Mohon tunggu...
Yosef MLHello
Yosef MLHello Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Sekretaris Umum Pusat Pastoral Keuskupan Atambua, Dosen Tidak Tetap pada STP St. Petrus Keuskupan Atambua

Menulis adalah upaya untuk meninggalkan jejak. Tanpa menulis kita kehilangan jejak

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Guruku Menangis Gara-Gara Muridnya

27 November 2021   09:50 Diperbarui: 27 November 2021   10:10 191 11 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Apakah anda pernah menyaksikan seorang guru menangis di depan kelas karena ulah murid-muridnya? Penulis punya pengalaman itu. Waktu itu kami di PGA (Pendidikan Guru Agama) kelas II atau sekarang kelas XI. Ibu Guru kami sampai menangis gara-gara seorang teman membuat gaduh di dalam kelas. Ketika ibu Guru menyuruh teman yang membuat gaduh itu meninggalkan kelas, malah ia semakin berulah. Hal itulah yang menyebabkan ibu guruku sampai menitikkan air mata. Itu pengalaman pertama.

Ada juga pengalaman lain. Tapi ini pengalaman yang sungguh unik. Ibu guru menangis gara-gara seorang anak didiknya ulang kelas. Itulah guru. Ia selalu menghendaki agar anak didiknya terbaik:  menjadi pintar, naik kelas, lulus ujian, mendapat pekerjaan dan sukses. Guru yang baik selalu menginginkan agar anak didiknya sukses. Bahkan ia sampai harus menitikkan air mata, bila anak didiknya gagal. Meskipun ia pernah disakiti oleh anak didiknya.

Banyak guru yang mungkin tidak menangis, dalam arti mencucurkan air mata, tetapi mereka menangis dalam hati. Sekali lagi ketika penentuan kenaikan kelas. Ketika ada siswa yang harus divonis ulang kelas. Ketika penerimaan amplop ujian akhir nasional. Bila ada siswa yang tidak lulus. Maaf bukan tidak tuntas seperti yang dianut kurikulum sekarang ini. Tidak lulus maksudnya ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya dia harus mengulang. Bukan sekedar remedial.

Pertanyaannya: mengapa guru bisa menangis? Seorang guru bisa menangis karena berbagai faktor. Faktor pertama adalah siswa. Siswa yang melakukan tindak kekerasan baik fisik maupun verbal terhadap guru. Bukan hanya guru perempuan. Guru laki-laki pun bisa mengalami hal yang sama. Namun terbanyak dialami ibu-ibu guru. Di Hari Guru ini baiklah para siswa berhenti mem-bully gurunya. Berikanlah penghormatan dan pengharagaan yang pantas bagi gurumu! Karena sebodoh-bodohnya guru, ia adalah guru; sepintar-pintarnya siswa, ia adalah siswa. Siswa adalah siswa dan guru adalah guru. Apabila seorang siswa telah menamatkan studinya, ia akan sama dengan gurunya.

Faktor kedua menyangkut penghargaan terhadap guru. Banyak guru menangis karena tidak dihargai bukan hanya oleh siswa, tetapi oleh atasannya sendiri, dalam hal ini kepala sekolah. Banyak guru yang memberikan kesaksian bahwa pimpinannya sering menegur guru-gurunya di depan murid-murid. Ikutannya adalah murid juga tidak menghargai gurunya. 

Penulis pernah mendengar, seorang kepala sekolah memanggil nama gurunya untuk menghadap ke kantor menggunakan pengeras suara, pada hal pak guru sedang mengajar di depan kelas. Sudah pasti spontan para siswa hura kepada gurunya. Di manakah wibawa guru di depan siswa? Pada hal kepala sekolah juga adalah seorang guru. Karena itu di Hari Guru ini baiklah bapak Kepala Sekolah selaku pimpinan memperlakukan guru sebagai guru dan bukan sebagai murid. Karena guru adalah guru, dan murid adalah murid. Kalau bukan kepala sekolah yang menghargai  gurunya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Faktor ketiga yang membuat seorang guru bisa menangis adalah ketika masyarakat tidak menghargai jasa seorang guru. Bayangkan sampai saat ini masih saja terjadi perlakuan orang tua terhadap guru. Pada hal anaknya diperlakukan guru karena semata-mata demi tujuan pendidikan. Misalnya, seorang guru menggunting rambut siswa karena terlalu panjang alias gondrong. Sesuai aturan sekolah/pendidikan, setiap anak harus memiliki rambut yang pendek dan rapi. Bagaimana dengan seorang anak laki-laki dengan rambut yang panjang dan tidak rapi? Tentu saja pihak sekolah perlu merapihkan. Gara-gara merapihkan rambut siswa, orang tua datang dan memukul guru. Pada hal, guru melakukan itu dengan tujuan pendidikan. Sekali lagi pada Hari Guru Nasional ini, kepada para orang tua siswa "jangan biarkan guru-guru menangis!" tetapi berikanlah penghargaan kepada mereka. Kalau terjadi seperti itu, datanglah dan berbicara dari hati ke hati. Jangan menggunakan kekerasan.

Pesan moral dan pendidikan yang dapat kita petik di Hari Guru Nasional ini adalah Orang tua, Guru, Siswa dan Kepala Sekolah sebagai komponen pendidikan di sekolah mesti saling menghargai dan menghormati sebagai insan-insan pendidikan. Setiap orang atau pribadi hendaknya menempatkan dirinya sesuai dengan porsinya. Bila demikian, maka tidak ada kans untuk saling menjatuhkan air mata. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2021.

Atambua, 27 November 2021

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan