Ken Zahro
Ken Zahro

FITK'14 UIN MALIKI MALANG "Selalu hadapi segala kenyataan yang ada didepan mata"

Selanjutnya

Tutup

Tak Kenal Kata Patah Semangat dari Owner Cantik

12 Mei 2017   16:09 Diperbarui: 12 Mei 2017   16:21 26 1 0
Tak Kenal Kata Patah Semangat dari Owner Cantik
pressreader.com

Martalinda Basuki sosok gadis cantik berjilbab yang telah menjadi wirausaha muda. Di usianya yang muda tersebut ia sudah memperoleh juara II sebagai Wirausaha Muda Mandiri kategori Boga yang diselenggarakan Bank Mandiri pada tahun 2015, selain itu ia juga pernah menjadi Binaan Bank Indonesia dalam program Wirausaha Baru Bank Indonesia tahun 2012. 

Dengan tekat dan semangat gadis cantik itu memberanikan diri untuk memulai bisnis dengan berbisnis kuliner. Berawal dari kerelaannya menjual sepeda motor,laptop dan meminjam uang ke saudara, dia memulainya dengan membuka Cafe di daerah Kampung Inggris Pare Kediri. Cafe yang ia rintis tersebut diberi nama cafe Klasik, disana ia menawarkan berbagai menu andalan original recipes by Klasik seperti aneka menu minuman olahan soda,susu, kopi, dan coklat. Tetapi tidak genap setahun bisnis tersebut gulung tikar. 

Pasang surut telah ia lewati pada bisnisnya di kota Kediri tersebut. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat gadis berjilbab tersebut untuk berbisnis kembali. Karena gadis cantik itu seorang mahasiswa aktif FIA Universitas Brawijaya Malang kala itu, ia memulai kembali bisnisnya di kota ia study. Dikota tersebut, tepatnya di tahun 2012 ia memulai kembali bisnisnya dengan membuka outlet atau gerai minuman cepat saji coklat. Dia memilih bahan dasar coklat karena dia berkeinginan untuk menduniakan coklat Indonesia. Tegasnya kenapa tidak menduniakan coklat Indonesia, padahal Indonesia adalah salah satu negara produksi kakao terbesar di dunia. Sehingga bisnis wara laba terebut ia namai “Coklat Klasik”, dimana nama tersebut sesuai denganbahan utama yang digunakannya, sedangkan kata Klasik berasal dari akronim KafeLala Asik.

Pada bulan pertama ia hanya membuka dua gerai atau outlet coklat klasik yang berada di daerah MT Haryono dan Watu Gong. Pada outlet tersebut didesain sedemikian rupa dengan lampu kerlap kerlip untuk menarik perhatian para pejalan raya. Awal ia berjualan sedikit membuatnya kecewa karena dari pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB hanya terjual 2 gelas. Tetapi gadis kelahiran Jayaputa tersebut tetap semangat dan optimis dengan usahanya. Salah satu bentuk untuk mengenalkan dan memasarkan minuman cepat saji coklat, sang owner manis itu mengikuti berbagai bazar dan event-event yang ada di daerah Malang. Masyarakat pun mulai mengenal dan dapat menerimanya dengan terbukti dagangan coklat tersebut laris manis terjual.

Semakin hari mulai ramai outlet yang ia dirikan tersebut, sehingga semakin berkembang pula bisnis yang ia lakoninya. Beberapa bulan kemudian Lala sudah mampu untuk membuka cabang gedai atau outlet coklat klasik di beberapa tempat. Pada tahun 2013 ia semakin beriktiar dan mengikuti berbagai event yang ada bahkan ia mengatakan wajib untuk mengikuti event yang ada tersebut, selain itu dia juga semakin mematangkan bisnisnya mulai dari konsep, sistem dan publikasi. Publikasi yang digunakan mulai dari mengikuti event, kemudian melalui koran, majalah, dan sosial media.

Dengan semakin berkembangnya bisnis cepat saji tersebut, kini coklat klasik sudah memiliki pabrik produksi dan kantor distribusi. Dimana pabrik produksi digunakan untuk mengemas dalam bentuk packaging sesuai dengan varian rasa masing-masing, sehingga pada setiap cabang memiliki kesamaan rasa. Dalam sehari pabrik produksi dapat memproduksi puluhan ribu bungkus varian rasa olahan coklat. Bentuk varian rasa yang kini dimiliki sudah semakin bertambah dari tahun lalu yang hanya 14 varian rasa kini telah bertambah menjadi 19 varian rasa.

Tak pernah berhenti untuk berusaha dan bekerja keras itulah sosok Lala sang owner cantik. Dia berkeinginan untuk melebarkan sayap bisnisnya di luar kota dengan konsep waralaba, dengan konsep tersebut bisnis kemitraan tersebut semakin berkembang secara signifikan. Bahkan saat ini tahun 2017 sudah mencapai 295 outlet atau gerai yang dimilikinya, dengan tersebar dikota-kota Indonesia mulai dari Batam hingga Merauke. Meskipun target pasar coklat klasik sejatinya mahasiswa dan pelajar, tetapi tidak sedikit anak-anak dan manula gemar mengkonsumsinya.

Saat ini bukan hanya gerai atau outlet yang dapat kita kunjungi, kini coklat klasik memiliki sebuah cafe yang lokasinya tak jauh dari Kota Pendidikan Malang. Cafe tersebut berkonsep garden dan outdoor, dengan suasana yang segar tentunya dengan menikmati hot/ice chocolate semakin menjadi nyaman. Dilengkapi pula dengan lampu-lampu yang berkerlap kerlip dan heritage-heritage kayu semakin menambah cafe tersebut bernuansa klasik. Salah satu bentuk semakin banyaknya pelanggan yang mengunjungi cafe tersebut yaitu bentuk pelayanan yang dilakukan di cafe cukuplah baik, awal masuk kita sudah disambut oleh karyawan dengan senyuman manis dan menawarkan berbagai menu yang telah disediakan, mulai dari minuman, snack,ataupun makanan. Selain pelayanan yang baik, cafe tersebut juga menyediakan kamar mandi, musholla tentunya fasilitas free Wifi. Bukan hanya di cafe yangmemberikan pelayanan secara baik, di outlet-outlet pun juga selalu ramah dalam melayani pelanggannya.

Selain itu untuk mempertahankan kualitas coklat yang ada dari persaingan kompetitor, pihak owner dan tim secara langsung selalu berusaha untuk mempertahankan cita rasa yang ada dan mempertahankan bentuk pemasaran yang digunakan dan tak lupa selalu memberikan suatu bentuk olahan coklat yang bervariasi.

Begitu banyaknya outlet atau gerai yang kini telah dimiliki, kemudian pabrik produksi dan cafe yang ada, maka dapat diketahui bahwa telah mengurangi pula jumlah pengangguran. Terbukti bahwasannya di coklat klasik sendiri sudah memperkerjakan kurang lebih sekitar 400 karyawan, yang terbagi di berbagai outlet, cafe dan pabrik produksi.