Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Pelajaran dari Timnas Islandia

12 Oktober 2017   00:48 Diperbarui: 13 Oktober 2017   02:50 1118 2 0

Selama ini, jika bicara soal Islandia, kata yang akan langsung muncul adalah dingin.  Ada juga yang mengira, negara Eropa Utara ini berada di kutub utara. Memang, negara ini beriklim dingin, dan berada di bagian ujung utara Samudra Atlantik. Tapi, Islandia tak berada di kutub utara.

Karena cuacanya yang ekstrem, ritme kehidupan di negara ini, termasuk kompetisi domestik sepakbolanya, lain dari yang lain. Liga domestik di sini, hanya berlangsung antara bulan Mei-September tiap tahunnya. Di luar periode ini, kompetisi tak memungkinkan digelar akibat terpaan suhu dingin yang ekstrim. Karena 'libur'nya yang panjang, liga Islandia tak ubahnya turnamen jangka pendek.

Berangkat dari fakta inilah, federasi sepak bola Islandia lalu intens mendorong para pemainnya, untuk bermain di luar negeri.  Karena, diperkirakan, dari 335.000 penduduk Eslandia, 22.100 diantaranya (sekitar 6,5% dari total penduduk), berprofesi sebagai pesepakbola. Ini jelas potensi nyata, yang harus diberi ruang gerak lebih. Supaya, kemampuan mereka dapat lebih berkembang. Timnas pun akan makin kuat. Hasilnya, muncul pemain macam Eidur Gudjohnsen (eks pemain Chelsea dan Barcelona), dan Gylfi Sigurdsson (Tottenham).

Tak lupa, pembinaan pelatih pun digarap serius, dengan mengirim banyak pelatih lokal ke kursus kepelatihan UEFA, sambil mempekerjakan Lars Lagerback (Swedia), sebagai pelatih timnas, sekaligus mentor bagi Heimir Hallgrimson (pelatih lokal). Supaya, saat Lagerback mundur, Hallgrimson sudah siap bertugas. Sosok Lagerback dipilih, karena ia dianggap sudah memahami betul kultur sepak bola Eropa Utara. Sebuah pendekatan yang cerdas. Lagerback sendiri akhirnya pensiun, usai Euro 2016, dan digantikan Hallgrimson.

Hasilnya, di bawah arahan Hallgrimson, dan dimotori Sigurdsson, timnas Islandia sukses mencatat debut di Piala Dunia 2018. Hasil ini, melanjutkan catatan positif mereka, setelah sebelumnya mencatat debut di Piala Eropa 2016, dan menembus babak perempatfinal. Sebuah catatan luar biasa, untuk tim yang sebelumnya kerap jadi bulan-bulanan di Eropa.

Sukses Islandia ini, jelas memantik tanya; kalau Eslandia saja bisa, kenapa kita tidak, bukankah penduduk kita ada lebih dari 260 juta jiwa? Secara kasat mata, jumlah ini memang potensi yang amat besar. Tapi faktanya, jumlah pesepakbola yang terdaftar di negara kita hanya 67.000 orang, alias hanya 0,025% dari penduduk Indonesia. Jika dirasio, pesepakbola di negeri kita hanya ada 1 dari 4000 orang, ini  sangat jauh dari ideal. Itupun masih belum dibina secara serius, dan gajinya kerap tertunggak. Jelas, sepak bola belum mampu menjadi pekerjaan ideal di Indonesia.

Jadi, saat banyak klub/pengamat sepak bola asing yang mengatakan "Indonesia adalah negara potensial", kita jangan langsung merasa bangga dulu. Karena, pernyataan ini sebenarnya ambigu. Pertama, bisa jadi potensial yang dimaksud benar-benar ke aspek teknis, khususnya jika dibina dengan serius. Kedua, kata ini bisa juga merujuk ke aspek pemasaran. Besarnya jumlah penduduk, membuat negara kita dianggap sebagai pangsa pasar potensial. Dengan kata lain, negara kita adalah konsumen potensial produk sepak bola.

Jelasnya, kita harus hati-hati, dalam menafsirkan maksud kata "potensial" ini. Supaya, kita tak lantas terlena, lalu menjadi malas. Ingat, sistem pembinaan pemain muda kita masih kacau, dan tertinggal saat ini. Ibaratnya, jika negara lain sudah menanam pohon, yang sukses tumbuh besar, dan rajin berbuah, pembinaan pesepakbola di negara kita masih berupa tanah kosong yang subur, tapi belum kunjung digarap secara serius.

Begitu juga di sektor pembinaan pelatih. Masih sedikit pelatih lokal berlisensi di negara ini. Akibatnya, perkembangan wawasan taktik di negara kita masih tertinggal. Mau tak mau, timnas memang perlu merekrut pelatih asing. Tapi, PSSI harus sabar di sini, sambil mulai intens membina pelatih muda. Supaya, kita tak semakin tertinggal.

Selain masalah pembinaan, kompetisi sepak bola kita juga masih lekat dengan masalah, mulai dari aksi anarkis suporter, ketidaktegasan wasit, dan seabrek masalah lainnya. Jelas, perlu pembenahan serius, dan menyeluruh di sini. Tapi, demi kebaikan karir pemain muda kita dan timnas, PSSI perlu memfasilitasi, dan mendorong pemain muda kita, untuk dapat bermain di luar negeri. Minimal, sampai proses pembenahan kompetisi nasional beres seluruhnya.

Kesuksesan timnas Islandia ini, sekali lagi membuktikan, kuantitas tak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Tapi, tak ada kata terlambat untuk berbenah. Karena, jika pembenahan itu dilakukan secara serius, dan menyeluruh, hasilnya takkan mengecewakan.

Jadi, kapan giliran kita, PSSI?