Mohon tunggu...
andry natawijaya
andry natawijaya Mohon Tunggu... Konsultan - apa yang kutulis tetap tertulis..

good.morningandry@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Waduh! Pertumbuhan Kredit Lesu

29 Oktober 2019   16:23 Diperbarui: 30 Oktober 2019   07:40 444
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dan para pelaku usaha masih menantikan langkah konkret pemerintah guna memperbaiki pertumbuhan ekonomi yang masih terpaku di angka 5%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% memang berada di atas pertumbuhan ekonomi global yang hanya mencapai 3%, namun kondisi ini tidak serta merta terasa mulus untuk dunia usaha dalam negeri.

Ilustrasi: diversityq.com
Ilustrasi: diversityq.com
Kondisi ekonomi Indonesia masih belum terlalu menggembirakan, indikatornya dapat dilihat dari tren daya beli masyarakat seperti konsumsi rumah tangga yang terkesan lebih selektif dalam membeli barang serta kebutuhan juga tutupnya gerai ritel di beberapa tempat.

Invetasi yang digadang-gadang dapat menggerakan perekonomian ternyata tidak terlalu terasa untuk mendongkrak daya beli dan konsumsi. 

Hal tersebut disinyalir investasi yang masuk ke Indonesia banyak menggarap industri padat modal, bukan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja masyarakat. sehingga pertumbuhan indutstri manufaktur tergolong sepi. Hal itu menjadi efek domino kepada kekuatan daya beli dan konsumsi masyarakat.

Solusi Bagi Perbankan

Pertumbuhan kredit korporasi sepanjang tahun 2019 masih didominasi oleh aktivitas pembangunan dari Pemerintah, terutama terkait pengadaan infrastruktur. Sementara kalangan swasta kontribusinya tergolong lebih sedikit.

Tentunya ini bukan kondisi menggembirakan bagi perbankan, perlu upaya untuk menanggulangi agar kondisi ini berlarut-larut. Karena bagaimana pun pertumbuhan perbankan terkait dengan kondisi positif atau negatif iklim usaha di Indonesia.

Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 5%, tentunya hal ini diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan kredit. Pihak swasta bisa mendapatkan keringanan dari biaya bunga kredit, dan tren penurunan suku bunga diprediksi akan berlanjut.

Ilustrasi: id.techinasia.com
Ilustrasi: id.techinasia.com
Untuk mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga, Bank Indonesia juga memberikan kelonggaran terkait dengan berkurangnya kebijakan Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV), kebijakan tersebut berkaitan dengan penyediaan uang muka untuk kebutuhan KPR dan kredit kendaraan.

Sementara bagi bank, perlu upaya lebih serius untuk menetapkan arah bisnis ke depan. Rencana Bisnis Bank perlu dikaji lebih dalam segmen pasar potensial seperti apa yang memungkinkan untuk mendorong pencapaian kinerja kredit secara optimal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun