PILIHAN HEADLINE

Takdir Satu Butir Beras dan Ketidaksetaraan Dunia

20 Oktober 2016 01:48:00 Diperbarui: 20 Oktober 2016 08:37:59 Dibaca : Komentar : Nilai :
Takdir Satu Butir Beras dan Ketidaksetaraan Dunia
Daya beli petani yang terus tertekan. Kompas.com

Zaman saya kecil mbah buyut sering menasehati agar tidak membuang nasi supaya ayam di kadang tidak mati. Entah apa hubungan antara membuang makanan dengan ayam bisa mati. Namun, anak-anak kecil zaman dahulu mematuhinya. Mungkin ayam sebagai binatang ternak, seperti kerbau dan sapi, adalah harta berharga. Kematian ayam akibat membuang makanan tak ubahnya membuang harta secara percuma.

Agama menyebut mubadzir. Manusia yang gemar membuang makanan menjadi saudara setan, demikian nasehat dari guru ngaji di mushola. Tanpa harus mengetahui kaitan rasionalitas dari nasehat itu anak-anak zaman dahulu khusyuk menyimak dan mematuhi wejangan itu. Mereka lebih berhati-hati dalam mengukur takaran saat mengambil nasi. Apalagi ketika di mushola ada kenduri. Didorong oleh keinginan mengambil nasi atau lauk sebanyak-banyaknya, baru setengah jalan menikmati makanan perut sudah kenyang.  

Ilustrasi: thestar.com
Ilustrasi: thestar.com

Kebiasaan membuang makanan sisa tidak hanya terjadi di lingkungan rumah. Banyak restoran atau rumah makan, saat acara pesta pernikahan, model makan prasmanan kerap berakhir dengan setumpuk makanan sisa. Alangkah mudah makanan terbuang percuma, menuju tempat sampah, menjadi limbah.

Kebudayaan kuliner dituding menjadi salah satu perilaku yang tidak menghargai perjalanan panjang bahan-bahan yang diolah menjadi makanan. Berdialektika dengan makanan, kebudayaan kuliner cukup mengajukan satu pertanyaan: makanan tersebut enak atau tidak? Pintu-pintu dialektika yang lain tertutup oleh subjektivisme ideologi selera. Aktivitas makan adalah demi memanjakan kenikmatan lidah.

Padahal satu butir beras tidak datang secara tiba-tiba—makbenduduk—ada di atas meja makan. Satu sendok nasi yang kita kunyah melawati beragam tahapan proses yang panjang. Di setiap tahap proses itu sesungguhnya melibatkan banyak sekali daya dan upaya manusia. Kalau kita merunut perjalanan satu butir beras sesungguhnya kita sedang melacak takdir bahkan sejak padi belum ditanam. Setahap demi setahap takdir satu butir beras berlangsung, mulai dari sawah dibajak hingga butir-butir beras itu ditanak menjadi nasi.

Pada setiap detail tahapan perjalanan itu yang berlangsung bukan sekadar petani memanen padi di sawah, atau padi menjadi gabah, atau gabah menjadi beras. Lebih dari itu—satu butir beras memiliki muatan daya dan upaya manusia, lengkap dengan doa dan harapan, rezeki, keringat kerja keras, nasib para petani, regulasi ekspor impor, mafia perdagangan, industrialisasi pertanian. Pendek kata, takdir satu butir beras atau nasi tidak sesederhana saat kita mengunyah, menelan, melewati tenggorokan kita.

Maka, membuang makanan dapat menyebabkan ayam mati perlu ditemukan rasionalitasnya—dan memang itu inti pesannya. Nenek moyang kita sedang mendidik kita bahwa takdir satu butir beras atau takdir satu sendok nasi pasti, akan selalu berhubungan, terhubung, menghubungkannya dengan hal-hal yang seakan-akan tidak terkait langsung dengan beras dan nasi itu sendiri.

Nasi sisa dan ayam mati adalah wejangan agar kita memiliki cara berpikir asosiatif. Menatap satu sendok nasi mengantarkan asosiasi pikiran kita kepada sawah produktif yang ditanduri bangunan untuk industri atau perumahan, negeri agraris yang semakin kehilangan generasi petani, perubahan iklim, politik pangan, peta perdagangan dunia, kapitalisme, perang rebutan minyak bumi, pemilihan presiden Amerika Serikat, dan seterusnya.

Terserah kita: satu butir beras itu akan mengantarkan asosiasi pikiran melangkah ke depan, belakang, samping kiri-kanan, atas-bawah. Bahkan dengan satu butir beras bisa mengantarkan kita pada hiruk pikuk Pilkada DKI.

Berkat asosiasi berpikir dari satu butir beras membawa kita pada laporan Thomson Reuters Foundation, betapa banyak penduduk di dunia, terutama di negara berkembang—walaupun  mengalami penurunan 29 persen kelaparan pada enam belas tahun terakhir—tetap saja tergambar masih banyak yang membutuhkan makanan.

Global Hunger Index pun menyatakan tingkat kelaparan tertinggi dialami oleh Chad dan Central African Republic, dengan Zambia menempati posisi terparah. Hampir separuh dari penduduk di Central African Republic dan Zambia, yakni satu dari 3 orang mengalami kekurangan gizi.

Sustainable Development Goals (SDGs) dari para pemimpin dunia sepakat mengakhiri kemiskinan, kelaparan, dan ketidaksetaraan pada 2030. Rencana SDGs itu didasari oleh prediksi yang diliris oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (17/10/2016), lebih dari 122 juta orang di seluruh dunia akan hidup dalam kemiskinan luar biasa pada 2030. Perubahan iklim dan dampaknya terhadap pendapatan petani merupakan pemicu kemiskinan luar biasa.

Satu butir beras pada akhirnya mengingatkan kita pada nasib masa depan anak cucu. Tidak membuang-buang makanan mungkin menjadi langkah paling sederhana yang bisa ditempuh saat ini. Jika makanan sisa di seluruh dunia dikumpulkan dalam waktu satu tahun bisa mencapai 1,3 miliar ton atau setara dengan satu triliun dolar AS. Angka yang sangat fantastis memang; satu piring atau tiga piring makanan yang kita sisakan turut menyumbang besaran angka itu.

Dengan demikian, apakah wejangan nenek moyang kita tidak rasional? Mereka yang gemar atau dengan ringan tangan membuang makanan sesungguhnya tidak memiliki sikap empan papan, tidak menerapkan takaran yang adil, tidak mengerti ukuran isi perutnya sendiri, karena yang menjadi panglima adalah kenikmatan-kenikmatan. Celakanya, kenikmatan yang diburu itu menerjang keseimbangan alam lingkungan (yang mengakibatkan ayam mati).   

Othak-athik-gatuk itu tidak selalu benar, namun kita akan berpikir seribu kali untuk melanjutkan kebudayaan buang-buang makanan saat teringat hampir delapan ratus juta manusia tidur dengan merasakan kelaparan di malam hari. []

Jagalan 201016

Achmad Saifullah Syahid

/achmadpongsahidysaifullah

TERVERIFIKASI

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article