HEADLINE HIGHLIGHT

Saat Membicarakan Kondom Menjadi (Tidak) Tabu

23 Juni 2012 18:02:58 Dibaca :
Saat Membicarakan Kondom Menjadi (Tidak) Tabu
Mesin automat kondom di salah satu dormitory mahasiswa (Berlin)

Siang itu sehabis kuliah, saat tram (kereta dalam kota) cukup banyak penumpang. Tiba-tiba (hampir) semua mata dalam satu gerbong itu mengarah pada benda kecil berbungkus plastik kecil yang terjatuh dari sebuah kotak pensil wanita berambut pirang. Ada yang tersenyum geli, ada yang tersenyum ditahan, ada juga yang melengkungkan alis seolah tidak setuju dengan careless nya si wanita, namun lebih banyak yang cuek saja. Sementara teman saya yang berasal dari Rusia sebut saja Akeila, mencoba menarik tangan saya seraya memberi isyarat lewat tatapan mata yang diarahkan pada benda itu.

Kondom.

Ya, satu buah kondom jatuh dari kotak pensil mahasiswi di depan kami ketika ada pemeriksaan tiket di kereta siang itu. Dan ekspresi si wanita yang rambutnya dikuncir ekor kuda itu? Pipinya merah padam menahan malu.

***

Kejadian di kereta membuat kami menertawakan pengalaman pertama saya saat melamar salah satu asuransi pemerintah Jerman. Dimana, saat itu saya menerima bingkisan kecil dari asuransi, dan salah satunya adalah kondom. Saya sempat tanyakan Akeila, kenapa dikasi kondom dan mau diapain, dia pun terkekeh-kekeh sambil berkata "Kamu sudah dewasa. Kalau kamu gak mau, sini, buat aku saja!"

Sebagai orang timur yang masih "menabukan" suatu pandangan tertentu, jangankan mencari tau isi bungkusan seperti itu sebelumnya, memegang pun merasa enggan dan janggal. Dan saya masih memiliki pemahaman yang sama, bahwa para wanita Indonesia yang belum menikah (kecuali profesi dibidang medis) akan memiliki pemikiran searah.

***

Cerita kondom mengingatkan saya pada masa kuliah master di awal-awal semester. Saat itu, saya cukup dekat dengan teman-teman wanita. Disamping mengerjakan tugas bersama, kami sering jalan bareng atau ngumpul di flat-ku. Dan namanya juga wanita, walaupun sudah berdiskusi panjang lebar dan kemana-mana, pasti akan bermuara pada masalah seputar wanita dan kecantikan. Termasuk bercerita tentang pasangan atau sekedar seseorang yang ditaksir (belum ada yang menikah dari kami saat itu).

Saya masih ingat, bagaimana salah seorang dari ibunya teman mengingatkan sang anak untuk selalu membawa kondom setiap kali (laporan) mau ke party atau disko. Saya juga ingat bagaimana mereka bercerita tentang pengalaman pertama kali "tidur" dengan pacarnya, saya juga ingat bagaimana ekspresi mereka ketika saya bilang, bahwa saya belum pernah pacaran, yang kemudian ditimpali pertanyaan, "...tapi sudah pernah tidur  sama pria, kan?" Saya dan satu teman dari Cina, sama-sama menggeleng. Ya, buat mereka, adalah sesuatu hal yang tidak biasa (bahkan aneh) di umur seperti kami mengaku hal demikian.

Pada awalnya sedikit ada argumen, namun mendengar penjelasan saya bahwa wanita Indonesia pada umumnya hanya akan tidur dengan pasangan resmi setelah pernikahan, mereka pun bisa memahami dan menganggap itu sesuatu hal yang unik/istimewa. Walau kemudian saya tak lupa menambahkan, memilih untuk tidak pacaran seperti saya saat itu, tentu bukan bagian dari pilihan (ataupun adat).

Saya juga ingat, ketika mantan pacar pertama saya, Jerman, cukup tertarik mendengar penjelasan saya yang sejenis, bahwa wanita Indonesia hanya akan tidur dengan pasangan resminya, dalam arti resmi menikah.

Satu pemikiran yang mencerahkan tentang kebebasan orang barat buat saya pribadi, yang dulu katanya, ibarat test drive (tidur bersama pasangan) itu adalah wajar bahkan semasa pacaran, dan menurut saya, itu tidak selamanya benar. Kuncinya ada pada kesepakatan yang menjalani, yang penting ditegaskan dari awal.

Kurang lebih yang saya pahami, bahwa pemikiran "Loe suka, gue suka, ayuk! Kalo loe gak mau, ya sudah!" sangat mereka pegang. Sehingga pada akhirnya, jarang terdengar adanya pihak yang merasa dikorban atau mengorbankan dalam hal terkait, bahkan semisal dijalanan para wanita berpakain minim atau menerawang sekalipun tidak akan menjadi masalah, toh pada akhirnya, jika tidak pernah ada kesepakatan tidak akan terjadi apa-apa, disamping peran hukum juga besar tentunya.

Saya tidak mengatakan bahwa budaya mereka lebih baik. Namun, pemikiran bahwa orang yang sudah dewasa bebas menentukan jalan hidupnya, diharapkan membuat pilihan dengan berhati-hati dan bertanggung jawab, termasuk saat memutuskan perjalanan study, pekerjaan ataupun perihal pasangan, memberi saya pemikiran tersendiri. Sehingga jika teman dekat kita tiba-tiba bercerita tentang apa saja yang baru dilakukan tanpa beban, yang membuat pemikiran ketabuan akan suatu hal kadang terpental, saya bisa paham. Dan saya tidak lagi menjadi banyak bertanya, saat melihat rata-rata asrama mahasiswa di Berlin dan Dresden menyediakan mesin automat, tempat untuk membeli alat "safety" bernama kondom tersebut. Karena, ya, pada umumnya mereka memikirkan dengan matang sebelum membawa pada tindakan. Dan yang terpenting, saat kita tetap bisa membawa diri pada jalan yang kita yakini baik dan tidak menjadi terpengaruh.

1340445780670259905
Letak mesin automat

Penampakan mesin automat kondom di salah satu dormitory mahasiswa di Berlin

1340446145514680807
mesin automat

Lagi-lagi tidak ada maksud mempromosikan gaya hidup kaum muda di negara ini. Hanya, saya ingin sedikit berbagi tentang pandangan mereka tentang "kondom"  (terkait dengan topik ini lagi banyak dibicarakan beberapa hari lalu). Dan satu hal yang kemudian saya pikirkan bahwa penyediaan alat ini buat mereka, tak lebih dari kepedulian pemerintah terhadap generasi muda nya, mungkin sebagai solusi untuk mereka yang sesat? mari kita sebut demikian.  Buat mereka yang belum ingin punya anak, yang tidak ingin menanggung resiko penyakit menakutkan (HIV/AIDS).

Karena, tidak ada orang yang ingin menjalani aborsi, tak ada orang tua yang rela menanggung malu atas tindakan anak yang aborsi lalu meninggalkan sekolah/kuliah, apalagi jika si anak harus menanggung resiko penyakit menakutkan HIV/AIDS. Dan mungkin atas dasar pemikiran-pemikiran tersebut, solusi inilah yang ditawarkan buat yang terlanjur ada dalam lingkaran pergaulan bebas.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, walau semisal menyebutnya sesat, apa lantas mereka tidak layak untuk diberikan solusi? Tampaknya juga tidak, bukan? Kembali lagi dari sisi mana kita  memandang.

Yang pasti, selagi masih bisa, mari kita tetap berada di jalur yang kita yakini baik, bukan hanya untuk diri kita, keluarga, tapi juga untuk orang lain. Membiasakan melakukan sesuatu hal yang baik akan membuat kita jauh lebih menikmati kehidupan. Bukannya ingin mengumbaar, namun saya tidak bisa membayangkan jika saya terlanjur "tidur" dengan mantan pacar saya (yang katanya pergaulan barat itu bebas lalu terikut-ikut didalamnya), karena seperti cerita saya pada tulisan saya sebelumnya, pada akhirnya dia menjadi kakak ipar saya...:-)

***

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari topik hangat beberapa hari ini, (program sosialisasi kondom oleh Menkes) walau tetap tergantung dari sisi mana kita berdiri. Namun, menyalahkan orangtua, pendidikan atau agama semata karena dampak kurang baik dari pergaulan anak muda kita masa kini, tampaknya tidak juga bijak. Mari sama-sama memikirkan solusi terbaik. Dan setidaknya, dengan membekali generasi muda tentang pengetahuan yang lebih baik tentang hal terkait, akan menjauhkan dari segala hal-hal yang tidak kita inginkan kedepan.

1340449252184739875

Denina

/emmanuellykeisa

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Suka musik Klasik ! Mozart - Bach - Antonio Vivaldi - Vanessa Mae ! Penikmat jepretan keren ! Suka koleksi pernak-pernik dan kartu pos !
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?