Mohon tunggu...
Yosafat Bayu Kuspradiyanto
Yosafat Bayu Kuspradiyanto Mohon Tunggu... Mahasiswa - Undergraduate Student

believe in yourself and you'll be unstoppable

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Dampak Sosial New Media dalam Membentuk Budaya Populer Baru

5 September 2022   15:10 Diperbarui: 5 September 2022   15:14 141 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Bila dahulu kita mengenal pepatah, "Banyak jalan menuju Roma", mungkin saat ini pepatah tersebut mulai berubah menjadi, "Banyak jalan menuju Viral". Satu per satu nama asing mulai muncul ke permukaan dan mewarnai industri hiburan tanah air. Memang tak semua nama baru itu tenar karena prestasi, namun setidaknya ada sesuatu hal yang coba mereka tawarkan kepada publik. 

Sebenarnya apa yang membuat mereka populer dengan cepat? Apakah betul ada jalan instan untuk mendapat atensi publik? Bisakah hanya dengan menjentikkan jari saja kita dapat mencapai ketenaran? Mari kita bahas fenomena tersebut melalui artikel sederhana ini.

 

The Power of New Media

Ada hal yang sangat menggelitik dari komentar Rigen, seorang komika terkenal tanah air. Dikutip dari Kapanlagi.com, ia memberi tanggapan, jika seseorang belum diundang ke Brownis dan Rumpi (program acara talkshow dari salah satu stasiun televisi swasta), seseorang tersebut belum dapat dikatakan sangat viral. Bagi Anda yang pernah menonton program acara Brownis dan Rumpi, rasa-rasanya sudah tak asing lagi dengan berbagai public figure yang diundang karena viral di media sosial. Kadang sebagai penonton pun kita juga bertanya-tanya, siapa lagi "bintang tamu viral" yang akan diundang oleh tim kreatifnya. Seakan-akan mereka tidak ada habis-habisnya untuk menemukan bintang tamu viral setiap hari.

Dari situ kita mungkin dapat bertanya-tanya, "semudah itukah untuk menjadi viral?" Bagi Anda yang merupakan bagian dari angkatan 70-80an, sudah terbiasa untuk spesifik ketika ingin memberi label pada seseorang sebagai artis. Zaman dahulu seseorang yang ingin dicap sebagai artis, harus mempunyai keahlian seperti menyanyi dengan bagus, menari, dan dapat bermain peran (akting) dengan baik, sehingga orang-orang mempunyai alasan yang sama untuk menyebut mereka sebagai artis. Namun kini, hanya bermodal gawai dan sering muncul di FYP (for your page) salah satu media sosial, seseorang dengan mudah menyandang gelar artis atau public figure. 

Bila ditarik garis simpulnya, fenomena artis dadakan ini muncul karena besarnya kekuatan new media. Apa itu new media? New media adalah hasil dari perkembangan media yang sudah dipengaruhi oleh berbagai macam teknologi berbasis internet. Konsep new media ini juga dapat dimaknai sebagai penggambaran konten atau artikel yang tersedia dalam berbagai bentuk komunikasi elektronik melalui pemakaian teknologi komputer (Widodo, 2020, h.13). 

Media baru mendukung terbentuknya interkonektivitas antar media melalui jaringan internet, sehingga antar media dapat saling terintegrasi tanpa ada batas ruang dan waktu. Platform media sosial menjadi salah satu hasil dari konsep new media ini. Media sosial berhasil memberikan ruang interaktif secara luas bagi publik di seluruh dunia untuk dapat terkoneksi dan berdiskusi bersama. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tren ataupun budaya baru yang muncul dari proses diskusi melalui media sosial (Straubhaar, 2010, h. 55). 

Mengutip dari hasil penelitian We Are Social, dikatakan bahwa sebanyak 61,8% jumlah populasi di Indonesia (sekitar 170 juta orang) adalah pengguna aktif media sosial. Hal itu secara mutlak dapat menguatkan argumen bahwa new media membawa dampak yang besar untuk membangun budaya populer baru. Itulah mengapa fenomena artis dadakan dengan embel-embel "viral" ini tumbuh subur di dunia hiburan tanah air. Bahkan banyak generasi muda yang bercita-cita untuk menjadi "viral" dengan kekuatan media sosial. 

New Media Ubah Tatanan Kultur Masyarakat Dunia

Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini, secara garis besar memang telah mengubah perilaku interaksi antar individu. Terlebih dengan kehadiran media baru berupa internet yang dapat dikatakan telah berhasil membentuk sebuah ruang digital baru, telah berhasil pula menciptakan sebuah tatanan kultur baru bagi masyarakat dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan