HIGHLIGHT

Kalau Nonton Tivi Bisa, Seharusnya Menulis Juga Bisa

20 Juni 2012 04:46:55 Dibaca :

Jam dua belas malam kurang lima menit, saya baru menyelesaikan bagian naskah calon buku. Sebelum tidur, saya menulis tulisan ini untuk mengapdet blog esok hari. Sebenarnya dua jam lagi ada laga seru dan menarik, Inggris kontra Ukraina. Namun jam segini belum tidur dan besok masuk kerja, rasanya tak mungkin saya bisa nonton pertandingan itu. Saya harus realistis.

Memangnya naskah buku apa sih? Ah mau tahu aja, itu masih rahasia. Nanti kalau sudah waktunya pasti akan saya kasih tahu. Saya memang harus menyembunyikan hal ini karena takut tak selesai dan tak jadi buku, nanti malu. Maklum, saya pernah gagal dalam proyek penulisan buku gara-gara saya tak bisa disiplin memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan.

Sedikit agak trauma memang. Tapi bukan berarti takut mencoba dan berusaha lagi. Saya tetap mencoba dan berusaha lagi. Naskah yang sedang saya kerjakan itu adalah bagian dari upaya saya untuk mencoba lagi. Sambil mengevaluasi diri tentunya. Kenapa sebelumnya saya gagal dan tidak berhasil?

Saya teringat sebuah artikel di Kompasiana tulisan Mas Johan Wahyudi berjudul “Lima Penyebab Kegagalan (Calon) Penulis Buku. Penyebabnya yaitu, Malas Membaca, Miskin Konsistensi, Tidak Kreatif, Kebal Kritik dan Miskin Kawan. Setelah saya baca ulang artikel itu, saya berkesimpulan bahwa penyebab kegagalan saya adalah Miskin Konsistensi.

Dalam tulisannya, Mas Johan Wahyudi menyampaikanpendapatnya bahwa semangat menulis buku harus digelorakan setiap saat. Jangan sampai  semangat itu kendor atau melemah, meskipun banyak godaan menari-nari di depan mata.

Apa yang dikatakan oleh Mas Johan wahyudi, itu benar sekali. Semangat menulis buku memang harus digelorakan setiap saat. Kalau tidak, yaitu mungkin seperti yang saya alami. Kalah oleh banyaknya godaan yang menari-nari di depan mata. Lagi tidak mood, capek, sibuk banyak kerjaan, anak sedang rewel, tetangg berisik dan masih banyak godaan lainnya.

Selama ini saya memang selalu kalah oleh godaan-godaan itu, terutama badan yang merasa capek. Kerja seharian membuat stamina dan tenaga tiga perempat habis saat sore atau malam hari. Jangankan menulis, membaca saja rasanya sering tak sanggup. Namun kalau saya mengikuti hal itu terus-menerus, kapan saya sempatnya?

Satu hal yang mendongkrak semangat saya kembali menggelora adalah, walau capek tapi kalau nonton tivi kok bisa? Meski capek dan ngantuk tapi mata tetap bisa melotot dan bahkan bisa tertawa-tawa? Kalau nonton tivi bisa kenapa menulis buku tidak bisa? Salam Menulis.

Mas Badiyo

/badiyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Suka dengan berita politik dan sepak bola
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?