Mohon tunggu...
Yusran Pare
Yusran Pare Mohon Tunggu... Freelancer - Orang bebas

LAHIR di Sumedang, Jawa Barat 5 Juli. Sedang belajar membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Partai Pecah Belah

21 April 2014   02:33 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:25 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

SUARA para pemilih dari seluruh tanah air masih dalam proses penghitungan, namun hiruk-pikuk mulai merambat di tubuh parta-partai peserta pemilu. Koalisi menjadi kata yang paling sering dilontarkan karena para petinggi partai itu sadar betul suara yang mereka peroleh tidak cukup mengantarnya untuk mengajukan sendiri calon presiden.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) --yang sudah mengusung Jokowi sebagai calon Presiden -- menurut hasil hitung cepat memperoleh suara terbanyak namun belum cukup mengajukan calon presiden, segera menggandeng Partai Nasional Demokrat (Nasdem), pendatang baru dalam pemilu yang memperoleh suara cukup memadai untuk dijadikan mitra dalam pecalonan presiden.

Partai Golongan Karya (Golkar) melirik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sertidaknya, itulah kesan yang ditangkap para analis politik mengomentari pertemuan antara Aburizal Bakrie dengan Mahfud MD di Bali baru-baru ini. Baik Aburizal maupun Mahfud tidak secara eksplisit mengakui bahwa mereka akan bersekutu ke arena pemilihan presiden, namun para pengamat menganggap momentum itu merupakan isyarat atas langkah-langkah politik yang akan dilakukan kedua partai tersebut.

Di sisi lain, partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang didirikan Prabowo Subianto, kali ini memperoleh suara yang cukup signifikan yang menempatkannya pada urutan ketiga di antara partai yang memperoleh suara terbanyak. Hasil hitung cepat menunjukkan partai ini berkemungkinan memperoleh sekitar 11 persen suara pemilih.

Mereka masih perlu tambahan sekitar sembilan persen lagi suara jika ingin mengajukan Prabowo Subianto sebagai presiden. Karena itu tak ada jalan lain kecuali bersekutu dengan partai lain agar syahwat politiknya bisa tersalurkan dengan baik. Jelas bukan kebetulan jika Partai Persatuan Pembangunan (PPP) buru-buru membuka pintu dan menerima dengan tangan terbuka untuk jadi pasangan Gerindra.

Partai bentukan orde baru –untuk menyatukan partai-partai yang semula berasas Islam– ini memperoleh suara yang sangat tidak signifikan jika dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, segera merapat ke Gerindra, disusul “huru-hara” di dalam tubuhnya karena langkah itu tampaknya tidak disetujui semua elit partai berlambang Kabah ini. Apa boleh buat, persekutuan dengan partai lain menyebabkan perpecahan di antara para petingginya.

Banyak pihak menilai, ketua umum partai ini terlalu panik melihat kenyataan bahwa partainya tidak lagi memiliki pemilih yang bisa mengantarnya ke kursi kekuasaan. Tanpa bergandeng dengan partai yang memiliki suara cukup besar, tak mungkin mereka bisa berperan dalam kekuasaan, setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Penyelesaian perbedaan prinsip di antara para petingginya telah membuat partai ini seperti kehilangan marwah demokrasi, karena yang tampak di mata publik adalah sikap otoriter sang ketua yang memecati orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Tidak mustahil perbedaan pandangan itu bukan saja terjadi di kalangan elite kepengurusan di tingkat pusat, melainkan menjalar juga ke daerah.

Kisruh tak berhenti oleh pemecatan pengurus, karena para para petinggi partai ini seberga menggelar rapat pimpinan nasional yang antara lain memutuskan menghentikan sementara Suryadharma Ali dari jabatannya sebagai ketua umum. Suryadharma tidak –tentu saja– tidak hadir dalam rapimnas yang dihelat para penentangnya ini.

Di tengah tingginya gairah politik para petinggi partai itu, muncul pula gagasan poros Indonesia raya, yakni menyekutukan seluruh partai berbasis Islam ke dalm satu wadah koalisi. Dengan demikian mereka bisa leluasa menyodorkan sendiri calon presiden dan wakil presidennya. Amien Rais, sang penggagas poros ini mungkin membayangkan situasinya seperti pemilu 1999, ketika dia berhasil menggalang kekuatan untuk melawan realitas politik yang dimenangkan PDIP.

Saat itu poros ini berhasil mengganjal Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, padahal partai yang dipimpinnyalah yang jadi pemenang. Sebagaimana yang tercatat dalam sejar perpolitikan kita, poros ini pula yang kemudian menggalang kekuatan dan berbagai rekayasa politik untuk membetot Gus Dur –yang mereka naikkan untuk mengganjal Megawati--  dari singgasana kepreseidenan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun