Marweeya Sudirman
Marweeya Sudirman

pemungut kalam tanpa makna lebur dalam harmoni

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Srikhandi (Sira Khanaya Andhini)

11 Februari 2019   11:20 Diperbarui: 11 Februari 2019   11:30 28 0 0

Seorang perempuan muda Berlari dengan buru-buru membawa diktat yang belum rampung menjadi satu kelompok jilidan. Beberapa kali ia benahi hijab besarnya yang berpadu dengan kulit sawo matangnya, "cukup manis" kata beberapa orang yang sering bertemu gadis itu. Langkah kakinya berhenti diruangan bercat biru berlambang matahari yang memancarkan duabelas sinar yang mengarah ke segala penjuru dengan sinarnya yang putih bersih bercahaya. Di tengah-tengah matahari terdapat tulisan dengan huruf Arab disertai nama lembaga "AISYAHKU" dengan nafas turun naik sambil menahan kegerahan sebab hijab besarnya.

1 jam kemudian ia keluar usai ber-orasi tentang nyai Ahmad Dahlan, ia diantar oleh beberapa ibu-ibu berhijab syar'I warna warni yang sedap dipandang.

"ning Reima, sukron katsiron fii waqtiha". Ucap ibu-ibu sembari menyalimi perempuan didepannya bebarengan dengan amplop digenggamannya.

"'afwan bun Ami, jangan panggil ninglah bukan ning lho saya". Jawab perempuan berkulit sawo matang bernama Reima.

"hehehe". Jawab si ibu terkekeh, yang diketahui bernama Sulami. "wong putrinya tokoh NU kon ngisi AISYAH an kok iso, kan lucu".

"wahahah mpun bun, dalem pamit rumiyin badhe MAKESTA riyin, Assalamu'alaikum bun, tetap jadi rahasia kita nggih". Kata Gadis muda bernama Reima tersebut sambil berjalan cepat menuju parkiran.

"Wa'alaikumussalam". Jawab bunda sulami sambil bergeleng-geleng heran dengan kelincahan Reima, padahal gadis didepannya sudah menghilang dari pandangannya.

Dia lah Srikandhi, Sira Reima Andini perempuan keturunan Sunda dan Jawa.  Dengan  wajah oval berkulit sawo matang ala perempuan jawa nan manis dan hidung mancung dengan keayu an asli gadis sunda membuatnya mempesona. Kakinya yang jenjang dan badan langsingnya  bak srikhandi nan gagah dalam cerita pewayangan, sesuai singkatan namanya yang ia buat sendiri. Srikandhi yang satu ini bukan titisan dewi amba yang memiliki misi membunuh bima dengan panahnya dalam pertempuran di Kurukshetra. Srikandhi yang satu ini merupakan putri ibu Umami Az Zahra dan bapak Bayu Abdullah Hanan salah satu tokoh NU yang cukup dikenal dikota Jawa Timur bagian paling Timur. Sedangkan ibunya ketua fatayat cabang yang terkenal keistiqamahannya dalam berbagai kegiatan ke NU an.

"dimana? Udah sambutan nih". Kata suara tanpa rupa diseberang.

"otw ini,,,, 1 menit nyampek tenang bang". Jawab reima sambil mematikan telpon dan mulai menyetir motornya.

 

Siapa datang menantangmu

Kan binasa dibawah dulimu

Begitulah akhir lagu kebanggaan Islam Nusantara dinyanyikan dengan birama yang dipimpin gerakan tangan Reima.

"darimana? Sudah tak bilang to. Datang jam 7 buat jadi pengatur roda acara, lah ini jam 9 baru dateng."omel laki-laki gondrong dengan kumis tipis dan satu lesung pipi dibagian kanan yang mempesona bila diinginkan cekungnya.

"hehehe... anu bang, wau diktatnya dicek gus Widda agak lama.  Nunggu beliau dhuha nan". Jawab Reima sembari mlengos kanan kiri.

"entut.... Ra mungkin.." Timpal laki-laki berlesung pipi tadi.

"lhoh estu lho bang Zee... kata asdosnya tasik medal shalat tadi... ".

"geg akhir e kamu dijak ngobrol ngalor ngidul ngono?".

"lha leres".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4