Deni Mildan
Deni Mildan

geologiwan muda | Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Caffemocha

21 Februari 2017   00:31 Diperbarui: 21 Februari 2017   00:48 115 0 0
Cerpen | Caffemocha
www.irsaindiana.org

Rambut hitam panjangnya sejenak mengalihkan perhatianku. Pandangan mata sempat seSaat mengikuti gerak langkahnya menjauh dari lemari pendingin minuman. Tangan putih halusnya menggenggam sebotol minuman teh kemasan 550 ml. Ia menghampiri kasir. Akan terlihat terlalu menyolok jika aku sampai berbalik badan hanya untuk melihatnya. Kopi caffemochaku baru selesai dituangkan mesin pembuat kopi yang baik hati ke dalam gelas kertas. Ia tidak pernah membiarkan pelanggan menunggu lama.

Sambil menunggu kasir memberikan uang kembalian, aku melihat jajaran bangku-bangku besi di luar. Kosong, tidak seperti biasanya. Seringkali sore menjadi waktu favorit mahasiswa nongkrong menanti kemacetan reda sebelum pulang ke rumah. Aku bergegas duduk di kursi yang menghadap meja besi kecil  setinggi pinggul. Dari situ aku bisa dengan jelas melihat lalu lalang kendaraan yang berdesakan menerjang macet Jumat sore Kota Bandung.

Tak sampai sepuluh detik, niatku untuk bersantai dengan tegas kubatalkan. Semesta memang sengaja mengaturku supaya membeli kopi di minimarket depan kantor. Tampak dengan jelas Desi dengan setelan serba hitam di seberang jalan. Untungnya masih ada motif bunga-bunga kelabu di bagian dadanya. Setidaknya tidak ada yang akan mengira dia seorang petugas keamanan. Tiga angkot dengan jurusan berbeda melintas di depannya, namun tak satu pun berhenti untuk membawanya pulang. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

Ku percepat langkahku agar segera menghampiri Desi. Tak lupa caffemocha panas kubawa dengan hati-hati. Ia masih di sana, melirik jam yang membalut pergelangan tangan kirinya. Dia memang sedang menunggu seseorang. Ku manfaatkan jalanan yang lengang sesaat untuk menyeberang. Desi melihat ke arahku.

Apa yang harus kukatakan? Aku dan Desi tidak pernah mengobrol. Obrolan singkat pun belum pernah. Selama ini kami hanya bertegur sapa, saling senyum jika tak sengaja berpapasan di kantor.

“Hai, Desi. Mau pulang ya?”, tanyaku. Aku tidak bisa mengharapkan pertanyaan yang lebih baik dari itu.

“Iya, hehe”, jawabnya singkat, diikuti senyum manis dari bibir tipisnya.

Percakapan berakhir. Sangat cepat, bahkan lebih cepat dari pembatalan niat duduk santai. Tak lama orang yang ia tunggu datang. Aku hanya bisa melirik sekilas, melihat Desi pergi berboncengan. Mungkin ia pacarnya.