Mohon tunggu...
Zayn Al Muttaqien
Zayn Al Muttaqien Mohon Tunggu... Penulis

Seorang umat biasa yang ingin menjadi MUTTAQIEN sesuai namanya, dan menjadi MUSLIM sesuai agamanya.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Penulisan "Insya Allah" dan "In Sha Allah" yang Membuat Masyaallah

5 Juni 2019   07:54 Diperbarui: 5 Juni 2019   18:32 0 6 1 Mohon Tunggu...
Penulisan "Insya Allah" dan "In Sha Allah" yang Membuat Masyaallah
Source: The New York Times 

Oleh Zayn Al Muttaqien

Perdebatan dua orang teman yang meributkan penulisan Insya Allah dan In Sha Allah tak juga berakhir. Padahal, kedua-duanya tidak memiliki referensi penulisan; apa itu transliterasi; alih aksara (penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain - KBBI) ataupun kata-kata serapan (kata yang diserap dari bahasa lain berdasarkan kaidah bahasa penerima - KBBI).

Hal ini diperparah dengan membawa-bawa gambar Dr. Zakir Naik, seorang penceramah kondang, yang (katanya)  melarang menulis Insya Allah dan menyerukan menulis In Sha Allah, namun apakah itu benar dari Dr. Zakir Naik?

Melalui twitter Zakir Naik Fans (@zakirnaikfans), dijelaskan, "Zakir Naik never said anything on how to spell InshaAllah ... Please don't spread wrong information without any Official confirmation."

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) dua menteri yakni Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Transliterasi Arab-Latin, penulisan syin (sin besar) adalah "sy". Karena "insyaallah" penulisannya terdiri dari alif, nunsyin, dan Allah, maka ditulislah "insya" dan "Allah".

Sedangkan, yang menulis syin (sin besar) ditulis dengan konsonan rangkap "sh", adalah transliterasi Arab-Inggris. Sehingga jadilah In Sha Allah.

Jadi, mau mengacu ke mana, nih; ke transliterasi Arab-Latin atau Arab-Inggris?

Di Indonesia (latin) penulisan yang benar adalah 'insya'. Namun juga, bila ditulis 'Insya Allah' (kata Insya dan Allah dipisah) itu pun salah. Sebabnya, kata 'insya' yang disandingkan dengan kata 'Allah' sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'insyaallah' (penulisan Insya dan Allah tidak dipisah).

Hanya saja, ketika menjadikan salah satu fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, tak perlulah diperdebatkan. Sebab intinya, tujuan dari yang menulis bisa dimengerti oleh yang membaca tulisan, sehingga penulisan Insya Allah dan In Sha Allah tidak lagi menjadi masyaallah. Toh, pesan yang ingin disampaikan maksudnya mah sama ... "jika Allah mengizinkan".