Diskursus Pengukuran 7 Juta Status

21 Mei 2017 01:38:26 Diperbarui: 21 Mei 2017 03:41:37 Dibaca : 584 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Diskursus Pengukuran 7 Juta Status
2097119709001-5244661036001-5244567903001-vs-59210c0c21afbd600a386275.jpg

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Dept. Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..).

Yang rada-rada dekat dengan metrik itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis. Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat),
Yang ga setuju ya sumonggo mawon.


Bacaan lanjut, sila http://www.naivejournalist.id/2017/05/ga-ngajak-berdebat-di-wilayah-ideologis.html

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana