Mohon tunggu...
Yudha Bantono
Yudha Bantono Mohon Tunggu... Penulis - Pembaca peristiwa

Veterinarian, Art and architecture writer yubantono@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Film Dokumenter Dwitra “Masean's Messages” Rekonsiliasi Kultural Peristiwa 65

27 Juni 2016   02:05 Diperbarui: 27 Juni 2016   13:31 454
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

LELAKI itu sudah tua. Delapan puluh tahun lebih umurnya. Tubuhnya sudah renta, karena memang dimakan oleh usia. Keriput-keriput wajah yang keras sangat menonjol, menghiasi wajahnya yang kelihatan memendam luka lama penuh keprihatinan. Dan lelaki tua ini adalah salah satu pelaku yang membantai saudaranya se desa, karena peristiwa 65 di Desa Batuagung, Jembrana Bali. Seperti kebanyakan penduduk di desanya, peristiwa 65 tidak dapat dilupakan bahkan menimbulkan fenomena peristiwa baru yang lebih mencekam.

Banyaknya orang gantung diri, meninggal mendadak dan tidak wajar, serta insiden-insiden di luar nalar kewajaran terus menghantui seluruh warga Desa Batuagung. Masyarakat mulai menyadari dan melalui proses panjang, baik secara keyakinan maupun spiritual, bahwa kejadian-kejadian tersebut dikarenakan oleh ruh-ruh gentayangan korban pembantaian peristiwa 65 yang tidak diterima di alam layaknya.

Apakah yang bisa diharapkan dari pembebasan peristiwa yang mencekam di Desa Batuagung ini ? Melihat keadaanya, seakan tiada sesuatupun yang harus dilakukan, kecuali menemukan kuburan-kuburan masal dimana korban peristiwa 65 ditanam. Sebuah proses panjang dan penuh liku untuk melakukan penemuan dan pembongkaran kuburan massal itu. Kesemuanya tidaklah mudah. Mempertemukan pelaku dan keluarga korban yang penuh gesekan dendam, sampai persiapan dan pelaksanaan upacara agama Hindu Bali yang memerlukan biaya sangat besar.

Rekaman peristiwa konflik 65 yang terselesaikan melalui jalan damai berupa “relonsiliasi kultural” dikemas dalam film berdurasi 77 menit karya Dwitra J. Ariana sangat menarik untuk ditonton sebagai karya film dokumenter kreatif. Sebuah rekonsiliasi atas kehendak keluarga korban pembunuh dan terbunuh serta masyarakat adat, mereka sadar bahwa semuanya adalah korban.

****

Dwitra J. Ariana
Dwitra J. Ariana
KETIKA praktisi dan seniman film sibuk mendokumentasi hal-hal yang indah atau hebat dan menakjubkan tentang Indonesia, seorang sutradara sekaligus film maker muda Bali Dwitra J.Ariana justru mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda, lebih-lebih menyinggung sensitivitas luka lama peristiwa pembantaian korban PKI 65.

Film dokumenter dengan judul “Masean’s Messages” adalah sebuah proyek yang ingin bercerita tentang rekonsiliasi kultural peristiwa 65 di Bali. Project film dokumenter yang menjadi salah satu bentuk pembahasan isu 65 yang tidak pernah tuntas ini, menawarkan makna lain dari sisi visual realita kini yang berbelok arah ke belakang pada masa suram tahun 65. 

Keberadaan film dokumenter ini menjadi penting karena akan merubah persepsi orang terhadap kejadian tahun 65, antara pelaku dan korban yang keduanya sejatinya sama-sama menjadi korban. Upaya rekonsiliasi kultural yang menjadi frame karya ini adalah sebuah cara Dwitra mendinginkan suasana yang selalu memanas ketika membahas isu 65.

Ketika saya melihat film ini dari menit pertama sampai berakhir, memang hampir tidak menemukan konflik gawat yang dapat memancing perasaan untuk bangkit menganalisa atau memberi justifikasi. Sempalan kisah-kisah tragis menggorok leher korban, dibantai dan ditanam yang diungkapkan oleh pelaku pembunuhan terlihat hanya menjadi pintu yang membuka tabir dari peristiwa konflik yang akan diselesaikan.

Dwitra sangat beruntung, ketika sahabat dari desa peristiwa menghubungi dirinya dengan memberikan peluang untuk membuat film dokumenter. Rangkaian peristiwa rekonsiliasi kultural mulai dari tataran grassroot sampai ragam identitas budaya Bali berhasil ia hadirkan sebagai jembatan dalam memahami persoalan konflik masa lalu yang cukup pelik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun