Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Jalur Sunyi Pers Mahasiswa

6 Oktober 2021   09:17 Diperbarui: 7 Oktober 2021   08:06 422
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Senyap! Dinamika kehidupan kampus dalam merespon perubahan sosial tercermin melalui corong komunikasi dan publikasi yang termuat dalam ruang pers kampus.

Kemunculan pers kampus dapat dimaknai sebagai sarana dalam memunculkan ide dan gagasan yang diusung oleh kelompok intelektual mahasiswa sebagai wacana alternatif.

Tidak banyak pers mahasiswa yang tersisa serta memiliki dampak secara sosial, batas wilayahnya terlokalisir di tingkat kampus secara internal, menjadi konsumsi terbatas.

Pada kondisi cekaknya pers kampus, kita kehilangan narasi dan literasi oposisi dari kehidupan sosial, karena arus dominan informasi menjadi seolah hak prerogatif kekuasaan.

Situasi serupa dinyatakan secara Fernando Baez, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, 2017, bahwa kehancuran media layaknya buku, sesungguhnya menghilangkan memori kolektif dan keberadaan beragam pemikiran berbeda.

Begitu pula pada seleksi alam pers mahasiswa. Perlu redefinisi tentang pers mahasiswa, karena banyak universitas membangun media komunikasi kehumasan, sebagai alat penjaga citra, jauh dari esensinya mewakili suara publik.

Keberadaan pers mahasiswa, tidak hanya menjadi produk khas dari kaum terpelajar berjuluk mahasiswa, dengan domain bahasan terikat secara keilmuan dalam kebebasan akademik, sekaligus kebebasan mimbar akademik.

Bagian yang terakhir, kebebasan mimbar akademik menyiratkan arti bahwa ada keharusan bagi kaum intelektual untuk menyuarakan ide-ide pencerahan secara eksternal kepada publik.

Cakupan pers mahasiswa tidak melulu berkutat di seputar persoalan akademik dan ilmu an sich, dapat meluaskan pandangannya pada problematika sosial sebagai masalah keseharian.

Dengan begitu, ada relasi integral tidak terpisah antara mahasiswa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dibutuhkan kejernihan dan sensitivitas mahasiwa sebagai agen moral.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun