Mohon tunggu...
Denny Boos
Denny Boos Mohon Tunggu... Administrasi - Profesional

Perempuan asal Tobasa. Menyukai hal-hal sederhana. Senang jalan-jalan, photography, sepedaan, trekking, koleksi kartu pos UNESCO. Yoga Iyengar. Teknik Sipil dan Arsitektur. Senang berdiskusi tentang bangunan tahan gempa. Sekarang ini sedang ikut proyek Terowongan. Tinggal di Berlin.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Saat Membicarakan Kondom Menjadi (Tidak) Tabu

23 Juni 2012   18:02 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:37 2173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_184110" align="aligncenter" width="300" caption="Mesin automat kondom di salah satu dormitory mahasiswa (Berlin)"][/caption]

Siang itu sehabis kuliah, saat tram (kereta dalam kota) cukup banyak penumpang. Tiba-tiba (hampir) semua mata dalam satu gerbong itu mengarah pada benda kecil berbungkus plastik kecil yang terjatuh dari sebuah kotak pensil wanita berambut pirang. Ada yang tersenyum geli, ada yang tersenyum ditahan, ada juga yang melengkungkan alis seolah tidak setuju dengan careless nya si wanita, namun lebih banyak yang cuek saja. Sementara teman saya yang berasal dari Rusia sebut saja Akeila, mencoba menarik tangan saya seraya memberi isyarat lewat tatapan mata yang diarahkan pada benda itu.

Kondom.

Ya, satu buah kondom jatuh dari kotak pensil mahasiswi di depan kami ketika ada pemeriksaan tiket di kereta siang itu. Dan ekspresi si wanita yang rambutnya dikuncir ekor kuda itu? Pipinya merah padam menahan malu.

***

Kejadian di kereta membuat kami menertawakan pengalaman pertama saya saat melamar salah satu asuransi pemerintah Jerman. Dimana, saat itu saya menerima bingkisan kecil dari asuransi, dan salah satunya adalah kondom. Saya sempat tanyakan Akeila, kenapa dikasi kondom dan mau diapain, dia pun terkekeh-kekeh sambil berkata "Kamu sudah dewasa. Kalau kamu gak mau, sini, buat aku saja!"

Sebagai orang timur yang masih "menabukan" suatu pandangan tertentu, jangankan mencari tau isi bungkusan seperti itu sebelumnya, memegang pun merasa enggan dan janggal. Dan saya masih memiliki pemahaman yang sama, bahwa para wanita Indonesia yang belum menikah (kecuali profesi dibidang medis) akan memiliki pemikiran searah.

***

Cerita kondom mengingatkan saya pada masa kuliah master di awal-awal semester. Saat itu, saya cukup dekat dengan teman-teman wanita. Disamping mengerjakan tugas bersama, kami sering jalan bareng atau ngumpul di flat-ku. Dan namanya juga wanita, walaupun sudah berdiskusi panjang lebar dan kemana-mana, pasti akan bermuara pada masalah seputar wanita dan kecantikan. Termasuk bercerita tentang pasangan atau sekedar seseorang yang ditaksir (belum ada yang menikah dari kami saat itu).

Saya masih ingat, bagaimana salah seorang dari ibunya teman mengingatkan sang anak untuk selalu membawa kondom setiap kali (laporan) mau ke party atau disko. Saya juga ingat bagaimana mereka bercerita tentang pengalaman pertama kali "tidur" dengan pacarnya, saya juga ingat bagaimana ekspresi mereka ketika saya bilang, bahwa saya belum pernah pacaran, yang kemudian ditimpali pertanyaan, "...tapi sudah pernah tidur  sama pria, kan?" Saya dan satu teman dari Cina, sama-sama menggeleng. Ya, buat mereka, adalah sesuatu hal yang tidak biasa (bahkan aneh) di umur seperti kami mengaku hal demikian.

Pada awalnya sedikit ada argumen, namun mendengar penjelasan saya bahwa wanita Indonesia pada umumnya hanya akan tidur dengan pasangan resmi setelah pernikahan, mereka pun bisa memahami dan menganggap itu sesuatu hal yang unik/istimewa. Walau kemudian saya tak lupa menambahkan, memilih untuk tidak pacaran seperti saya saat itu, tentu bukan bagian dari pilihan (ataupun adat).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun