Gus Noy
Gus Noy Arsitek

Buku-buku arsitek kelahiran Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, ini antara lain kumpulan kartun hitam-putih "Potret Diri Oji" (2017, ISBN : 978-602-98452-7-3), kumpulan esai "Siapa Mengontrol Siapa" (2016, ISBN : 978-602-98452-6-6), dan kumpulan puisi "Napak Tilas" (2016, ISBN : 978-602-98452-4-2). Alamat surel : sayagusnoy@yahoo.com.

Selanjutnya

Tutup

Keluarga Paling Bising Sedunia

17 Juni 2017   17:07 Diperbarui: 17 Juni 2017   20:16 533 0 0
Keluarga Paling Bising Sedunia
karya gus noy

Satu-satunya yang selalu mengganggu kenikmatan saya ketika asyik menulis atau membaca di Panggung Renung adalah kebisingan. Sumbernya berada di sebuah rumah bercat putih kusam banget, yang menghadap jalan setapak selebar 1 m menanjak ke arah jalan aspal di jalan RT tetangga.

“Neneeeek! Mana mainannya?!” teriakan seorang balita.

Nah, apa saya bilang, ‘kan? Saya baru saja mulai membuat kalimat awal untuk sebuah narasi sepanjang satu alinea ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan aroma, teriakannya langsung menerjang pendengaran.

Ah, balita itu kembali tidak bisa mengerti soal suaranya dan suasana malam.

Kalau saya tidak keliru, usianya sekitar dua setengah tahun atau seusia dengan pembangunan Panggung Renung. Saya hafal sekali karena memang ruang berkarya saya adalah Panggung Renung dengan pijakan berupa fondasi umpak dan berkolom kayu ulin, dan posisinya berseberangan dengan rumah tinggal keluarga balita itu.

“Nenek! Mainannya…”

“Mainan ape?!” bentak neneknya.

Nada neneknya pun tidak mau kalah lantang. Menggelegar, dan memantul dari tebing seberang.

Sebuah pertanda buruk, lebih bahaya daripada geledek, pikir saya.

“Mainan…”

Kagak tau!”

Seterusnya hanya kebisingan antara seorang nenek bernama Zaenab dan cucunya menjelang senja Sabtu beringsut di balik tebing barat, yang menghadap sebuah bangunan ibadah. Kebisingan semacam itu bisa dimulai sejak dini hari, muncul lagi pada jam sarapan, lalu menjelang tengah hari, dan ketika si balita menolak untuk mandi sore. Kalau diam, kemungkinan ia tengah tidur, atau memang sedang tidak berada di rumah.

Sementara mendadak saya kehilangan kata-kata, dan gagal membuat narasi maupun dialog yang pas. Saya teringat lagi, sebelum balita itu lincah bicara, seorang kakaknya–sudah masuk TK–pun menjadi sumber kebisingan di sana, membuyarkan konsentrasi saya tetapi entah ke mana sejak satu tahun ini. Cukup berduet dengan neneknya, suasana keseharian akan dijejali suara bising keduanya.

***

Hujan deras hanya sebentar pada gerbang malam Minggu. Cuaca akhir-akhir ini memang mirip para ABG alias anomalis bin galauis karena musim penghujan telah mengingkari kodratnya. Senja yang cerah bisa mendadak diserbu mendung lantas hujan deras tidak terbendung.

Barangkali secangkir kopi hitam dapat memicu perjalanan imajinasi untuk meneruskan cerita. Malam ini saya tidak perlu menghidupkan obat nyamuk bakar sebab suasana dingin selepas hujan deras selalu menghalau pasukan nyamuk keluar dari persembunyian.

Sahutan-sahutan sekelompok kodok seakan ucapan puji-syukur kepada langit. Diiringi gemericik air dari aliran parit yang selalu bening–entah kenapa. Tidak jarang gongongan beberapa anjing yang melengking-lengking dari balik rumah-rumah, yang memantul di tebing-tebing, bisa memeriahkan suasana.

Pukul 20.30 sebagaimana tertera pada layar komputer jinjing. Udara basah memenuhi ruangan Panggung Renung yang berdinding papan tidak rapat, berjendela sana-sini, dan berlantai papan pun tidak rapat.

Saya menyeruput kopi dengan suasana hati yang paling serasi. Sesekali juga mensyukuri hidup karena memiliki ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi di Panggung Renung. Kalau perlu, radio bergelombang FM dengan lagu-lagu Barat lama akan mengudara tanpa perlu saya ganti.

Panggung Renung merupakan tempat berkarya bagi saya ketika berada di rumah, tepatnya di belakang rumah induk permanen. Awalnya hanya berupa gudang berdinding seng berkarat, berisi kayu-kayu jelek, seng bekas, dan barang-barang bekas lainnya, termasuk kotoran sepasang anjing kami. Baru dua tahun saya meremajakannya kembali menjadi tiga fungsi sekaligus. Gudang, perpustakaan pribadi, dan ruang berkarya.

Inilah tempat yang menjadi bagian terpenting dalam keseharian saya. Dalam suasana malam yang tidak terasa sedang berada di tengah Kota Balikpapan, saya selalu menghabiskan sinar bulan sampai ke ampas-ampasnya, walaupun kopi selalu berhasil didinginkan oleh udara malam apalagi basah selepas hujan tadi.

“Woi, Demun! Jadi, nggak?! Cuacanya mendukung banget nih!” Sebuah teriakan seorang pria dari arah seberang alias di depan teras rumah keluarga paling bising sedunia itu.

“Ya, sebentar, Om Odang. Duduklah di situ!” sahut seorang pria dari dalam rumah. “Sendiriankah?”

“Sendiri saja. Malas bawa kawan-kawan. Maunya enak sendiri, nggak mau keluar uang!”

Suara keduanya memantul-mantul hingga menembus dinding Panggung Renung. Dalam hati saya memaki karena sedang mendapat jalan cerita yang lempang tetapi tiba-tiba seolah diterabas lintasan kereta api yang tidak jelas asal-muasalnya. Mau-tidak mau suara mereka mulai mengganggu konsentrasi saya.

Suara keduanya berhenti sejenak ketika pintu depan rumah itu berderit. Disusul lagi suara kedua pria tadi. Tidak terlalu jelas.

Saya mencoba untuk mengingat jalannya cerita. Bagi saya, menikmati suasana dalam Panggung Renung dengan berkarya jauh lebih penting daripada rasa ingin tahu yang percuma.

Dung! Dung! Dung! Dang! Ding! Dung!

Astaga! Apa lagi, sih?

Ya, astaga, suara musik berisik tiba-tiba menghantam pendengaran. Dada saya pun berdebar-debar akibat irama dan tingginya nada dari dua kotak pengeras suara mereka. Saya merasa gerah perlahan-lahan menghasut kondisi kulit.

Menurut hitungan saya, malam Minggu semacam ini bukanlah pertama kali sejak saya mulai mengaktifkan Panggung Renung. Memang, kebisingan musik mereka paling menjengkelkan adalah menjelang malam Tahun Baru silam. Tetapi, tentunya, parade letusan petasan hingga ledakan kembang api menjadikan kebisingan musik mereka agak tergoyahkan.

Tapi malam ini bukan malam Tahun Baru. Hanya malam Minggu biasa. Mengapa lagi-lagi mereka membisingkan suasana tenang? Anehnya, mengapa pula tetangga kanan-kiri mereka tidak pernah protes, ya?

Saya bangkit dari kursi plastik, menuju pintu di sebelah meja kerja, membuka, dan berdiri di beranda Panggung Renung yang luasnya 1 m x 4 m. Saya tengok teras rumah itu. Tidak ada penerangan karena selalu digelapkan. Hanya satu titik lampu biru dari kotak bising mereka.

Suara musik berdentam-dentum ditimpali obrolan dua pria bernada tinggi. Seorang di antaranya adalah ayah si balita atau juga menantu si nenek. Entah di mana cucu dan nenek tadi. Mungkin sudah terkapar dalam kamar terbuai dentuman pengeras suara.

Sempat saya lirik ruang keluarga mereka hanya diterangi sinar dari televisi yang menempel di dinding. Memang jarang sekali mereka menyalakan lampu agar penerangan bisa mengurangi suasana gelap di area belakang rumah-rumah yang berseberangan dan menghadap jalan aspal masing-masing.

“Apa lihat-lihat!” teriak seorang pria, yang pasti adalah tamu mereka bernama Om Odang.

“Psss! Pssst!” Seperti suara kode kawannya alias menantu si nenek atau juga ayahnya balita itu. Seketika suara pria itu berganti paraunya mengikuti syair lagu dangdut koplo dengan irama musik dang-ding-dung.

Saya tidak bisa melihat bagaimana wujud rupa mukanya karena di sana benar-benar gelap. Hanya setitik lampu biru, dan dua titik nyala rokok. Padahal saya ingin sekali melihat muka orang yang tiba-tiba menyalak “apa lihat-lihat” tadi, meskipun, saya yakin, bukan dari pria yang menjadi menantu si nenek atau juga ayah si balita. Untuk apa kalau saya bisa melihat rupa orang itu?

***

Nyaris dua jam saya duduk di kursi rotan yang menjadi satu-satunya tempat duduk di beranda Panggung Renung. Kulit kacang kering berserakan di lantai papan beranda. Sepasang anjing kami–penjaga khusus area belakang rumah–tetap hening di kolong panggung apabila saya sedang berada di situ.

Baru saja kebisingan kedua pria dan musik tadi reda. Suasana mulai kembali ke keheningan aslinya, kecuali suara hewan malam yang akan begadang sampai menyambut semburat fajar. Malam Minggu sebentar lagi akan sampai ke puncak langit Kota Beruang Madu.

Saya masuk kembali, dan duduk di hadapan komputer jinjing yang sedari tadi menunggu sentuhan. Pukul 23.15. Sekilas saya teringat kulit kacang berserakan tetapi tidak saya gubris. Saya pikir, nanti saja saya bersihkan, kalau sudah rampung menulis.

“Aku nggak mau guling ini!”

“Lho, lu sendiri tadi nyang pake!”

Seketika saya memaki sendiri di Panggung Renung. Kebisingan cucu-nenek bersahutan, dan membuyarkan perjalanan imajinasi saya.

“Mau gulingku, Nek!”

“Nih, ambil! Guling pesing aje, diributin!”

“Nenek jangan di situ.”

Ape lagi?!”

“Nenek di sini. Sebelah sini!”

“Ah, tidur, tidur aje! Kagak perlu berisik!”

“Ng-ng-ng… Nenek jangan di situ! Nenek!”

Apaan, sih?! Berisik, tau?!”

Rengekan, tangisan, dan bentakan segera memenuhi keheningan malam. Gambaran mengenai jalan cerita karangan saya berganti dengan bayangan saya tentang apa yang dilakukan oleh cucu dan neneknya itu. Meski sekadar bayangan, yang bisa jadi justru meleset, tetaplah menyingkirkan gambaran saya tentang tulisan cerita. Sangat keterlaluan memang. 

Saya pun beranjak, dan bergegas ke dalam rumah induk dengan diiringi kebisingan cucu-nenek itu. Saya mau menonton televisi saja sambil menunggu kunjungan kantuk karena besok pagi ada kegiatan kerja bakti di wilayah RT kami. Di sana, besok, saya akan membahas soal kebisingan dan persoalan “apa lihat-lihat” itu dengan ketua RT kami.

Memang, mengenai kebisingan itu, saya pernah menyampaikannya kepada ketua RT. Tetapi, kata ketua RT, persoalan itu pun harus dibicarakan juga dengan ketua RT-nya si keluarga paling bising sedunia tadi.

***

Langit Minggu sudah dilewati semangkuk bulan buram di atas Selat Makassar. Saya buka pintu di samping meja kerja, yang menghubungkan ruang dalam dan beranda Panggung Renung karena udara terasa gerah akibat mendung semakin parah yang terlihat dari pantulan api Pertamina sana.

Saya baru bangun tidur setelah kecapaian mengikuti kerja bakti dari pagi sampai menjelang tengah hari. Dan setelah mandi serta makan malam, saya ingin mulai melanjutkan cerita tetapi suasana harus sekondusif mungkin.

Perlahan udara sejuk menerpa. Keheningan sekitar Panggung Renung tidak berbeda dengan keheningan sebuah kawasan pemakaman umum. Beberapa lampu rumah menyala tetapi sama sekali tidak terdengar suara manusia, minimal obrolan sebuah keluarga.

Lalu saya duduk di kursi plastik yang menghadap meja kerja. Tidak lupa, tentunya, secangkir kopi hitam.

Semoga suasana benar-benar kondusif sehingga cerita bisa kelar malam ini, pikir saya.

Ada sedikit kelegaan karena persoalan kebisingan telah saya bicarakan dengan ketua RT. Tinggal bagaimana nanti tindakan selanjutnya, saya diminta sabar menunggu kabar dari ketua RT kami.

Saya buka layar komputer jinjing, dan mencari lumbung cerita yang sebagian besar masih sebatas rekaman gagasan berupa dua-tiga kata. Cerita yang terpenggal-penggal harus saya olah-kelola agar tepat susunannya, dan kelar untuk sementara.

Ya, saya harus segera merampungkan cerita karena besok Senin sore harus saya kirim ke sebuah lomba karena Selasa pagi saya diutus Ketua RT menghadiri acara pembekalan Lomba Bersih-Hijau-Sehat tingkat Kotamadya Balikpapan setelah RT kami meraih juara ketiga di tingkat Kecamatan Balikpapan Tengah. Saya ditunjuk menjadi sekretaris oleh Ketua RT dalam susunan peserta lomba yang kami ikuti. “Supaya Bang Oji turut merasakan bagaimana mengelola RT,” begitu alasan Ketua RT.

“Nenek, mau ke mana?!” teriak balita dari rumah itu secara tiba-tiba.

“Ah, mau tau aje! Tidur sono!” bentak neneknya dengan suara nyaring.

Aduh, belum juga saya mulai menulis, sudah didului oleh suara nyaring mereka. Mendadak saya kehilangan jalan cerita lagi.

“Nggak mau! Mau ikut nenek!” Semakin melengking teriaknya. Lalu balita itu menangis dengan suara nyaring.

“Eh, bocah, tidur sono lu! Tuh, emak lu udeh pules ama adik lu!”

“Nggak mau! Mau ikut nenek! Nenek mau ke mana?! Ikuuuut, Nek! Neeeek!”

“Orang mau ke wece, mau ikut juge! Bocah kagak ngarti ape-ape, nyolot aje bisanye!”

Balita itu telanjur menangis meraung-raung, disahuti hardikan keras neneknya, dan suara cucu-nenek memantul-mantul ke segala permukaan bidang benda di sekitar Panggung Renung. Tak ayal kebisingan merampas suasana hening malam yang khusyuk.

Brak!

Suara seng tertimpa sebongkah batu. Entah dari mana dan ulah siapa karena kegelapan sangat rapat di sekitar situ. Saya terkejut.

“Hei! Bangsat bajingan lu!” teriak si nenek. “Sini, kalo lu berani! Gue hajar kepale lu!”

Saya bergegas ke beranda untuk melihat, siapa yang telah terlibat dalam kebisingan keluarga paling bising sedunia itu. Di beranda arah mata saya segera tertuju ke segala penjuru, yang, tentunya, masih terjangkau oleh daya penglihatan.

Sayangnya saya tidak mendapati bayangan siapa-siapa. Tidak ada gelagat apa pun yang patut saya curigai. Hanya dedaun pisang melambai-lambai ditiup angin, dan sedikit terkena pantulan lampu dari rumah-rumah di atas rumah keluarga paling bising sedunia itu. Juga, kedua anjing kami sama sekali tidak bereaksi.

Lampu ruang keluarga dan teras rumah itu tiba-tiba menyala. Derap langkah para penghuninya ikut menyerbu pendengaran saya.

“Neneeek! Ikuuut!”

Diem lu, bocah!”

“Nggak mauuuu!”

Kagak! Lu di dalem aje ame emak lu,” bentak neneknya. “Kagak ngarti orang tue mau bikin perhitungan ame biang bangsat itu!”

Pintu depan terkuak. Si nenek keluar sambil berteriak dan memaki. Kemudian memutari pagar kayu terasnya dengan celingukan ke sana-sini.

Tidak lama menantunya keluar sambil menggenggam sebilah parang. Dia bergegas turun lantai teras, dan berjalan cepat ke jalan setapak di depan teras, lalu beralih ke jalan setapak sebelah rumah mereka.

Wah, bakal seru nih, pikir saya.

Tetap tidak ada apa-apa atau siapa yang mereka temukan. Dari beranda Panggung Renung saya pun tidak melihat siapa-siapa. Remang pantulan lampu-lampu tidak mampu mengungkap adanya sosok siapa yang patut saya curigai sebagai ‘pemancing di air keruh’.

“Brengsek! Mane pengecut itu! Lu jual, gue beli deh!”

“Nggak kelihatan dan kedengaran. Siapa, ya, yang cari mampus?” sahut menantunya dengan tetap menghunuskan parang.

Mereka pun berhenti. Si nenek berdiri di pagar kayu teras, dan menantunya berdiri di samping teras. Lantas keduanya mendangak ke setiap bagian di atas dan samping sana-sini.

Terakhir muka mereka menghadap ke Panggung Renung, dimana saya tengah berdiri di beranda.


*******

Panggung Renung Balikpapan, 2017