Mohon tunggu...
Yudi Kurniawan
Yudi Kurniawan Mohon Tunggu... Administrasi - Psikolog Klinis, Dosen

Psikolog Klinis | Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang | Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Jateng | HIMPSI Wilayah Jateng | Contact at kurniawan.yudika@gmail.com | Berkicau di @yudikurniawan27 |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sudahkah Kita menjadi Pendengar yang Baik?

6 Maret 2013   07:45 Diperbarui: 24 Juni 2015   17:14 414 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
13625558061315688995

Barangkali Anda sudah mengetahui makna filosofis mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut untuk manusia. Ya, satu mulut dan dua telinga menjadi simbol bahwa manusia seharusnya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Mendengarkan adalah keterampilan sederhana tapi tak sesederhana yang dibayangkan. Ketika menjadi seorang pendengar, kita dituntut untuk menaruh perhatian penuh pada lawan bicara dan mampu merespons dengan tepat.

[caption id="attachment_240357" align="alignright" width="300" caption="sumber gambar: okezone.com "][/caption]

Selain itu, mendengarkan adalah proses meluruhkan ego manusia. Misalnya, kalau tak terbiasa mendengarkan, seorang manajer akan merasa “dikalahkan” ketika ada staf biasa yang memiliki ide brilian dan bisa berdampak besar bagi perusahaan. Ia akan sulit mendengarkan pemaparan yang disampaikan bawahannya. Kenapa? Jelas, karena egonya merasa terusik.

Dean Rusk, mantan sekretaris negara AS di era Presiden John F. Kennedy dan Lyndon B. Johnson, mengatakan “One of the best ways to persuade others is with your ears, by listening to them”. Pendapat ini sesuai dengan prinsip dalam ilmu psikologi komunikasi. Untuk meyakinkan orang lain, kita harus tahu seperti apa karakter dan kemauannya. Untuk mengetahui karakternya, dengarkan mereka. Tak ada manusia yang tak senang ketika ucapannya didengarkan. Orang akan menaruh rasa hormat ketika kita mampu menjadi pendengar yang baik.

Hal pertama yang bisa Anda lakukan untuk menjadi pendengar yang baik adalah fokuskan perhatian pada lawan bicara. Gunakan kontak mata (asal jangan berlebihan) dan jangan sering-sering mengecek ponsel atau melirik jam tangan. Aktivitas itu bisa menjadi simbol bahwa Anda tak nyaman dengan lawan bicara. Buat lawan bicara merasa bahwa fokus Anda memang untuk mereka.

Kedua, hindari memberikan respons yang fokus pada pengalaman pribadi. Seringkali ketika ada orang yang menyampaikan ide atau sekadar curhat, kita menanggapi dengan kalimat yang fokus pada diri sendiri. Misalnya,”Dulu cara yang aku gunakan seperti ini dan berhasil” atau “Oke, tapi sepertinya masalah yang kualami lebih berat daripada masalahmu”. Coba ganti dengan kalimat yang lebih positif, misalnya,”Ide ini orisinal, tapi kita harus mengujinya dulu sebelum diterapkan dalam skala besar.”

Ketiga, biarkan lawan bicara menyelesaikan seluruh ucapannya dahulu. Apakah Anda sependapat atau tidak dengan ucapannya, itu urusan belakangan. Sebagai pendengar, tugas kita adalah mendengarkan dan menyampaikan saran, jika memang diminta. Untuk hal-hal yang bersifat pribadi, terkadang seseorang hanya ingin didengarkan. Cukup didengarkan saja, tanpa kita perlu menyampaikan apa-apa.

Jadi, sudahkah kita menjadi pendengar yang baik?

@yudikurniawan27

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan