Mohon tunggu...
Yonata Udawananda
Yonata Udawananda Mohon Tunggu... Pelajar

Penikmat drama si kulit bundar dari segala sisi. Pelajar yang masih berusaha mencicipi rasa asam garam.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Klub Tentara yang Kini Menjelma Menjadi Raksasa

14 Juli 2019   06:45 Diperbarui: 14 Juli 2019   07:20 0 0 0 Mohon Tunggu...
Klub Tentara yang Kini Menjelma Menjadi Raksasa
Foto : vivagoal.com

Tira-Persikabo bukanlah klub yang berdiri sejak era galatama, atau bahkan era ISL. Kemunculannya ditandai dengan digelarnya turnamen Piala Jenderal Sudirman tahun 2015 silam. Sejak keikutsertaannya dalam sepakbola Indonesia, klub yang berada di bawah naungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak pernah lepas dari kontroversi.

Awalnya bernama PS TNI, tim ini berisi mayoritas punggawa PSMS guna mewakili TNI dalam Piala Jenderal Sudirman (turnamen yang juga digarap oleh TNI). Pasca turnamen itu, PS TNI justru memutuskan untuk bertahan di kancah sepakbola Indonesia dengan membeli lisensi Persiram Raja Ampat. Hal yang disayangkan oleh masyarakat hingga bupati Raja Ampat sendiri. Diikuti juga dengan kemunculan Bhayangkara FC hasil merger dengan Surabaya United. Kehadiran "klub aparat" ini mendapat stereotip negatif dari penggemar sepakbola Indonesia. Sebab, mereka mengambil jalan pintas dengan merger atau akuisisi agar bisa mentas di kasta tertinggi.

Pasca dua musim menjalani liga, PS TNI berganti nama menjadi PS Tira (Tentara Indonesia dan Rakyat). Semusim berselang, mereka berganti nama lagi menjadi Tira-Persikabo akibat hasil merger dengan klub Liga 3, Persikabo Kabupaten Bogor pada awal 2019 ini. Kecaman muncul akibat mereka dengan gampangnya bisa bergonta-ganti nama dan mendapat izin oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB). Padahal jika bicara pencapaian, prestasi klub milik TNI ini juga belum mentereng amat. Finis di peringkat ke-12 pada musim 2017 adalah pencapaian terbaik mereka di liga. Musim lalu bahkan mereka selamat dari degradasi pada pekan terakhir.

Tapi Tira-Kabo rupanya berhasrat mematahkan stigma tersebut di musim 2019 ini. Setidaknya, hingga dimulainya pekan ke-8 Liga 1, mereka dengan mengejutkan bertengger di pucuk klasemen. Bahkan, mereka belum terkalahkan sekalipun. Yang terkini, mereka baru saja sukses menahan tim bertabur bintang Madura United 2-2, kendati sempat unggul 2-0 sebelumnya. Hasil tersebut menggenapkan raihan 4 kemenangan dan 4 hasil imbang bagi klub yang bermarkas di Stadion Pakansari tersebut.

Kunci kestabilan Tira-Kabo musim ini ada di tangan arsitek anyar, Rahmad Darmawan. Coach RD tentunya bukan nama asing di sepakbola Indonesia. Pelatih 52 tahun itu sudah memiliki sederet prestasi di Indonesia bahkan hingga melanglang buana ke Malaysia.

Coach RD membangun mental kerja keras dan kolektif ke dalam timnya. Terlebih, skuadnya saat ini tidak memiliki perbedaan usia yang jauh dan masih termasuk usia emas pesepakbola. Bahkan, rerataan usia skuad Tira-Kabo saat ini adalah 25,8 tahun. Sebagai bandingan, juara musim lalu, Persija berusia rata-rata 27,6 tahun. PSM malah berusia rata-rata 28,3 tahun.

Rahmad Darmawan juga memercayai kekuatan pemain muda yang ada dalam skuad, banyak dari mereka juga memiliki latar belakang militer. Sejumlah pemain juga merupakan lulusan timnas berbagai kelompok usia. Rifad Marasabessy, Andy Setyo, dan Abduh Lestaluhu tentu tidak asing didengar penggemar Timnas. Juga kapten tim saat ini, Manahati Lestusen yang acap kali menerima panggilan timnas dari U-23 hingga senior.

Pemain asing milik Tira-Kabo juga terbilang efektif sejauh ini. Tira-Kabo memang kehilangan Aleksandar Rakic yang menjadi topskor liga musim lalu. Namun, mereka juga sukses mendatangkan Loris Arnaud yang musim lalu mencetak 15 gol bersama Persela. Selain itu, Tira-Kabo juga mendatangkan Ciro Alves, Louise Parfait, dan Khursed Beknazarov. Spesialnya, keempat pemain itu sudah bergabung sejak sebelum Piala Presiden bergulir. Sehingga RD juga tidak perlu melakukan seleksi lebih lanjut dan tinggal menyatukan mental kolektif para pemain asing.

Ketika Piala Presiden, Tira-Kabo sejatinya tidak mendapat pencapaian yang begitu spesial. Mereka tersingkir di perempatfinal oleh Persebaya. Pemain paling tokcer mereka saat itu adalah Osas Saha yang sukses mencetak 4 gol selama turnamen.

Keadaan berubah ketika liga bergulir. Osas Saha, Loris Arnaud, dan Ciro Alves yang menjadi trisula di lini depan sejauh ini terbilang gacor. Total 9 dari 14 gol milik Tira-Kabo musim ini dihasilkan mereka bertiga. Ciro Alves sendiri kini memuncaki daftar topskor sementara Liga 1 dengan torehan 6 gol. Produktifnya lini depan setidaknya bisa menutupi kecolongan lini belakang Tira-Kabo. Mereka sudah kebobolan 7 gol dan hanya mengantongi 2 cleansheet.

Walaupun sedikit kesulitan konsisten di jalur kemenangan, setidaknya nihil kekalahan dapat dibanggakan oleh Coach RD dan anak asuhnya. Bahkan, Rahmad Darmawan sendiri tidak menyangka sebelumnya bahwa anak asuhnya dapat menggebrak papan atas di awal musim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2