Mohon tunggu...
ahmad fauzi
ahmad fauzi Mohon Tunggu... menulislah, selagi menulis itu menyenangkan

pekerja swasta yang suka nulis

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Presiden Presidenan dari Lembah Baliem

26 Januari 2021   00:59 Diperbarui: 26 Januari 2021   02:51 68 3 2 Mohon Tunggu...

selain karena berjuang demi tanah kelahirannya, yang membuat kasihan, sebenarnya mereka ini banyak yang tidak tau, mereka ini hanya dimanfaatkan sebagai pion. Dimanfaatkan untuk mengganggu keamanan dan stabilitas di Papua. Beberapa kelompok ini memang disokong oleh asing, baik logistik maupun senjatanya. Siapa pendananya? Tentu saja yang berkepentingan berebut harta di Papua. Lihat saja, sejak sebelum Pemerintah mengakusisi 51% saham Freeport, tiap kali ada pembahasan tentang saham ini, tidak lama pasti terjadi kekacauan atau penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dulu memang disebut Gerakan Separatis, tetapi secara politis kemudian dirubah, ini untuk mengecilkan strata mereka. Jadi penanganannya oleh Polri bukan oleh TNI. Bukan sebuah gerakan yang menganggu stabilitas dan keamanan negara. Penyebutan ini sebenarnya juga karena tekanan HAM Internasional.

Lalu apa target asing bermain di Papua ini? Tentu saja ending yang diharapkan akan seperti Timor Leste, terpisah dari Indonesia. Negara baru yang labil ini nantinya akan mudah dikuasai, apalagi pejabatnya banyak yang PMP, akan mudah dikuasai dan disetir. Pernah dengar joke tentang PMP ini? Papua Makan Papua.

Lalu bagaimana dengan Benny Wenda? Mantan narapidana kelahiran Lembah Baliem yang kabur dari LP kemudian melanglang ke negeri jauh ini, sudah lama memang mencari panggung di dunia internasional. Tapi celakanya, manuver-manuver Benny Wenda ini tidak diakui oleh masyarakat di Papua. Saya pun, tidak memasukkan Benny Wenda dalam hitungan perjuangan masyarakat Papua. Benny Wenda ini sebatas kriminal saja, yang mengacau dan nyari panggung dengan ditunggangi kepentingan ekonomi oleh asing. Jauh sekali dari rasa hormat saya kepada Almarhum Theys Hiyo Eluai, Almarhum haji Aipon Aso, Komandan Kelly Kwalik, dan beberapa pejuang yang berjuang di tanah kelahirannya. Saya tidak tau, anak ini ditawari apa oleh para pemegang saham utama tambang emas untuk mengacau.

Drama yang dilakukan Benny Wenda ini terjadi lagi pada tanggal 1 Desember 2020. Benny membentuk Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat atau The United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) di Inggris sana, dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Presidennya. Berbeda dengan Soekarno-Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, di Jakarta, didukung rakyat dan tentara. Benny mendeklarasikan pemerintahannya di negeri nun jauh dari daratan Papua.

Lucunya, Presiden baru ini, baru sehari mengangkat dirinya sendiri, sudah ditolak oleh rakyatnya. Hari ini, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat -- Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), langsung menyatakan mosi tidak percaya kepada Benny Wenda. Ini bukan kali pertama. Sebelumnya ketika Benny Wenda membuat pernyataan sudah menyatukan beberapa kelompok organisasi pejuang di Papua, esok harinya pernyataan ini langsung dibantah oleh kedua kelompok yang di klaim oleh Benny.

Bahkan Kepala Staf Umum TPNPB-OPM, Mayjen Terryanus Satto membuat steatmen, yang seperti dugaan saya, Benny Wenda mempunyai kepentingan dengan asing, dan merusak persatuan perjuangan. Lebih tegas OPM dengan cerdas mengatakan, menurut hukum internasional, WNA tidak bisa menjadi presiden. Benny Wenda tercatat memegang paspor Inggris dan menjadi warga negara Inggris. Lalu Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat atau The United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) ini membentuk pemerintahan dan menunjuk presiden negara mana? Secara De Facto dan De Jure, jelas ini tidak sah. Warga negara Inggris membentuk negara di Indonesia, tapi pemerintahannya dibentuk di Inggris, dan lucunya setelah terbentuk ditolak rakyatnya sendiri. Selain tidak diakui oleh masyarakat Papua, dunia Internasional pun-kecuali Vanuatu mungkin-tidak ada yang mengakui pemerintahan bentukan Benny Wenda ini.

Orang yang demikian ini tidak layak jadi Presiden, lebih layak disebut bisnismen, atau pencari kesempatan. Apa namanya? Oportunis? Ya mau kemana lagi setelah kabur dari penjara dan tidak bisa atau tidak berani berjuang di lapangan Papua model Kelly Kwalik? Kabur dan minta suaka negara lain sambil menunggu ada yang membiayai. Menunggu dimanfaatkan para pemegang saham tambang emas.

Tapi mari berandai-andai dan berhitung. Walaupun saya tidak berharap demikian. Papua lepas, apa yang akan terjadi? Papua akan menjadi negara gagal, dan lebih tragis daripada Timor Leste nasibnya. Sudah banyak negara yang yang siap mencaplok "Bumi Cenderawasih" ini. Nomer satu tentu saja Amerika Serikat, yang sudah mencengkeramkan kukunya sejak lama di Papua lewat Freeport. Justru saya tidak mendukung Papua lepas dari Indonesia ini karena saya terlanjur dekat dengan Papua, dan kasihan dengan mereka. Sekarang saja, musuh mereka ini sebenarnya adalah para pejabat PMP itu, yang berebut dana Otsus untuk kantongnya sendiri dan klannya. Bagaimana jika mereka lepas dari Indonesia? Para oknum pejabat PMP ini akan menjadi-jadi.

Sekarang saja, para pejabat asli yang tidak kebagian kue, akan menuntut pemekaran suatu daerah, supaya terbentuk pemerintahan daerah baru. Jadi ada bagian yang bisa dinikmati. Namun pemekaran daerah ini, tidak hanya ide dari oknum pejabat asli yang lapar, juga inisiatif Pemerintah Indonesia untuk memecah konsentrasi. Sekarang saja Papua sudah dipecah menjadi dua Provinsi, Papua dan Papua Barat. Provinsi Papua Barat, relatif lebih kondusif dibanding Provinsi Papua jika terkait gerakan atau issue kemerdekaan. Umumnya, yang bergejolak adalah daerah pegunungan.

Lalu bagaimana solusinya? Saya sendiri tidak tau, tetap pada konsep Papua Merdeka, tetapi tetap menjadi bagian dari NKRI. Bagaimana konsepnya? Coba kita serahkan sama teman-teman di Senayan sana. Juga libatkan Gereja Indonesia, dan kurangi peran misionaris asing di Papua, terutama misionaris Kristen. Toh kita punya banyak misionaris yang merupakan putera asli Indonesia.

Kuncinya simple saja, kesejahteraan. Jika Pemerintah mampu mensejahterakan rakyat Papua, maka siapapun dan dimanapun mendeklarasikan negara Papua ya akan dianggap angin lalu. Peran mensejahterakan rakyat ini, kadang diambil alih oleh misionaris asing, jadi mereka akan lebih didengar oleh rakyat daripada pemerintah. Juga PR nya, memberantas oknum Pejabat PMP yang membuat kesejahteraan rakyat mandeg di kantong pribadi mereka.

Penulis : ahmad fauzi mahasiswa STISIP WIDURI

VIDEO PILIHAN