Mohon tunggu...
zaldy chan
zaldy chan Mohon Tunggu... Administrasi - ASN (Apapun Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Perbincangan Kedai Kopi, dari Utang Luar Negeri hingga "Putus Hubungan karena Uang"

23 Juni 2020   21:49 Diperbarui: 23 Juni 2020   23:58 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi sertifikat pernikahan. Terkadang permasalahan keuangan pemicu pertengkaran bahkan perceraian (sumber gambar: pixabay.com)

Hampir dua bulan, sejak sebelum Ramadan hingga usai lebaran, aku tak lagi menikmati pagi di kedai kopi. Berbincang ringan tanpa arah, dengan berbagai tema ditemani segelas kopi dan aneka gorengan, menjadi salah satu hal yang dirindukan. Nah, pagi tadi rinduku terobati.

Awalnya, perbincangan hanya saling bertukar kabar, karena lama tak bersua. Kemudian pindah tema tentang kehidupan yang mesti dijalani, beserta kendala dan keterbatasan yang dihadapi. Eits, para lelaki di kedai kopi, juga ngegosip, kan? Anggap saja gosip ala lelaki!

Perlahan, pembicaraan beralih pada keluhan kebutuhan sekolah anak, karena sebentar lagi akan masuk tahun ajaran baru, juga kisah bercampur kesah tentang urusan asap dapur. Namun, tema ini selesai dengan cepat, ketika semua mengalami hal yang sama.

Cerita bergeser lagi tentang suhu politik sebelum Pilkada, kebijakan petinggi negara hingga utang luar negeri. Nah, ini baru tema yang seru! Afiliasi politik dan tingkat pendidikan plus ajang pamer pengetahuan mulai ditampilkan. Apalagi berhubungan dengan kata "utang"! Haha...

Percayalah! Alur kisah dalam pembicaraan di kedai kopi, bukan ditentukan oleh urusan status sosial, ekonomi, jabatan atau seperangkat kedudukan seseorang. Tetapi, oleh pemilik suara terkeras dan kegigihan urusan tarik urat leher!

Ketika ada ujaran, jika terlalu banyak utang luar negeri, bagaimana mungkin negara bisa mandiri? Alur pembicaraan menjadi "kusut"! Bertambah "semrawut", ketika ada celetukan, gegara banyak utang ada tetangganya yang ingin bercerai! Tuh, ngegosip, kan?

"Gegara utang, bisa begitu?"

"Parah, kan?"

"Iya!"

"Ada yang bilang, itu disebut Toxic Financialship, Bang!"

Aku terdiam. Kukira pembicaraan dengan menggunakan "huruf-huruf kusut" di atas, adalah hasil semadi pelanggan kedai kopi, gegara pandemi covid 19. Berdiam di rumah selama pandemi, membuat teman-temanku semakin canggih! Hihi...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun