Ahmad Yusuf
Ahmad Yusuf

Kuli tinta Harian Pagi RADAR BANGKA (Jawa Pos Group) Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @Borneomucil,@Ahmad Yusuf FB Ahmad Yusuf Ariffien

Selanjutnya

Tutup

Asmara Atas Awan

2 Juli 2017   10:11 Diperbarui: 2 Juli 2017   10:57 238 0 0

Entah mengapa dalam sebulan ini aku malas keluar rumah mungkin karna aku baru sembuh dari sakit atau karna apa, yang kuingat setelah dari pulang kerja pada hari Rabu, 17 Maret 2016 saat pulang kerja dari dalam angkot aku lihat kecelakaan lalu lintas. Seketika kepalaku pusing dan seketika pingsan, saat bangun tiba-tiba aku sudah berada diatas ranjang rumah. Sejak itu aku enggan keluar rumah, aku hanya sesekali keluar bila malam tiba itupun hanya duduk-duduk di area komplek perumahan saja.

 
Masih kuingat gadis yang tertabrak mobil proyek itu berwajah cantik, rambut agak kemerahan usianya mungkin sama dengan perawakannyapun mirip aku. Sudah hampir sebulan aku tidak masuk kerja karna sakit, untungnya pihak perusahaan tempat aku bekerja mau mengerti dan membiarkanku istirahat sampai pulih.  Dikota ini aku sudah tebiasa hidup sendiri, sebagai seorang wanita muda aku hanya menikmati hidup dirumah besarku suatu perumahan volker di pinggir hutan kota. Orang tuaku yang juga pensiunan dari kantor tempat kubekerja tinggal di tengah kota  bersama adik.
 
Aku termasuk wanita kuper alias kurang pergaulan, hanya Angga satu - satunya teman dekatku. Angga adalah cowok pendiam dari Pulau Bangka Belitung yang bekerja sebagai kontraktor dikantorku. Dia baik hati nampaknya dia juga kurang banyak teman tapi bila kami bertemu dunia jadi ramai ceria.
 
Malam ini aku ada janji dengan Angga ke pantai Banua Patra, sebuah pantai yang terkenal di Kota Balikpapan uuntuk acara Angga ulang tahun atau...aku masih belum tau. "Rahasia" katanya. Bermacam perasaan berkecamuk dalam kepalaku antara bingung bahagia dan cinta ya mungkin cinta. Tiba - tiba...." Tok..Tok.." pintu diketuk. Segera kuhampiri dan aku tau yang datang adalah orang yang kutunggu. 
 
"Sudah siap Ri ?," Begitu kebiasaan Angga memanggilku. Walaupun dia tau namaku Utari dia cuma panggil Ri saja. Tanpa basa  basi langsung ku tarik tangannya dan pergi bersama vespa kesayangannya. Dalam perjalanan kepantai kami hanya bercanda tawa menyisir malam dingin diantara pepohonan Gunung Cemara komplekku, menuju tengah kota. Bau wangi bunga melati kadang keluar dari baju Angga. 
 
"Memangnya ada acara apa sih kita malam ini kok..?," disela canda kuselipin pertanyaan kecil takut kalau – kalau Angga tersinggung.
 
"Tengok aja nanti," katanya, aku cuma senyum saja.
 
"Ga sabaran sih kamu," lanjut Angga.
 
Angga orangnya memang selalu menyimpan misteri, wajahnya biasa saja tapi kadang bercahaya entah apa. Kemana mana selalu pakai syal merah terselip di pundak seolah takut lehernya terlihat orang yang paling has yaitu parfumnya bau melati kadang bunga kenanga. Dasar orang aneh...tapi aku suka. Pernah disela percakapan keceplosan aku bertanya tentang keanehan itu dia hanya tertawa tanpa menjawab ahirnya aku keceplosan beruja.
 
" Kamu ini seperti hantu...whahaha," kulihat dia tersentak. Aku menyesal telah berkata itu aku hanya bercanda. "Kamu itu kayak suster Maria ckkkkak," balasnya, syukurlah dia ga marah malah menimpali candaku. Kucubit perutnya " Adooookhhh sakiiit," jeritnya.
 
Tak terasa sampailah kami ke tempat yang dituju. Sudah lama aku tidak kepantai ini,terahir saat SMA. Vespa berhenti dan kami berjalan kaki menuju tempat acara. Kupegang lengannya dia tidak menepis malah terlihat bahagia. Dipinggir jalan ada beberapa cafe kecil kami lewati sesekali bertemu kawan Angga ada yang cowok ada cewek, mereka sedikit bercanda. Tapi aku merasa aneh kenapa Angga tidak memperkenalkanku dengan teman-temannya itu apalagi teman Angga yang cewek. Sok cuek denganku seolah aku ga ada, ga dianggap rasanya aku ini. Ga apa, mungkin mereka iri atau cemburu melihat betapa mesranya kami.
 
Disela ramai manusia aku melihat Hendi, kawan sekantorku yang ganteng tapi sudah menikah. Maksud hati ingin pamer ke Angga bahwa aku juga punya teman cowok berharap dia cemburu namun Hendi yang kupangil-panggil hanya cuek padahal dia pas berada didepanku..sombong! Seaneh apapun malam ini aku tidak peduli selama Angga ada di dekapku. Ditempat acaranya Angga disudut pantai senyap dari Andre salah satu tamu yang berada di pesta kecil ini aku tahu ini pesta hantu. Kuakui akting mereka mirip hantu, ada yang kepalanya robek ada yang pucat pasi. Pesta ini kuanggap sukses wakaupun mereka yang berpesta tidak menggunakan gaun hantu tapi nuansa gaibnya terasa. Aneh aku tak sedikitpun  berasa takut mungkin rasa takut itu ditendang jauh oleh rasa bahagia.
 
Angin pantai berhembus perlahan menyibak rambut Angga yang sedikit gondrong. Sesekali dia meremas jariku, aku tak menolak padahal kami belum pacaran. Ditempat acara itu kmi tak banyak bicara hanya dada kami yang seolah berdebar kencang.  Lampu minyak mulai redup diterpa angin malam, para undangan satu persatu sudah mulai pulang. Sejauh ini belum juga Angga menjelaskan apa maksud pesta ini, sementara aku hanya bisa menunggu.
 
"Aku sayang kamu Ri," suara Angga bergetar memecah kesunyian.
 
Aku hanya terdiam kaku mendengar kata-kata yang memang ku nantikan itu. "Maaf Ri aku....,"kata Angga.
 
"Aku juga sudah lama sayang kamu Angga," potongku tanpa peduli lagi apa yang Angga akan katakan.
 
"Tapi maaf aku ga bisa Rin..maksudku kita ga bsa meneruskan hubungan ini," lanjut Angga.
 
Aku agak kaget mendengar perkataannya. "Kenapa Angga, aku sudah lama mengharap kamu," kataku.
 
" Rasa sayangku bahkan melebihi rasa sayangku dengan diriku sendiri Ri tapi...," Angga tak meneruskan bicaranya, yang kulihat hanya wajah yang redup seredup lampu kapal ditepi pantai dan suaranya lirih bergetar.
 
"Kenapa ?..apa sebabnyaa?,"kataku memekik.
 
Hatiku makin berkecamuk antara sedih dan prustasi, aku mengharap ini adalah malam yang indah karna telah saatnya tahu isi hati masing – masing tapi itu tidak terjadi malam ini. Anggapun beranjak mengantarku pulang. Kamipun pulang tanpa sepatah katapun. Dalam perjalanan aku hanya menangis dan bungkam aku merasa Angga mencampakan harapanku. Tanpa disengaja, kami melewati jalan sepi tikungan Sapulete tempat kecelakaan gadis mirip aku..astaga bila aku teringat lagi kejadian itu aku jadi pening. Lewat kaca spion kulihat wajah Angga pucat seperti tak bernyawa, tatapannya kosong berkaca-kaca. Tanpa terasa kami telah sampai di depan rumahku. Aku langsung buka pintu dan masuk namun jari dinginn Angga menarik lenganku dan memelukku.
 
" Aku sangat mencintaimu Ri, aku janji suatu saat kita akan bersama selamanya," katanya sembari melepaskan pelukannya.
 
Aku hanya diam terlanjur kecewa. Dan malam itu jadi malam hampa seperti buah pohon cemara disamping rumah. Sudah beberapa hari ini telpon dimejaku tak berdering, biasanya Angga selalu menelponku siang hari seperti ini.  Tidak ada lagi canda rianya, aku merasa kembali sepi seperti hari-hari sebelum aku ketemu cowok Bangka Belitung itu.
 
***
 
Pertemuanku dengan Angga berawal ketika tak sengaja kutemui dia diteras rumahku. Dia mencari rumah kontrakan untuk dirinya. Karna rumahku sepi dia menyangka rumahku tak berpenghuni dia berniat mengotrak rumahku. Entah mengapa atau hanya alasan Angga saja pencarian rumah kontrakan itu berhenti setelah pertemuan kami itu. Beberapa saat aku mengingat kisah yang pernah kami lalui membuat aku kangen lagi dengannya.
 
Suatu malam perasaanku menggebu ingin bertemu Angga. Ada semacam dorongan aneh yang mengharuskanku menemuinya. Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku kerumahnya.
 
"Angga..?," seruku memanggil setiba dirumahnya.
 
Seingatku aku pernah sekali ke kontrakannya tapi Angga tak mengajakku masuk. Kali ini aku terpaksa harus masuk kedalam rumah Angga sepi dan pintu tak terkunci. Aku menerobos masuk sambil memanggil-manggil namanya.
 
"Angga...Angga." tak juga ada jawaban.
 
Rumah kontrakan Angga ini terlihat seram, lampu remang - remang, aroma melati tercium dimana-mana,didinding terpajang lukisan cewek mirip aku dengan luka- luka di kepala. "Apakah itu lukisan diriku?," pikirku. Rasanya mustahil Angga melukis wajahku dengan keadaan seseram itu lagi pula sekarang sudah ada hp kamera seharusnya dia memfoto diriku bukan melukis.
 
Pikiranku mulai terbuka tentang sosok cowok ini. Mungkin selama ini aku digelapkan oleh rasa cinta hingga aku tak pernah berpikir logis tentang Angga. Mungkin lukisan itu adalah wajah istrinya atau jangan - jangan Angga hanyalah ilusiku. Pikiranku makin melanglang buana mengingat keanehan Angga yang kadang bikin aku merinding...astaga atau aku selama ini mencintai hantu.!!!!.?? Lamunanku terpecah saat seseorang yang kukenal dipesta pantai Banua itu tiba-ada didepanku. Andre...ya aku ingat namanya Andre. Wajah Andre sama seperti saat bertemu aku di pesta itu bahkan make-up seramnya tak dihapusnya.
 
"Cepat Angga menunggumu di RSUD," teriak Andre.
 
Tanpa basi basi Andre pergi meninggalkanku dan aku bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang hidupku baru sekali ini aku masuk rumah sakit, jam bezuk telah selesai banyak keluarga pasien dipaksa keluar oleh security (satpam), hanya aku yang bebas masuk. Suster di rumah sakit ini semua cuek namun, tanpa rasa lelah ahirnya kutemui nama Angga di antara nama pasien dipapan pemberitahuan.
 
Dari keterangan polisi dan saksi diluar kamar Angga kuketahui Angga mengalami kecelakaan di tikungan sapulete dan kudapati informasi juga teryata Angga ini bisa melihat mahluk halus atau arwah. Mungkin Andre lah salah satu mahluk halus itu. Dihadapan tubuh Angga yang dikerumuni sanak keluarganya yang datang dari Bangka, disela kerumunan kudapati lehernya terluka dan entah mengapa aku yakin tahu pasti Angga telah meninggal.Merasa diriku tak dikenal oleh keluarga besar Angga aku hanya menangis tertahan takut kalau orang bertanya tentang siapa aku. Biarlah hanya aku sendiri yang tahu betapa kami saling mencinta. Perlahan aku memisahkan diri dari rombongan dan ingin mencari tempat menangis sepuasnya. 
 
Dibangku putih panjang kosong menggadap pintu keluar kulampiaskan tangisku sejadi-jadinya entah berapa lama aku lupa saat tangisku mulai reda kudapati koran lusuh seperti koran lama, Sabtu 17 mart 2016 terulis di sudut atasnya. Kudapati berita kecelakaan yg menewaskan karyawati bernama Utari Badrun 24 tahun di tikungan sapulete.
 
Ha!!!!!! Aku tak paham apa yang harus kulakukan setelah membaca berita itu terlebih lagi usia dan wajah gadis itu serupa dengan wajahku, Badrun adalah nama ayahku. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku suda mati.  Aku menangis untuk kedua kalinya. Diujung isak tangis panjang kudengar suara laki - laki memanggilku mungkin suara malaikat pikirku. Kuberanikan diri menegadahkan wajah menghadap pintu keluar yang bertepatan dengan sumber suara itu. Kulihat sosok lelaki gagah yg tak pernah kulupa....
 
"Angga!!!!," jeritku sekerasnya.
 
Aku tak peduli lagi nanusia sekeliling toh mereka tak bisa mendengar suara kami. Aku berlari memeluk Angga dan kami pergi meneberobos dinding tanpa melewati pintu, tanpa perlu vespa. Sesuai dengan janji Angga dia akan selalu bersamaku walaupun bukan dialam dunia......***
 
Toboali, 18 Juni 2017
Ahmad Yusuf Ariffien