Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup highlight

Satu Per Satu Siaran Radio Gelombang Pendek Berguguran

19 Juni 2017   07:24 Diperbarui: 19 Juni 2017   08:57 577 4 2
Satu Per Satu Siaran Radio Gelombang Pendek Berguguran
Tampilan BBC Indonesia di internet (Foto: bbc.com)

Zaman kakek nenek kita masih muda, tentu stasiun televisi dan media informasi lain belum sebanyak sekarang. Begitu pula sarana hiburan seperti tape recorder, VCD, DVD, dan ipod. Karena itu satu-satunya media informasi sekaligus hiburan yang mereka miliki adalah radio.

Kini, puluhan tahun kemudian, meskipun berbagai peralatan audio-video modern  banyak bermunculan, namun ternyata perangkat radio yang dianggap sudah tradisional masih saja digandrungi berbagai lapisan masyarakat. Begitu juga ketika radio-radio satelit mulai membanjiri pasaran, radio transistor tetap tidak tersisih. 

Boleh dikatakan, radio tabung dan transistor merupakan produk elektronik yang paling lama bertahan. Bahkan di sejumlah negara berkembang dan masih terbelakang, sampai kini radio sering merupakan satu-satunya media massa yang ada. Radio banyak diminati orang untuk mencari hiburan, informasi, dan sekaligus untuk menjalin komunikasi dengan sesama pendengar.

Dibandingkan media massa lain, seperti koran dan televisi, radio memang tergolong "unik". Ketika sedang memasak, misalnya, orang tidak bisa membarenginya sambil membaca koran atau menonton televisi. Namun suara radio tidak berpengaruh sedikit pun terhadap aktivitas memasak. Malah mungkin akan membuat masakan menjadi tambah lezat. 

Gelombang Pendek

Kalau televisi dioperasikan dengan berbagai channel, radio memiliki berbagai gelombang dan frekuensi. Pada awalnya, gelombang yang ada hanya tiga, yaitu SW, AM, dan MW. Baru pada era 1980-an muncul gelombang FM.

Dari keempat jenis gelombang, tidak pelak, gelombang FM-lah yang paling enak didengar. Soalnya adalah siaran FM bersuara jernih. Tidak heran bila kemudian banyak  radio swasta beralih dari gelombang menengah (AM dan MW) ke gelombang FM. Namun kekurangannya, daya jangkau gelombang FM sangat terbatas. Paling-paling dalam radius belasan kilometer saja dari stasiun pemancar.

Sebaliknya, yang memiliki kualitas paling jelek adalah gelombang SW (Short Wave = Gelombang Pendek).  Suaranya sering menghilang atau turun naik di tengah-tengah siaran dan gemerisik karena bersinggungan dengan gelombang di dekatnya. Namun justru kelebihannya, gelombang SW dapat ditangkap dari tempat yang jauh sekalipun.

Pendengar dari Indonesia, misalnya, dapat menikmati siaran dari luar negeri secara langsung biarpun dari dalam hutan, puncak gunung, tengah laut, atau negara lain. Karena itu, meskipun sudah ada teknologi baru gelombang FM yang kualitas audionya jauh lebih baik daripada SW, siaran tradisional gelombang pendek masih tetap digemari tua dan muda. Yang mendukung, kini berkat kemajuan teknologi, siaran SW juga dapat ditangkap melalui antena parabola lewat fasilitas satelit Asiasat dan Palapa serta dapat diakses melalui internet secara audiografi atau tulisan.

Sekadar gambaran, siaran Radio Singapura Internasional (RSI) di gelombang SW mampu menjangkau hingga ke berbagai kawasan dunia, khususnya Asia Tenggara, yang berada dalam jangkauan 1.600 kilometer dari Singapura. Stasiun-stasiun radio besar bahkan lebih jauh dari itu karena melengkapinya dengan pemancar relay di sejumlah negara, seperti Radio Nederland yang mendirikan stasiun relay di Srilanka.

Dulu pernah ada belasan stasiun yang menyelenggarakan siaran dalam bahasa Indonesia, antara lain Radio Singapura, Radio Nederland, BBC (Radio Inggris),  ABC (Radio Australia), VOA (Radio Suara Amerika), Deutche Welle (Radio Suara Jerman), KBS (Radio Korea), dan NHK (Radio Jepang). Siaran-siaran itu dipancarkan melalui gelombang 13 meter, 16 meter, 19 meter, 25 meter, 31 meter, 41 meter, atau 49 meter dalam berbagai frekuensi. Umumnya radio SW menggunakan lebih dari satu gelombang, sehingga para pendengar bisa memilih gelombang mana yang kualitasnya lebih baik pada saat itu.

Namun dibandingkan siaran radio lokal, siaran SW sangat terbatas dalam waktu pengudaraan. Ada stasiun radio yang mengudara selama satu jam sehari. Ada pula yang mencapai empat jam. Ini semua tergantung dari anggaran yang diterima dari negara bersangkutan tempat penyelenggaraan siaran.

Jika dirunut ke belakang, memang keberadaan siaran SW tidak bisa dilepaskan dari sejarah pembentukan negara RI. Ini dapat dilihat dari siaran pertama Radio Australia dan Radio Suara Amerika dalam Bahasa Indonesia, yakni pada 1942.   Jadi kalau dihitung-hitung, usia siaran Indonesia Radio Australia dan Radio Suara Amerika sudah 75 tahun. Stasiun lain yang juga berusia relatif tua antara lain Radio BBC (1949), Radio Suara Malaysia (1963) dan Radio Suara Jerman Deutche Welle (1963). Sedangkan yang masih relatif muda adalah Radio Singapura Internasional (1998). Jelas ini menunjukkan stasiun radio gelombang pendek semakin diperlukan, terutama oleh masyarakat terpencil dan warga perantauan,  sehingga tetap eksis sampai kini.

Saking digemarinya siaran SW oleh masyarakat Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir sejumlah pemancar FM di beberapa wilayah tanah air menjalin kemitraan dengan stasiun radio mancanegara itu. Tercatat BBC London, Radio Suara Jerman Deutsche Welle, Radio Suara Amerika, dan Radio Korea memiliki radio mitra terbanyak di Indonesia. Secara kontinyu radio-radio lokal menyiarkan acara berupa  siaran penuh, ada pula yang mengkhususkan pada warta berita saja. Dampak positifnya adalah suara yang terdengar dari radio mitra nyaris jernih sehingga memudahkan penangkapan.

Informatif

Siaran SW umumnya bersifat informatif dan edukatif. Tambahan, siaran SW tidak mengudarakan satu pun iklan komersial. Warta berita merupakan siaran unggulan yang selalu dihadirkan radio-radio SW itu. Mata-mata acara lainnya adalah kebudayaan negara setempat, iptek, sayembara atau kuis, kotak surat atau kontak pendengar, pelajaran bahasa, dan masih banyak lagi.

Dibandingkan radio siaran swasta niaga atau radio kemersial, salah satu keuntungan mendengarkan siaran SW adalah para pendengar banyak mendapatkan fasilitas istimewa. Pedoman acara dibagikan secara cuma-cuma. Demikian pula berbagai bahan cetakan, kartupos bergambar, stiker, pulpen, buku notes, kalender, vandel, naskah siaran, foto para penyiar, dan buku pelajaran bahasa.

Para pendengar SW sendiri terdiri atas berbagai kalangan dan lapisan sosial, antara lain masyarakat di daerah terpencil dan remaja pedesaan yang sulit dijangkau media cetak atau televisi. Kaum intelektual di Jakarta dan perkotaan lainnya, juga sering memantau siaran SW. Begitu pun  para TKI, TKW, mahasiswa, dan pelaut yang sedang berada jauh di negeri orang.

Betapa digandrunginya siaran SW, dapat dilihat dari berbagai klub pendengar yang didirikan oleh para SW-mania di berbagai daerah. Misalnya saja Radio Listeners Club Indonesia,Kelompok Pencinta Radio Gelombang Pendek, Deutsche Welle Fans Club, Media Monitoring Club, dan masih banyak lagi. Ini membuktikan bahwa siaran SW tak akan mati, meskipun di Indonesia sudah banyak pemancar televisi dan radio swasta.

Sayang, sejak beberapa tahun lalu beberapa stasiun mulai berguguran satu per satu. Radio Singapura, Radio Nederland, dan Radio Australia sudah tidak mengudara melalui gelombang pendek karena alasan penghematan. Kini beberapa stasiun hanya bisa ditangkap melalui digital (internet) atau radio online. Begitulah dampak dari teknologi.***