Mohon tunggu...
Sofyan Basri
Sofyan Basri Mohon Tunggu... Jurnalis - Anak Manusia

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Dugaan-dugaan Pilwalkot Makassar

15 November 2019   23:00 Diperbarui: 16 November 2019   01:49 1377
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Selamat malam para manusia kesayangan. Apaka kabar hari ini? Semoga baik yah. Oh iya, setelah beberapa bulan saya tidak menulis tentang politik, hari saya coba untuk menerka-nerka lagi. Apalagi saya kira situasi dan kondisi politik jelang Pilwalkot cukup rumit untuk ditebak.

Oke, baiklah. Saya akan memulai pandangan politik saya ini untuk kembali mengingat Pilwalkot 2018. Tentu kawan-kawan seluruhnya sudah tahu bagaimana awal dan akhirnya Pilwalkot Makassar ketika itu. Saya pribadi menilai Pilwalkot 2018 adalah Pilwalkot paling bersejarah.

Saya ingin meminjam kalimat dari sebuah novel dengan judul Hilang yang ditulis oleh seorang penulis muda Nawang Nidlo Titisari "Sebuah Kekalahan Tanpa Pemenang". Kupikir itu adalah frase saya tentang Pilwalkot 2018. Pertarungan yang berujung tanpa pemenang itu memang menyakitkan.

Setahun berlalu, kini Pilwalkot kembali akan didengungkan. Sejumlah nama kembali bermunculan untuk ambil bagian. Tidak terkecuali mereka yang bertarung tapi berakhir tanpa pemenang. Adalah hal yang wajar jika demikian, tentu saja.

"Dalam perang Anda hanya bisa terbunuh sekali, tapi dalam politik Anda bisa mati berkali-kali" adalah kalimat yang dipopulerkan oleh tokoh Britania Raya, Sir Winston Churchill. Kupikir kalimat ini banyak dimanipulasi oleh politisi untuk terus eksis berkontestasi di Pilwalkot. Entahlah.

Iring-iringan opini yang kian pekat akhir-akhir ini, tentu sebagai penanda Pilwalkot memang begitu seksi didengar dan diperbincangkan. Mulai dari dengan latar belakang kandidat, hingga asal muasal kelahiran kandidat terus bergejolak menjadi headline media.

Sebagaimana biasanya, kandidat adalah manusia paling suci untuk menempati kursi panas dengan segala macam jargonnya. Danny Pomanto misalkan, walau kalah tanpa bertarung pada Pilwalkot 2018, Danny masih disebut paling mencolok dari kandidat lain.

Bukan tanpa alasan, Danny secara figur masih diunggulkan oleh berbagai survei. Karenanya, politisi NasDem itu sudah dipastikan ambil bagian di Piwalkot. Apalagi, NasDem merupakan partai pemenang di parlemen Kota Makassar.

Tapi apakah itu akan mulus? Kupikir pertanyaan ini masuk akal sekaligus agak nakal. Banyak hal yang bisa terjadi, bahkan sesuatu yang sangat mungkin bisa menjadi tidak mungkin. Kenapa demikian? Saya ingin mengutip kalimat populer para politisi Makassar "politik itu dinamis".

NasDem sebagai partai berkecimpungnya Danny, hingga kini masih bungkam terkait Pilwalkot. Padahal pada sejumlah daerah yang menggelar Pilkada, NasDem membuka pendaftaran tapi di Makassar dan beberapa daerah tidak dilakukan. Kenapa dan Mengapa?

Partai besutan Surya Paloh itu seperti bermain layang-layang, tarik kemudian dilepas, begitu seterusnya hingga waktu itu tiba. Apalagi, pasca masuknya Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam jajaran kabinet Indonesia Maju semakin membuat NasDem dalam on the track di Pilwalkot.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun