya akan mendekati 0.0. Artinya, kemungkinan terbongkar sangat kecil.

Beda kondisinya dengan sekarang. Jika seorang siswa menerbitkan sebuah cerpen plagiat di majalah atau bulletin sekolahnya, sangat mungkin plagiasinya akan terbongkar juga. Mengapa? Karena siswa lain yang menjadi pembacanya sudah terpapar banyak tulisan di media online. Jadi, bisa cepat mengidentifikasi kemiripan satu tulisan dengan tulisan lain.

Belum lagi kalau ada pembaca yang hiper-kreatif menggunakan aplikasi pelacak plagiarisme di komputernya. Jika benar sebuah tulisan plagiat, dia akan segera tahu berapa persen kadar plagiarismenya.

Jadi, di era media online ini sungguh riskan menjadi plagiator. Karena peluang terbongkar sangat besar. Sekali terbongkar, berarti karakter penulis langsung mati. Bukan karena dibunuh oleh pembaca, tapi oleh dirinya seniri, sebab tindakan plagiarisme itu  sendiri adalah "bunuh diri karakter" .

Jadilah diri sendiri! Itu satu-satunya jalan untuk menghindari kasus plagiarisme. Maka menulislah seturut kapasitas sendiri. Mungkin hasilnya buruk pada awalnya, tapi sebuah proses panjang akan menghasilkan kebaikan.

Dalam rangka menjadi diri sendiri, temukanlah gaya tulis sendiri. Sebaiknya hindari meniru gaya tulis orang yang diidolakan. Peniruan semacam itu rentan tergelincir pada plagiarisme.

Saya contohkan diri sendiri. Pada suatu masa sangat mengidolakan gaya tulis Clifford Geertz, James Scott, dan Oscar Lewis. Ketiganya antropolog kelas dunia. Lalu saya mulai menulis artikel dengan meniru gaya tulis mereka. Hasilnya? Saya menjadi "jijik" sendiri, karena tak melihat diri sendiri dalam artikel yang saya tulis. Tak ada "signature" saya di situ. "Ini bukan aku, tapi Geertz, Scott, dan Lewis," kata saya dalam hati.

Maka saya kembali menulis seturut cara saya, yang saya sebut "metode tulis anarkis". Menulis apa saja dengan cara apa saja, tanpa melanggar kaidah-kaidah logika, etika, dan estetika. Yang terakhir ini, estetika, saya akui sebagai kelemahan terbesar saya. Begitulah saya menerakan "signature" dalam setiap tulisan. "Ini aku sendiri, bukan orang lain".

Sekali lagi, jadilah diri sendiri. Maka "setan plagiarisme" akan menjauh.***