Mohon tunggu...
Zaenal Abidin
Zaenal Abidin Mohon Tunggu... HMI CABANG SALATIGA

YAKIN USAHA SAMPAI

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Seminar Nasional HMI Cabang Salatiga "Menyatu dalam Kesatuan Menuju Salatiga Harmony"

5 Desember 2019   01:28 Diperbarui: 5 Desember 2019   01:34 0 0 0 Mohon Tunggu...
Seminar Nasional HMI Cabang Salatiga "Menyatu dalam Kesatuan Menuju Salatiga Harmony"
foto arsip kegiatan

Salatiga 'Miniatur lndonesia' julukan yang sangat pantas diberikan untuk  kota yang terbilang kecil mempunyai  luas kurang lebih sekitar 5 hektar  berbagai  ragam corak ada didalamya, mulai dari ragam etnis, budaya, sampai keberagaman agama. 

Keberagaman yang sangat  luar biasa itulah sekitar 30 etnis,  30.000 lebih mahasiswa dari seluruh Indonesia hidup dikota salatiga dan menjadikan Salatiga sebagai kota pendidikan, olahraga,  dan toleransi. Patut berbangga sebagai warga salatiga, Maka sangat menarik apabila kita dapat menyelami lebih dalam tentang kota kecil nan kaya ini. 

Perbedaan ciri khas secara alamiah disetiap ikatan budaya yang cenderung menginginkan hidup dengan caranya sendiri , ikatan yang memiliki hak untuk hidup dan berkembang, masyarakat modern dan terbuka meniscayakan adanya interaksi diantara manusia dengan latar belakang yang berbeda. 

Seminar yang dihadiri pembicara dari beberapa elemen yaitu Akademisi, tokoh agama. Akademisi diwakili oleh Kastolani, Ph. D. dari tokoh agama yaitu K.H Noor Rofiq dan Pendeta Daniel H. Iswanto, M. Th. Berlangsung dengan khidmat dan penuh antusias. Seminar yang dihadiri oleh 190-an mahasiswa dan beberapa undangan elemen masyarakat, perwakilan BEM, OKP dan Organisasi Kemasyarakatan yang ada dikota Salatiga.

Pendidikan multikulturalisme adalah jalan untuk menumbuhkan semangat persatuan dibalik keberagaman Indonesia. "Tindakan prokulturalisme adalah tanggung jawab bersama untuk menghindari adanya radikalisme dan terorisme untuk mewujudkan masyarakat yang berlandaskan Bhineka Tunggal lka" ucap Noor Rofiq selaku ketua FKUB Kota Salatiga. Selama bertahun-tahun salatiga menempati peringkat  teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia, ini pastinya suatu hal yang patut dibanggakan karena  dapat bertahan sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. 

Akan tetapi ditahun 2018 Salatiga menempati peringkat kedua sebagai kota toleran tingkat nasional, tentu saja ini merupakan prestasi yang tidak kalah luar biasa mengingat banyaknya konflik yang terjadi di pulau Jawa apabila kita bandingkan dengan kota Singkawang  Kalimantan yang menempati peringkat pertama. Ketika kita lihat kondisinya sangat berbeda dengan Jawa. "Salatiga secara alamiah kota toleran tanpa harus 'diapa apakan' akan tetap toleransi masyarakatnya "ucap pendeta  Daniel namun prestasi ini  bukan hanya sekedar dorongan alamiah masyarakat namun juga akibat upaya pemerintah dan masyarakat yang ikut berkontribusi mewujudkan Salatiga sebagai kota toleran. Namun prestasi  ini sekaligus menjadi sebuah tamparan mengapa Salatiga belum bisa meraih peringkat pertama sebagai paling kota toleran, memang menjadi peringkat pertama bukan prioritas akan tetapi yang terpenting adalah Salatiga benar-benar menjadi kota yang toleran.

Tidak hanya itu, FKUB (forum kerukunan umat beragama) juga memiliki peranan yang sangat  penting dalam mewujudkan Salatiga sebagai kota toleran, berbagai kegiatan seperti diadakannya donor darah lintas agama,  bakti sosial bersama JFF, karnaval lintas agama, tanam pohon kerukunan, sosialiasi kebahasaan, kerukunan, dan toleransi serta banyak kegiatan lainya. 

ditambah lagi dengan adanya kebijakan pemerintah yaitu Salatiga SMART, yang merupakan loncatan luar biasa untuk bisa bergerak maju menuju kota damai sejuk, dan toleran Dengan diadakannya Seminar ini diharapkan menjadi reminder kepada masyarakat terutama warga Salatiga agar ikut berkontribusi dalam  mewujudkan masyarakat yang toleran tanpa ada diskriminasi.' Dengan adanya kebersamaan kita bisa bersatu' ucap Daniel.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x