AF Yanda
AF Yanda wiraswasta

Suka sepak bola dari lahir,,, Tifosi Milan (Milanisti),,,

Selanjutnya

Tutup

headline featured

Piala Presiden; Sekadar Pelipur Lara atau Sinyal Kembali Bergairahnya Sepakbola Nasional?

29 Agustus 2015   17:25 Diperbarui: 6 Maret 2017   08:00 2745 30 38

Satu lagi turnamen sepakbola bergengsi akan segera dihelat di tanah air pada bulan Agustus ini, setelah beberapa waktu yang lalu turnamen Piala Kemerdekaan resmi digulirkan, kali ini turnamen serupa yang bertajuk “Piala Presiden” juga akan segera digulirkan. Turnamen ini sendiri akan diikuti oleh tim-tim elit kasta tertinggi sepakbola Indonesia (ISL) ditambah dengan turut sertanya beberapa tim dari Divisi Utama.

16 tim peserta akan bertarung diturnamen yang akan dibuka di Bali ini, 13 tim berasal dari kompetisi ISL dan 3 tim lainnya berasal dari kompetisi divisi utama. Turnamen ini dibagi dalam 4 grup yang masing-masing grupnya dihuni oleh 4 tim dan satu tim bertindak sebagai tuan rumah. Persib Bandung, Arema Malang, Bali Pusam United dan PSM Makasar terpilih untuk menjadi tuan rumah untuk masing masing grup di turnamen ini.

Untuk fase/babak penyisihan grup akan menggunakan format setengah kompetisi (home turnamen), sedangkan untuk fase selanjutnya yaitu babak perempat final dan semifinal akan menggunakan format home and away. Sedangkan partai final turnamen ini akan berlangsung di stadion Gelora Utama Bung Karno pada tanggal 18 oktober 2015.

Pembukaan Turnamen Piala Presiden ini sendiri akan berlangsung di Stadion Dipta Gianyar, Bali dengan mempertemukan tuan rumah Bali United Pusam berhadapan dengan tim asal ibukota Persija Jakarta, Minggu (30/8). Menurut kabar dari sejumlah media, Presiden Republik Indonesia, bapak Joko Widodo juga akan menghadiri pembukaan (open ceremony) Piala Presiden ini beserta sejumlah jajaran Menteri kabinetnya dan juga para stakeholder negeri ini.

Peserta turnamen ini sendiri nantinya dijanjikan akan memperoleh match fee yang nilainya cukup fantastis untuk satu tim peserta disetiap fase/babaknya. Untuk babak penyisihan setiap tim akan memperoleh match fee sebesar 500 juta rupiah, sedangkan untuk perempat final dan semifinal masing-masing peserta akan mendapatkan tambahan fee sebesar 250 juta rupiah. Juara diturnamen ini akan mendapatkan hadiah sebesar 3 Miliar rupiah, runner-up 2 miliar rupiah, juara ketiga 1 Miliar rupiah dan juara keempat mendapat hadiah 500 juta rupiah. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah even turnamen sepakbola di Indonesia.

Kembali kepada judul artikel diatas, menjadi pertanyaan banyak pihak, apa makna diadakannya turnamen ini sesungguhnya, hanya sekedar pelipur lara akibat tidak adanya kompetisi atau pertandingan yang berlangsung pasca pembekuan PSSI oleh Menpora belakang ini? atau ini adalah sebuah sinyal atau pertanda bahwa turnamen ini adalah sebuah awal dari kembalinya gairah sepakbola nasional yang beberapa waktu belakangan seakan mati suri akibat konflik yang terjadi antara Menpora dan PSSI, sebagai respon atas sikap supporter dan para pecinta sepakbola nasional yang mulai jengah dengan kondisi yang terjadi saat ini serta rindu akan adanya pertandingan sepakbola ditanah air ?

Jika benar bahwa turnamen ini merupakan sinyal kembali bergairahnya sepakbola nasional Indonesia, lalu apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan setelah turnamen ini selesai nantinya, akankah kompetisi akan kembali bergurlir, atau akan kembali diadakan turnamen serupa, atau malah justru sebaliknya akan kembali vakum seperti sebelumnya?

Apabila kita lihat bagaimana respon dan antusiasme yang tinggi baik dari para pelaku sepakbola, suporter hingga insan sepakbola nasional terhadap turnamen ini, maka ini adalah momen yang tepat untuk semua kalangan mengembalikan gairah atau semangat sepakbola nasional seperti sedia kala. Yang jadi pertanyaanya, mungkinkah semua itu terealisasi, jika hingga detik ini saja dua pihak yang harusnya bersama-sama membangun sepakbola Negeri ini justru sedang asyik-asyiknya berseteru.

Sempat tersiar kabar bahwa PSSI beserta PT.Liga Indonesia selaku operator berencana akan kembali menggulirkan kompetisi Liga Indonesia pada bulan Oktober nanti, namun rencana tersebut diragukan oleh sejumlah kalangan termasuk pihak klub peserta kompetisi dan juga pelaku sepakbola didalamnya (pelatih dan pemain).

Bukan apa-apa, ini adalah kesekian kalinya PSSI dan PT.Liga Indonesia berwacana menggulirkan sebuah even baik berupa kompetisi maupun turnamen, namun selalu saja gagal terlaksana akibat terkendala oleh masalah-masalah administratif seperti tidak keluarnya rekomendasi izin dari para pihak yang memiliki kewenangan.

Bahkan kabarnya Menpora pun langsung merespon wacana PSSI menggulirkan kompetisi pada bulan oktober nanti dengan mengirimkan surat kepada pihak Kepolisian agar tidak memberikan izin keramaian bagi PSSI mengelar kompetisi (pertandingan) karena statusnya yang masih dibekukan oleh Pemerintah (Kemenpora) (sumber). Jika sudah begini apakah mungkin kompetisi bisa bergulir dalam waktu dekat ini.

Turnamen Piala Presiden ini “bisa saja” menjadi jawaban atas pertanyaan dan keraguan banyak pihak akan nasib dari keberlangsungan kompetisi ditanah air kedepannya, andai saja penyelenggaraan turnamen ini bisa berlangsung sukses nantinya. Bukan suatu yang mustahil, jika untuk sementara waktu kompetisi digulirkan secara independen atau dengan kata lain diselenggarakan oleh pihak tertentu (yang dianggap netral) diluar PSSI dan juga Kemenpora seperti turnamen Piala Presiden ini, sampai situasi dan kondisi sepakbola nasional bisa benar-benar kondusif kedepannya.

Sebagai salah satu langkah saja untuk mencegah kevakuman kompetisi sepakbola nasional untuk sementara waktu. Contoh nyata yang kita sama-sama bisa lihat bagaimana dengan berhentinya kompetisi jutru berpengaruh atau menimbulkan dampak negatif yang cukup besar khususnya bagi para pelaku sepakbola yang hidupnya bergantung sepenuhnya dari sepakbola. Dan andai kata sudah ada titik terang tentang siapa nantinya pihak yang berhak (dan sah diakui oleh FIFA) untuk kembali mengurus sepakbola Indonesia, maka kompetisi secara otomatis bisa kembali dipegang dan dilanjutkan oleh federasi yang bersangkutan.

Kita tunggu saja bagaimana nasib sepakbola Indonesia kedepannya, namun sudah seyogyannya pula dua pihak yang beseteru saat ini baik PSSI dan juga Menpora untuk bisa bersikap lebih bijak dengan mengedepankan serta memperhatikan kepentingan nasib para pelaku sepakbola nasional dalam setiap langkah atau keputusan yang mereka buat.

Sebagai supporter dan pecinta sepakbola nasional kita hanya bisa berdoa dan berharap agar sepakbola Indonesia tidak terus menerus berada dipusaran konflik, dan sesegar mungkin secara bersama-sama bisa benar benar membangun sepakbla nasional menjadi lebih baik dan lebih berprestasi kedepannya.

Salam,,,

 

Sumber:

Bola.net

Kompas.com

Goal.com

 

Gambar: kompas.com (doc. Mahaka Sport)