Citra Elysabeth
Citra Elysabeth

Aku ingin menjadi burung yang terbang bebas, hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya... Aku tak ingin merasakan cemas karena terkekang di balik sangkar dan sulit untuk keluar... Aku ingin terbang setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya, menuju langit senja yang begitu kurindukan...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Trilogi Hati: Benci

19 Mei 2017   13:31 Diperbarui: 19 Mei 2017   19:51 397 1 0

“Aku pun semakin menyadari bahwa mencoba mencintai sesuatu yang dimulai dengan rasa benci adalah bagian yang tersulit”

Sisa-sisa rasa benci itu masih bisa kurasakan dengan jelas hingga saat ini. Meski sudah ribuan kali aku mencoba untuk menghapusnya, rasa itu seolah enggan untuk benar-benar pergi. Hilang, kembali, pergi, datang, begitu seterusnya, tak ada habis-habisnya.

Rasa benci itu akan makin kuat terasa bila aku bertatapan mata dengannya. Tatapan mata yang membuatku diliputi rasa benci. Tatapan mata yang membuat kebencianku makin tak bisa kukontrol. Tatapan mata milik seorang gadis cantik.

*****

Sepintas tak ada yang salah pada gadis itu. Dia tergolong gadis yang cantik, bahkan secantik rupa ibunya – si kembang desa. Dia juga gadis penurut yang tak banyak menuntut. Tapi, tetap saja aku begitu membencinya. Lebih tepatnya, aku membenci kehadirannya.

Aku tak menutup mata jika berulang kali gadis itu mencoba mengambil hatiku. Dia juga banyak melakukan hal-hal baik untukku. Jelas terlihat jika dia berusaha terlalu keras untuk menyenangkanku. Tapi aku tetap membutakan hatiku, seolah semua yang ia lakukan padaku tak berarti apa-apa.

Semua yang ia perbuat sebenarnya sekadar untuk menarik perhatianku. Bisa kulihat begitu besar keinginannya agar aku mengakui keberadaannya. Begitu besar pula harapannya agar aku ikhlas menerima kehadirannya. Tapi sebagai perempuan yang sudah dibutakan oleh rasa benci, sulit bagiku untuk benar-benar membuka hati menyambutnya.

Sebenarnya, aku tahu apa yang dia inginkan, bahkan aku jauh lebih tau daripada yang orang lain tahu. Meskipun ia tak pernah mengungkapkannya secara verbal, aku dapat menangkap dengan baik keinginan gadis itu hanya dengan menatap matanya. Itulah sebabnya, aku tak pernah suka melihat tatapan matanya. Tatapan mata yang membuatku luluh dan benci di saat yang bersamaan.

*****

Tak sedikit orang terdekatku yang memberiku banyak nasihat. Nasihat-nasihat itu hanya angin lalu bagiku, tak pernah benar-benar aku acuhkan. Sebab, semua nasihat itu seolah memojokkanku, nasihat yang mengharapkanku agar mau menerima gadis itu.

Mereka mungkin saja menganggapku sebagai perempuan yang paling keras kepala. Bahkan, tak sedikit yang menganggapku sebagai perempuan yang jahat. Bisa jadi, kedua orangtuaku juga diam-diam sepemikiran dengan mereka tentangku.

Tapi mereka salah tentangku. Mereka tidak pernah merasakan stress hingga rasanya ingin mati saja. Mereka juga tidak pernah tahu, bila trauma itu kembali datang hanya karena aku melihat tatapan matanya, tatapan mata milik gadis itu. Mereka tidak tahu seberapa besar tersiksanya diriku.

Tatapan matanya mengingatkanku akan banyaknya kebencian di hatiku. Aku benci mengingat dari mana asalnya gadis itu. Aku benci mengingat pernikahanku yang batal karena kehadiran gadis itu. Aku benci mengingat detik-detik ketika pria yang kucintai meninggalkanku, lagi-lagi karena kehadiran gadis itu.

Bukannya aku tidak pernah benar-benar berjuang melawan rasa benci, tidak mencoba berusaha menerima kenyataan, dan sedikit bersahabat dengan keadaan. Aku sudah melakukannya, tapi aku tak bisa. Aku tak sanggup melupakan rasa benci itu.

*****

Suatu pagi, kudapati kedua orangtuaku berjalan dengan panik. Mereka tampak terburu-buru seolah dikejar-kejar oleh waktu. Kulihat juga gadis itu tak sadarkan diri di gendongan ayahku. Entah, ada angin apa, seketika itu juga perasaan khawatir melingkupi perasaanku.

Selama 8 tahun aku mengenal gadis itu, baru kali ini aku merasa tertarik untuk mengetahui keadaannya. Secara diam-diam, aku mengikuti mereka, yang kemungkinan besar menuju rumah sakit. Dalam hati, aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis itu.

*****

Setibanya di rumah sakit, aku disambut dengan wajah kaget dari kedua orangtuaku. Mungkin mereka tidak menyangka kalau aku sepeduli ini pada gadis itu hingga harus repot-repot mengikuti mereka ke rumah sakit.

Setelah menunggu lama dalam kebingungan, tiba-tiba ibuku berjalan perlahan menghampiriku dan mendudukkan diri di sampingku. Bisa kulihat dengan jelas ada kelelahan di wajah ayu ibuku.

“Ren, bisakah kamu mengakhiri semuanya, Nak? Ibu tau ini sulit bagimu, tapi mencobalah sedikit saja. Ibu mohon…” ucapnya dengan lirih.

“Kenapa?” hanya kata itu yang dapat keluar dari bibirku.

Ibu terlihat menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku.

“Sejak lahir, kondisi Pelangi memang tidak baik. Jantung dan paru-parunya bermasalah. ibu yakin kau cukup pintar untuk menganalisis apa penyebabnya. Perlakuanmu padanya selama 8 tahun ini, memperburuk keadaannya.”

Kata-kata ibu menusuk jantungku seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menancap di sana. Rasanya sungguh sakit. Tak bisa kukendalikan, air mataku jatuh membasahi kedua pipiku.

*****

Dengan langkah yang teramat pelan, kakiku berjalan menuju sebuah kamar, tempat gadis itu dirawat. Begitu pintu kubuka, tampak olehku seorang gadis yang berbaring lemah dengan bermacam-macam alat media di tubuh ringkihnya.

Ini adalah kali pertama, aku berada dengan jarak yang begitu dekat dengannya. Dari jarak sedekat ini, aku dapat mengamatinya dengan baik. Bisa kulihat, hidung, bibir, bahkan dagunya benar-benar mirip, hanya matanya saja yang berbeda denganku.

Meski diliputi keraguan, kucoba meraih tangannya yang terbebas dari selang infus. Kugenggam erat tangannya, dapat kurasakan tangannya begitu dingin.

“Maaf, maafkan aku” ucapku dengan lirih.

“Aku bukan ibu yang baik bahkan aku tidak berani menyebut diri dengan sebagai ibu. Aku ibu terburuk di dunia. Maaf….” aku makin terisak.

“Ini semua salahku, kalau aku tidak mencoba menggugurkanmu dengan berbagai obat, aku yakin kau tidak akan berakhir seperti ini.”

Dalam hati, aku berdoa dengan tulus agar ia bertahan. Meski aku belum sepenuhnya menerima kehadirannya, aku tentu tak ingin ia pergi begitu saja sebelum aku mencoba berdamai dengannya.

Akan akan mencoba untuk menekan rasa benciku. Namun, aku takut ketika ia membuka mata, kebencianku akan datang lagi. Sebab, tatapan matanya mengingatkanku pada pria brengsek yang telah membuatnya hadir ke dunia. Tatapan matanya selalu berhasil mengingatkanku pada pemerkosaan yang aku alami.

*****

Entah sampai kapan rasa benci ini akan bertahan. Jujur saja, hidup diliputi dengan rasa benci sungguh melelahkan. Tapi, mencoba melupakan rasa benci jauh lebih melelahkan, sebab memang bukan perkara yang mudah. Aku pun semakin menyadari bahwa mencoba mencintai sesuatu yang dimulai dengan rasa benci adalah bagian yang tersulit.