Zahid Paningrome
Zahid Paningrome

Creative Writer zahidpaningrome.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Fragmen 3 Langkah

19 Mei 2017   21:06 Diperbarui: 19 Mei 2017   21:08 83 0 0

Ruangan itu serba abu, minimalis dengan dekorasi yang sederhana. Bohlam di atap ruangan ditata secara acak, membentuk bayangan sebuah kelopak bunga yang memantul di lantai cokelat yang mengkilap. Aku baru saja datang, pintu kaca yang kubuka berdecit, suaranya mengganggu telinga, membuat beberapa orang menatapku singkat. Ada yang bilang, ruangan itu adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk kota yang makin gila. Aku duduk di sebuah kursi bar dengan besi sebagai penyangga bantalan kayu tanpa sandaran.

Tempat itu dibagi menjadi empat bagian. Aku berada di ruangan pertama, ruangan yang letaknya paling depan, berdekatan dengan pintu masuk. Ruangan untuk orang-orang yang datang sendiri, terlihat dari kursi-kursi solo yang ditata sejajar di depan bar. Ada dinding pembatas kaca yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan lainnya. Ada meja dan kursi panjang yang menghiasi ruangan kedua, tempat yang biasa dipakai para eksekutif muda untuk meeting bersama klien-klien mereka atau para mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah.

Ruangan ketiga ada di lantai dua. Tak ada kursi disana, hanya ada meja-meja dan karpet untuk pengunjung yang ingin duduk bersila atau selonjor alias tanpa kursi. Ruangan itu biasa dipakai untuk arisan keluarga, atau tempat berkumpulnya berbagai komunitas di kota ini, ruangan paling luas di antara yang lainnya. Ruangan keempat ada di lantai tiga, untuk berada disana kita perlu menaiki tangga melingkar dengan 23 anak tangga. Ruangan terbuka dengan beberapa meja berpayung untuk melindungi pengunjung dari panas matahari atau hujan. Biasanya hanya para perokok yang ada di lantai tiga. Menghabiskan rokoknya lalu kembali turun.

“Minum apa, Mas?” seorang barista yang sedang mengelap cangkir kopi menawariku.

Belum aku menjawabnya pintu terbuka, suara decitannya masih menggangu telinga. Aku melihat samar-samar karena pantulan sinar matahari mengganggu pandanganku. Seorang wanita memakai rok hitam selutut dan blus putih tanpa lengan membawa tas hitam kecil berjalan mendekat lalu berdiri di sampingku, berbicara pada barista yang sama.

“Mas biasa, ya,” kata wanita itu. Barista menjawabnya santai, seperti seorang yang sudah saling kenal. Wanita itu kemudian meninggalkan bar, sempat tersenyum menatapku. Aku melihatnya berlalu, berjalan melewati ruangan kedua, Kulitnya yang putih terlihat dari lubang berbentuk oval di bawah leher pada blus putih yang dipakainya. Wanita itu menuju ke lantai dua.

“Kenapa, Mas?” tanya barista itu sembari sibuk dengan mesin kopinya.

“Tadi siapa, Mas?” tanyaku.

“Oh… Saya sih nggak tahu namanya, tapi dia sering kesini sendiri. Suka duduk di lantai tiga. Yaa… Jam-jam segini ini dia kesininya, dua atau tiga jam lagi baru pulang.”

“Ohgitu…” kataku mengangguk pelan.

“Masnya jadi mau minum apa?”

“Samain aja deh, kayak mbaknya tadi.”

“Oke Siap!”

Rambut wanita itu dikuncir, hidungnya mancung, matanya kecokelatan, alisnya tak digambar seperti kebanyakan wanita saat ini. Sekilas aku melihat tak ada make up yang dipakai selain gincu merah yang menghiasi bibir tipisnya. Wajahnya mengingatkanku pada Anna Hathaway dalam film One Day.

“Ini, Mas minumnya,” barista itu memberikan secangkir kopi.

“Itu biar saya yang bawa, ya. Saya juga mau sekalian ke atas.”

“Ohgitu? Oke. Silakan.”

Aku membawa nampan bundar dengan dua cangkir di atasnya, lalu bergegas menuju ke lantai tiga. Wajahku terlihat dari air kopi di dalam cangkir, seperti sebuah cermin. Aku sampai di lantai tiga, melihat wanita itu kebingungan, mungkin karena aku yang membawa pesanannya. Wanita itu mengapit sebatang rokok di sela-sela jarinya.

“Loh, kamu yang duduk di bawah tadi, kan?” tanya wanita itu, melihatku meletakkan minuman di meja.

“Kenalin… Abraham,” kataku tersenyum, mengulurkan tangan.

“Renata,” wanita itu menjabat tanganku setelah menaruh batang rokok pada asbak kayu. Aku melihat api pembakaran pada rokok itu setelah melepaskan jabat tangannya.

“Kenapa? Baru kali ini lihat cewe ngerokok?”

“Ah enggak,” kataku menggeleng pelan.

“Rokok?” Renata mengangkat bungkus rokoknya, menawariku.

“Perokok pasif,” senyumku, menolak.

“Ah, I see… Bibirmu masih bersih,” Renata mengangguk pelan, menaruh kembali bungkus rokoknya.

“Baru kali ini aku lihat cewe pake rokok kretek.”

“Otentik,” Renata mengangkat kedua alisnya, menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

Renata melepas hellsnya, kedua kakinya bersandar pada penyangga meja. Aku melihatnya tampak tenang, sesekali memainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Aku mencoba santai, memulai pembicaraan dan mencairkan suasana.

“Eh, ini nggak diracuni, kan?” Renata mengangkat cangkirnya, menatapku curiga, lalu meminumnya. Menunggu beberapa saat.

“Aman,” senyum renata menaruh cangkirnya.

“Aku bukan Jessica,” kataku membuat renata terkekeh.

“So, Abraham. Apa yang membawamu kemari?”

“Well… Aku bisa pergi kalo keberadaanku tidak diinginkan,” kataku setengah berdiri.

“No… Jangan buru-buru,” Renata menahanku.

“Oke,” senyumku, kembali duduk. Renata menghisap rokoknya hingga habis, lalu mematikannya—menekan di asbak.

“Catet nomormu,” Renata memberikan ponselnya.

“Ha? Harusnya ini jadi langkah ketiga.”

“Enggak juga, kita bisa taruh ini di langkah pertama. Sebelum kita masuk ke langkah berikutnya. Aku nggak mau kamu pergi tanpa meninggalkan apa-apa,” Aku mencatat nomorku, lalu mengembalikkan ponselnya. Beberapa saat kemudian ponselku berdering.

“Itu aku,” kata Renata saat aku membuka ponselku.

“Oke, saved,” senyumku. Renata menatapku, kami saling tatap untuk beberapa saat. Lalu aku meminum kopi untuk menghilangkan kecanggungan.

Ada yang tak biasa dari wanita yang duduk di depanku. Dia dengan mudahnya memikat hatiku dalam hitungan singkat. Tak perlu banyak hal yang dilakukan. Renata hanya melakukan satu hal yang tak dilakukan kebanyakan wanita saat ini. Renata berani memulai, dia percaya bahwa kami ada dalam satu meja yang sama bukan karena kebetulan, tapi karena mekanisme alam yang sudah ditentukan dari awal terbentuknya kehidpuan di dunia. Hal yang tak pernah disadari banyak orang terutama wanita.

Dalam sebuah pertemuan seperti ini, biasanya aku membagi dalam tiga fragmen. Langkah pertama, berkenalan. Langkah kedua, saling mengenal. Langkah ketiga, adalah langkah yang bercabang. Ada banyak langkah lagi disana, ada banyak hal yang harus dilakukan sebelum akhir. Biasanya orang-orang putus asa di langkah ketiga ini. Langkah ketiga adalah keberadaan. Siapa berada dimana, siapa sebagai apa, dan siapa menjadi apa.

“Kebetulan aku sedang riset untuk tulisan terbaruku. Kamu bisa bantu?”

“Oh, kamu penulis? Boleh-boleh. Apa yang bisa aku bantu?” ujar Renata, terkejut.

“Aku mau tanya. Kamu cuma perlu jawab jujur, jangan dibuat-buat.”

“Oke,” Renata mengambil batang rokok, lalu menyalakannya dengan korek gas berwarna putih.

“Kenapa kamu harus besikap seperti sekarang sebagai seorang wanita?”

“Hmm… Pertanyaanmu… Well… Banyak dari kita yang merasa nggak sakit, padahal semua manusia adalah makhluk yang kesakitan dan butuh obat… Aku tahu arah pertanyaanmu kemana. Dan sebenarnya pun, aku nggak perlu jawab kamu pasti tahu jawabanku.”

“Nggak sepenuhnya. Membaca pikiran orang nggak diartikan sebagai membaca otak manusia. Kita membaca gerak-geriknya, nada bicaranya, mimik mukanya, raut wajahnya, intonasinya, caranya berbicara, caranya menatap… Dan aku melihat, kamu baru saja mengalami hal yang nggak mengenakkan buatmu.”

“Aku melihat itu juga lewat matamu,” Renata menghisap rokoknya.

“Well… Pertemuan kita sudah ada yang mengatur. Sekarang terserah kita, mau saling terbuka atau tetap tertutup—menahan diri,” kataku, meyakinkan Renata.

“Menurutku, orang yang patah hati persis seperti orang yang fisiknya sakit. Butuh obat untuk menyenmbuhkan sakit hatinya… Obatnya orang lain. Sialnya, banyak orang menyebut itu pelampiasan, padahal sebenarnya bukan. Kita secara alamiah bakal mendekat ke orang lain untuk bisa mengobati perasaan itu. Makanya ketika kita tahu bahwa orang itu dirasa nggak bisa mengobati kita, kita cenderung mundur perlahan, terus mengulangi sampai kita ketemu sama orang yang bisa mengobati kita.”

“Dan yang bisa membuat kita kembali nyaman,” kataku menambahi.

“Betul,” Renata mengangguk.

“Menurutmu, kenyamanan itu datang sendiri atau diciptakan?”

“Diciptakan, dong,” kata Renata setelah menghisap rokoknya.

“Oke, kalo kenyamanan diciptakan, berarti nggak perlu dong kita punya tipe cewek atau cowok yang pantes jadi pasangan kita. Toh, rasa nyaman itu kan yang menciptakan dua orang yang menjalin hubungan.”

“Aku kurang setuju. Tiap orang punya perbedaan pilihan dalam hal apapun. Ya… Karena hidup ini permainan pilihan, kita tetap perlu memilih siapa yang memang cocok untuk kita.”

“Oke, kalo tipe cowomu?”

“Baik, pastinya. Fisik relatif, lah. Yang paling penting mau berkomitmen… Kamu?”

“Aku? Aku suka perempuan yang terbuka hati dan pikirannya.”

“Maksudnya?” tanya Renata, penasaran. Jari-jarinya yang mengapit batang rokok berada di samping telinga.

“Terbuka hatinya, dia bisa bedain mana yang baik dan buruk. Mana yang harus dia ladeni dan enggak. Intinya dia tahu, dia harus apa untuk dirinya sendiri, lingkungannya dan orang lain… Terbuka pikirannya, dia nafsu sama ilmu pengetahuan sama hal-hal baru yang belum pernah dia pelajari, itu yang bisa bikin jadi asik ngobrol, lalu kenyamanan datang setelahnya.”

“Fisik?” tanya Renata, memastikan.

“Aku cari pasangan hidup, bukan pelacur yang sekali pakai atau artefak langka buat dipajang. Kita nggak boleh mendiskreditkan sesuatu yang nggak bisa diubah manusia. Kasihan orang-orang yang terlahir dengan kekurangan di tubuhnya.”

“Tapi kamu selalu berdoa untuk yang terbaik buat kamu, kan?”

“Itu pasti,” senyumku, lalu meminum kopi.

“Aku mau tanya… Dalam masalah cinta, apa yang nggak mengenakkan buatmu?” tanya Renata setelah aku selesai meminum kopi.

“Banyak orang meminta dicintai tapi nggak mau mencintai. Banyak orang mengeluh karena cintanya tak terbalas, padahal disaat bersamaan ada orang lain yang mencintainya tanpa berharap dicintai. Seharusnya kita belajar untuk mencintai orang yang mencintai kita, bukan sebaliknya. Cinta itu perkara proses bertumbuh. Harus tumbuh bareng-bareng, nggak bisa salah satunya, jadinya pincang.”

“Pengalaman banget, yaa?” Renata terkekeh. Aku setengah tertawa.

“Itu yang akhirnya bikin banyak orang memilih menunggu, entah sampai kapan yang akhirnya dilupakan dan dianggap nggak ada. Nggak ada yang lebih menyakitkan dari terlupakan.”

“Aku paham maksudmu, aku juga pernah ngerasain, dan yang kamu maksud itu, memang lebih sering dilakukan cewe-cewe yang nggak pernah mau dewasa dalam menjalin hubungan,” Renata menambahi, aku mengangguk.

“Kalo kamu?” tanyaku.

“Aku mengutip omongan orang lain boleh?”

“Boleh dong, barusan juga ada omongan orang yang aku kutip,” kataku menatap Renata.

“Tidak ada yang menyakitkan daripada mencintai seseorang yang bahkan nggak pernah menganggap kita ada, padahal kita selalu ada di sampingya.”

“Pengalaman banget, yaa?” balasku terkekeh. Renata setengah tertawa.

“Aku mau tanya lagi, tapi kamu harus objektif, yaa.”

“Kok jadi kamu, sih yang banyak tanya?” keluhku.

“Boleh, nggak?” Renata menggodaku.

“Fine. Aku selalu objektif melihat segala sesuatu.”

“Oke. Menurutmu, kenapa cewe lebih sering dicauhkan? Lebih sering disia-siain?”

“Kenapa? Hmm… Karena banyak pria cenderung meninggalkan sesuatu setelah mendapatkan apa yang dia mau. Dia jadi nggak ada ikatan lagi… Jadi jangan buru-buru memberikan sesuatu yang diinginkan pria, kecuali sudah ada komitmen, kecuali kalo keduanya nggak mempermasalahkan, dan sama-sama mau.”

“Cowo gampang bosen, yaa?”

“Nah, itu ungkapan yang salah. Sebetulnya, justru cewe yang cepet bosen. Iya, kan?”

“Iya sih, aku ngerasainnya gitu,” Renata menghisap rokoknya, lalu mematikannya.

“Makanya, cari pasangan yang seimbang.”

“Yaa, I know… Kita seimbang, btw,” Renata menatapku, aku tersenyum membalasnya.

Biasanya, langkah kedua bisa dilewati saat keduanya sudah saling terbuka hati dan pikirannya, tak memberi batas apa pun pada semua kemungkinan yang masuk kedunianya. Renata dan Abraham sama-sama membiarkan satu sama lain masuk, untuk bisa mengobati rasa sakitnya. Perkara apa yang harus dilakukan selanjutnya tak perlu dipikirkan sendiri, karena cinta adalah proses bertumbuh.

Banyak orang tidak bisa membedakan antara cinta dan jatuh cinta, keduanya berbeda. Apa yang dirasakan Renata dan Abraham bukanlah cinta, mereka baru merasakan jatuh cinta, ketika keduanya saling menerima, barulah cinta tumbuh setelahnya. Perasaan yang datang sebelum jatuh cinta adalah rasa penasaran. Rasa itu keluar secara alamiah yang pelan-pelan bertanya pada diri sendiri bagaimana kelanjutannya. Tapi, banyak orang yang tidak bisa membedakan mana penasaran mana jatuh cinta. Maklum, kadang cinta jatuh pada orang-orang bodoh.

“Well… Bisa dibilang kita sudah ada di langkah ketiga. Kita mau apa?” tanyaku, memberanikan diri.

“Baru kali ini, aku ketemu orang gila kayak kamu,” Renata menatapku tajam.

“Sama, baru kali ini aku ketemu perempuan kayak kamu.”

“Kamu perlu tahu, aku capek sama perpisahan. Percuma sekuat tenaga menjaga hubungan tapi akhirnya kandas, pisah, dikhianati,” keluh Renata.

“Sama, aku juga capek.”

“Ih serius, ah. Jangan bercanda.”

“Aku juga serius… Kamu tahu nggak? Ada hubungan yang nggak akan berakhir perpisahan.”

“Aku tahu itu,” Renata tersenyum.

“Jadi?” tanyaku menatap Renata, wajahku mendekat, persis seperti seorang yang penasaran.

“Kita bangun fragmen ketiga kita bareng-bareng. Tutup semua percabangannya, bikin jadi satu jalur, dimana cuma ada kita yang ada di situ… Tapi tanpa ikatan, karena ikatan justru membatasi kita. Deal?” wajah Renata ikut mendekat, aku hanya mengangguk.

Kening dan ujung hidung kami menempel, aku bisa melihat Renata yang tersenyum, melihat matanya berkedip berulang kali, merasakan debar jantungnya berdebar lebih cepat, detik berikutnya bibir kami bertemu, lembut tanpa tergesa-gesa.

-----