Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Penulis - Karyawan Swasta

Moviegoer | Best in Specific Interest Kompasiana Awards 2019

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Ladies in Black", Kisah Transisi Kehidupan 3 Karyawati yang Hangat dan Menyentuh

19 Maret 2019   06:44 Diperbarui: 19 Maret 2019   18:19 276
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebuah Film yang Membawa Mood Bahagia

Cinemanova.com.au
Cinemanova.com.au
Ladies in Black yang diangkat dari novel best seller karya Madeleine St.John, The Woman in Black(1993), sejatinya menawarkan sebuah cerita yang ringan, mudah dipahami dan cukup membangun mood bahagia di sepanjang film. Meskipun terdapat konflik pribadi dari ketiga tokoh utama film ini, namun hal tersebut nyatanya tak mengganggu tone film yang cukup riang gembira.

Konflik yang terjadi memang tak semuanya dijabarkan dengan detail. Konflik yang dimiliki Lisa terkait keinginan kuatnya untuk kuliah sekaligus meyakinkan ayahnya yang kolot, praktis menjadi satu-satunya konflik dari ketiga tokoh utama yang paling memiliki penceritaan detail.

Sementara konflik yang dimiliki Fay terkait masa lajangnya di usia 30-an serta Patty yang memiliki hubungan kurang baik dengan suaminya yang pendiam, nampak tampil begitu saja dan kurang kuat. Padahal, konflik yang dimiliki Fay dan Patty berpotensi jauh lebih baik jika diberikan porsi lebih.

Saltypopcorn.com.au
Saltypopcorn.com.au
Hanya saja, nampaknya sang sutradara, Bruce Beresford, ingin tetap menjaga mood ceria dan bahagia di sepanjang film. Sehingga konflik-konflik yang berpotensi menghadirkan tangis bagi penonton, tidak terlalu diberi detail yang cukup.

Bukan bermaksud spoiler, namun dengan ending film yang bahagia, jelas semakin menegaskan bahwa film ini memang ingin menghadirkan kebahagiaan bagi siapapun yang menontonnya.

Film ini juga seakan ingin menunjukkan bahwa sepelik apapun permasalahan hidup, tetap memiliki sisi cerianya. Dan yang paling penting, di akhir sebuah permasalahan selalu menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.

Sumber: Dailytelegraph.com.au
Sumber: Dailytelegraph.com.au
Oh iya, mungkin entah disengaja atau tidak, namun kisah 3 gadis berseragam hitam di Goode's Department Store seakan memiliki analogi tersendiri. Ya, seragam hitam seakan memiliki analogi konflik dari dalam diri mereka masing-masing.

Sementara Goode's Department Store seakan merupakan gambaran kehidupan yang begitu besar dengan ragam konflik di dalamnya, namun jika dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas, kehidupan selalu mendatangkan kebaikan dan keceriaannya.

Penuh Pesan Emansipasi Wanita

Mendengar nama sutradara Bruce Beresford, mungkin tak semuanya langsung bisa mengenalnya. Selain karena namanya tak setenar sutradara beken Hollywood lainnya, film-filmnya pun jarang ada yang menyandang predikat blockbuster. Padahal beliau sudah memproduksi banyak film sejak era 80-an.

Driving Miss Daisy (Hollywood Reporter)
Driving Miss Daisy (Hollywood Reporter)
Salah satu film terkenal garapan Bruce Beresford tentu saja film Driving Miss Daisy (1989). Film yang bisa dibilang merupakan kebalikan dari kisah pada film Green Book(2018) tersebut mendapatkan banyak pernghargaan internasional termasuk Best Picture di ajang Oscar tahun 1990. Film yang mengangkat isu rasial dalam bentuk road movie tersebut, menjadi film yang begitu menyentuh dan berhasil menggugah rasa kemanusiaan.

Dan kali ini lewat Ladies in Black, Bruce Beresford ingin mengangkat isu kemanusiaan kembali dengan fokus utamanya pada tema emansipasi wanita. Ladies in Black jelas memiliki pesan bahwa wanita tak selamanya harus terjebak dalam sebuah kultur yang merugikan dirinya. Wanita harus berani berbicara, memiliki ketegasan bahkan boleh bermimpi serta menentukan sendiri akan seperti apa jalan hidupnya di masa depan.

Heraldsun.com.au
Heraldsun.com.au
Kisah tiga wanita dalam Ladies in Black mewakili isu budaya patriarki yang menghalangi wanita di masa silam bahkan di masa kini yang kerap terjadi di beberapa wilayah di seluruh dunia.

Dan ketiga wanita tersebut jugalah yang mewakili perempuan-perempuan pemberani yang tegas menghadapi kultur yang berlaku, hingga mampu menjadi agen perubahan bagi wanita-wanita di sekeliling mereka.

images-2019-03-19t063300-561-5c902b8d0b531c799167c44b.jpeg
images-2019-03-19t063300-561-5c902b8d0b531c799167c44b.jpeg
Seperti contoh, tokoh Lisa mewakili suara kaum perempuan yang kerap hanya bisa dianggap sebagai pengurus rumah tangga dan tak perlu memiliki jenjang pendidikan yang tinggi.

Fay mewakili kaum perempuan yang kerap dipandang rendah laki-laki hanya karena memiliki masa lalu yang kelam, padahal dirinya sudah berubah dan mencoba untuk melupakan kehidupan kelamnya di masa lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun