Mochamad Syafei
Mochamad Syafei pegawai negeri

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu Lis dan Me Mba Ca. Agar tidak jadi gila ....

Selanjutnya

Tutup

Perempuan Ahok

20 Maret 2017   14:15 Diperbarui: 20 Maret 2017   15:41 86 0 0

Perempuan itu bertubuh ringkih.  Usianya belum tua banget, saya yakin.  Tapi kemiskinannyalah yang membuat wajah dan tubuhnya terlihat dua puluh tahun lebih tua dari usia yang sebenarnya.  Hidayah, nama perempuan itu.  Dia tetanggaku.  Dia tinggal di gubuk yang mungkin tak kalah ringkih dengan tubuh tuanya.  Dan kami memang orang-orang kalah atau mungkin lebih tepatnya, orang-orang yang dikalahkan.  Sehingga rumah kami pun merupakan deretan potret kekalahan yang tak mungkin diperhitungkan dalam statistik yang paling buruk sekali pun.

"Mau ke mana, Nek?" tanya anakku yang sudah seperti cucunya.

Dengan senyum khas.  Senyum ketulusan atau mungkin lebih tepatnya kepasrahan total perempuan ringkih pada taqdir, Nenek Hidayah tertatih menggeret tubuhnya yang sudah sering tak mau bersesuaian dengan perintah keinginan hatinya.

"Mau ke pasar?"

Anakku sudah tahu rutinitas Nek Hidayah.  Jam segitu memang jadwal rutin Nek Hidayah ke pasar.  Jangan salah sangka dulu.  Sudah lama Nek Hidayah tak masak sayur atau menanak nasi.  Bukan karena malas.  Nek Hidayah memang setiap harinya lebih sering tak punya apa pun untuk dimasak.  Jam 3 siang, Nek Hidayah pergi ke pasar untuk menjumputi lebihan-lebihan apa saja yang hendak dibuang karena tak laku dijual.  Lebih sering memungut apa pun yang ada di tong sampah.  Karena beberap pedagang lebih senang membuang barang dagangan yang tak laku daripada memberikannya pada orang-orang senasib Nek Hidayah.

Tapi jangan tanya pilihan politik.

Keringkihan Nek Hidayah tak sebanding dengan kehendak politiknya.  Nek Hidayah memang punya KTP Jakarta dan punya hak untuk memilih gubernur DKI di putaran kedua nanti.  Dan Nek Hidayah sudah jelas dan terang ingin memilih Ahok seperti pada putaran perama lalu.

"Gak takut, Nek?" tanyaku suatu sore.  Juga saat Nek Hidayah hendak pergi ke pasar untuk memunguti hidupnya yang mungkin tinggal beberapa jengkal lagi. 

Nek Hidayah tersenyum.  Senyum ketulusan seorang yang sudah terlalu mahal untu mengeluh atas kekalahan yang selalu berpihak padanya.  Inilah ketegarannya.  Sudah berkali-kali dia diancam tak akan disolatkan segala, tapi Nek Hidayah tetap memilih Ahok.

"Dosa, Nek," kata Ustad Kamdi.

Wajah Nek Hidayah mengerah mendengar ucapan ustad Kamdi.  Nek Hidayah tahu persis, ustad Kamdilah yang selalu menghabiskan uang dan beras fitrah di musola yang dikelolanya.  Ustad yang selalu merasa bau surga padahal hanya memanfaatkan agama untuk kemewahan hidupnya.

"Kamdi, kamu tak usah ngomongin dosa.  Urus saja dosa-dosamu yang suka nilep zakat!" kata Nek Hidayah ketus.

Ustad Kamdi.  Ustad entah darimana, saya tak pernah tahu.  Kayaknya tak pernah mesantren.  Ada yang bilang, ustad Kamdi belajar agama cuma di medsos.  Kalau masalah agama merasa paling benar.  Mungkin karena belajar agamanya di medsos itulah.

Ustad Kamdi benar-benar tersinggung.  Dia pulang buru-buru.  Dan tak lama kemudian, saya dengan Nek Hidayah tertcebur ke kali.  Mungkin ada orang yang menumpahkan oli di jembatan penyebrangan kecil yang ada dekat pasar yang setiap sore dilalui Nek Hidayah.  

Lalu, jenazah Nek Hidayah pun tak ada yang menyolatkannya.  Ustad Kamdi tak mau menyolati.  Dan orang-orang sudah diancamnya berkali-kali.

Nek Hidayah memang pernah bicara sama saya, kalau dia tak mau berharap sorga.  Nek Hidayah hanya ingin ada orang baik yang bisa memimpin Jakarta.