Gayoku
Gayoku Petani

"Kalau pun esok tetap saja suram, gigih lah menyulut lentera. Yakinlah nasib baik sedang mengintai, karena lusa yang cerah pasti ‘kan menyapa.” email : anakgayo91@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Ibu Ingin Istirahat

21 April 2017   23:51 Diperbarui: 22 April 2017   01:14 315 12 3

Wanto tak bisa lagi berkata-kata. Saat ibunya mengatakan ingin istirahat.

“Ibu sudah capek. Dari dulu, melulu ngurusi kamu dan adik-adikmu.”

Pagi itu, hatinya sungguh cukup tertampar dengan pernyataan ibunya. Suasana dingin yang diberi embun tersudutkan. Pukulan kata-kata ibunya berdaya kuat menghembus keademan udara pagi. Tohokan dari mulut yang kadang ia kangenin serempetannya—kadang ia undang sendiri—kini benar-benar membuatnya meriang.

Untungnya kecerahan pagi itu sedikit memberi hiburan. Cahaya yang dihempaskan Mentari dari langit cukup terang. Meski ada awan hitam di ufuk timur, tapi bulir-bulir cahaya kuasa menembus. Hingga kehadiran awan hitam itu menjadi dekorasi agung untuk keindahan pagi. Wanto coba mengelak.

“Ibu kan masih kuat,” Ia memulai. Ibunya masih mengaduk-ngaduk isi Wajan diatas tungku. “Liat aja, nasi goreng buatan ibu belum tertandingi.” Godanya.

Ibunya terus serius memainkan sendok. Sambil mengamati titik kesempurnaan masakannya. Ia tau, elakan putra sulungnya bukan badai besar yang mencengahnya istirahat. Harapannya masih terbuka.

“Ibu sudah malas membangunkanmu tiap pagi.”

“Ya, gak usah Bu. Eh, bukan pagi lo Bu, tapi subuh.”

“Ibu sudah malas mencuci bajumu.”

“Aku bisa cuci sendiri, Bu.”

“Ibu sudah malas memasak untukmu.”

“Ya, tenang aja. Aku bisa makan di warung sebelah, Bu.”

Ibunya menatapnya tajam. Kesal dengan jawabannya. Ia balas menatap tak kalah tajam, ngajak berantem: biasa, bercanda. Ibunya mengacungkan sendok. Keributan terhenti. Karena Wanto lari terbirit sambil ngikik.

***

Rupanya keinginan Ibunya untuk istirahat bersifat nyata. Hal itu baru sepenuhnya ia percayai saat adik perempuan Bapaknya—yang ia panggil Bibik*—dan suami bibiknya—yang ia panggil Kail**—digunakan orang tuanya sebagai ujung lidah.

“Bukan hanya Ibumu Wan, tapi bapakmu juga bermaksud.”

“Hah?! Bik, tolong jangan becanda berlebihan.”

Bagi wanto jelas posisinya semakin genting. Karena bukan hanya Ibunya yang menjadi lawan, melainkan bapaknya ikut serta. Sokongan lelaki yang sangat ia segani itu, bahkan saat diam, membuatnya semakin mati kutu.

“Jangan takut Wan. Kailmu siap bantu jurus.” Kailnya yang biasa guyonan dengannya memberi semangat.

“Ya. Urusan lain sok bijaksana. Giliran beginian, gemetar sampai ujung rambutnya.” Tambah bibiknya.

Walau saat mendengar bibiknya menyampaikan keseriusan orang tuanya, hatinya sudah kecut. Kini, meski kail dan bibik memberi dukungan padanya untuk maju, tetap saja ia tambah gerogi. Suaranya yang terang benderang tiba-tiba jadi gagap. Biasanya ia penguasa debat, seketika ia seolah sedang kebelet jika hendak membantah. Jelas tertangkap ia merasa serba salah.

“Ah! Gak gentle kamu.” Lidek bibiknya dengan gaya kekinian. Menurut keterangan Kalinya, memang bibiknya berlevel darurat sebagi korban sinetron.

Bumi memang sudah jengah menahan gersang. Tanahnya cukup lama menahan kering. Sebagian yang jadi debu menjadi tanda kalau bumi telah mengundang hujan menyirami. Namun, apa daya. Bumi hanya bisa berusaha dan berdo’a, menggoda. Hujanlah pemegang kendali mutlak: mau atau tidak menurunkan bulir-bulirnya untuk bersenggama dengan bumi, yang menurut pengamat telah melangkah menuju tandus—tanaman tertentu saja yang mau tumbuh diatasnya.

Karena ibunya sungguh ngotot ingin istirahat, ia pusing tujuh keliling. Apalagi kabar itu telah sampai pada neneknya. Gawat. Neneknya pasti ingin lebih cepat. Baru-baru ini tidak ada percakapan lain dengan neneknya. Melulu itu yang disinggung. Untungnya kakeknya tetap berposisi kontra neneknya. Jika itu terjadi, wanto tinggal menjadi wasit. Terkadang wanto ragu pasangan beruban itu telah bersatu lebih setangah abad. Ribut terus soalnya—walau tak ada piring terbang sih.

“Bukan gak mau Bik.” Sambil memikirkan bunga-bunga yang pernah ia pandang di taman. “Tapi, siapa Bik? Siapa?”

“Makanya gaul dong.” Masih ngeledek. “Kamu tenang saja. Ibumu sudah punya calon.” Lanjutnya dengan muka seolah dapat diskon 99% di supermarket. Kailnya mengangguk, tanda mengamini.

“Siapa Bik?”

“Coba tebak.” Kailnya menambah penasaran.

“Pingin, tau? Udah gak sabar?” Menggoda. “Jubaidah, Wan. Jubaidah.”

Wanto kaget. Kenapa Jubaidah? Tanyanya dalam hati. Iya memang gadis sebayanya itu kembang desa yang megah. Kumbang-kumbang desa hampir bisa dinyatakan semua telah meyambar penuh pesona. Apalagi lajang kopian dirinya—berkarat. Kabarnya yang mencoba datang ditepis mentah-mentah begitu saja.

“Emang Ibu kepala Puskesmas, apa?” Meski gak berharap, ia gak percaya.

“Aduh. Gak nyangka ya?! Asal kau tau, selama di rantau bapaknya dan bapakmu jadi teman dekat. Karena itu ibunya dan ibumu ikut dekat juga. Jadi,”Bibiknya berhenti sambil melirik suaminya. “Kalian dijodohkan. Begitu.” Terangnya.

“Hahaha.” Wanto tertawa sinis mendengar keterangan bibiknya.

“Kenapa ketawa?”

Jelas ia tidak mau dengan Jubaidah. Seharusnya memang ia menulis dengan tinta emas “Jubaidah” dalam daftar pilihan. Walau pun ia masih bingung ketika itu, setelah SMA ia baru tau kalau ia cinta sama Jubaidah bermula saat kelas tiga SMP.

Ia telah mengubur semua itu. Tepatnya sepuluh taun yang lalu. Ketika itu ia berusaha menggali perigi. Niatnya tak lain untuk memudahkan kehidupan yang akan datang. Tapi, bapaknya memandangnya rendah. Mengata-ngatinya dengan kasar. Jubaidah? Ah, ia bahkan sama sekali tidak berusaha menjernihkan. Melainkan ia menyiram perigi dengan tinta kebencian.

Lantas, sekarang apa ia harus menerima? Waktu memang penawar. Tapi, sejinak-jinaknya anjing, karena sifat kebinatangan telah tertanam sejak lahir, siapa yang bisa menjamin di kemudian hari tidak akan menyalak atau menggigit pada tuannya? Sehingga wanto, sejak itu telah membuang harap.

“Bik, sampaikan pada Ibu. Wanto akan cari sendiri peran pengganti Ibu?”

***

............

“Bagaimana saksi? Sah?”

“Sah!”

Wanto telah menemukan pengganti. Ibunya pun puas menerima pengganti perannya. Senyum simpul yang diiringi lelehan air mata bahagia sebagai buktinya.

“Kenapa pilih Guru TK dari pada Perawat?”

Setelah menuntun sungkeman pada orang tua yang hadir dalam akad nikahnya, Kailnya berbisik. Jiwa kelelakian Wanto ia pertanyakan. Jelas di pandangannya, Jubaidah lebih ‘Wah’ dari pada Maimunah.

“Kalau Perawat salalu berkata ‘Sabar! Sabar!’. Kalau guru selalu sabar mengajari dan tidak bosan mengajak mengulangi pelajaran kemaren.”

Dalam langkah yang diatur sehormat mungkin menuju pelaminan wanto tersenyum puas, sedangkan Kailnya terkekeh mendengar penjelasannya.

Pesta meriah pun berlangsung. Setelah pesta—sehari, seminggu, sebulan atau setahun—benarkah ibunya Wanto akan istirahat? Ah, mari nantikan cerita selanjutnya.

Gayo Lues, 2017

cerpen lainnya: Keranda baru