Mohon tunggu...
Yoga Mohammad
Yoga Mohammad Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Content creator

Saya menyukai dunia kreatif , apapun itu

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Blusukan Foto Kota Udang

20 Mei 2018   16:35 Diperbarui: 20 Mei 2018   16:53 1046
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karena pada saat ke Trusmi itu hari jumat, maka semua pergi melanjutkan perjalanan menuju Masjid Sang Cipta Rasa untuk menunaikan ibadah shalat jumat bagi mahasiswa yang beragama muslim, dan yang tidak melaksanakan shalat jumat (perempuan dan agama kristen) melakukan santap siang di dalam bus, dan bergantian yang sudah melaksanakan shalat jumat juga melakukan santap siang bersama-sama. Di dalam Masjid Sang Cipta Rasa ini sangat unik, ada yang namanya adzan pitu artinya adzan yang dilakukan tujuh orang bersama-sama dalam satu masjid tersebut. Selain itu Masjid ini masih menggunakan arsitektur  yang kuno bekas peninggalan sunan gunung jati pada saat itu. 

Hal yang paling membuat semuanya malas yaitu ke tempat pelelangan ikan di desa Bondet, sekitar jam 13.00 WIB lebih berangkat dari masjid Agung Sang Cipta Rasa menuju TPI Bondet. Sudah terbayang bukan tengah hari ketika matahari benar-benar berada diatas kepala semua mahasiswa/mahasiswi ATVI pergi menuju pantai yang amat sangat panas dan harus berjalan sekitar 2 kilo dari pemukiman warga menuju TPI Bondet tersebut. Tempat yang gersang, bau amis, dan banyak lalat disekitar TPI menjadikan suatu pelajaran dan pengalaman calon broadcaster andalan untuk di dunia pekerjaan nanti bahwa menjadi seorang wartawan atau fotografer mampu menaklukan tempat dimanapun itu. 

Setelah berlama-lama di area tersebut banyak keluhan anak-anak yang tidak mau pulang dikarenakan untuk menuju bus harus menempuh 2 kilo perjalanan kembali, akhirnya para nelayan Bondet berinisiatif menggunakan kapalnya untuk menghantarkan semuanya ke pemukiman di mana menuju bus pemberangkatan awal berada. Semua bergegas menuju bus dan pulang ke hotel untuk mandi dan makan malam di suatu restoran.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Hari ketiga di Cirebon lebih menantang, karena semua dibangunkan lebih cepat dari hari kedua, yaitu pukul 03.00 WIB, semua mengeluh karena masih sangat ngantuk dan lelah tapi tidak bisa dibantah karena jika tidak bangun pagi akan ketinggalan moment di pantai Kejawanan yaitu melihat sunset dari pantai Kejawanan. Tapi semua kecewa karena sunset yang muncul telat dikarenakan mendung jadi matahari tertutup oleh awan, meski begitu semuanya tetap menunggunya sampai matahari muncul. Sayangnya kekecewaan datang kembali, sunset muncul 5 menit kemudian kami diperintahkan untuk bergegas ke hotel untuk mandi, makan dan berangkat ke daerah Kuningan Jawa Barat. 

Dua tempat wisata yang akan di kunjungi di Kuningan adalah Cipari dan Museum Linggarjati. Cipari adalah situs Taman Purbakala era megalitikum, disana banyak penemuan-penemuan batu artefak seperti peti batu dan menhir. Setelah dari cipari, semua bergegas untuk menuju Museum Linggarjati. Diperjalanan semua mata melirik kanan kiri dari jendela bus melihat indahnya sawah dan gunung Ciremai yang indah dan terlihat sejuk, sesampainya disana ternyata tidak hanya terlihat sejuk tetapi juga udaranya memang benar-benar sejuk karena berada di kaki gunung Ciremai. Sebelum memasuki Museum, ada sesi foto bersama yang kedua kalinya. 

Tidak menghabiskan waktu yang lama semua langsung bergegas kembali menuju pusat oleh-oleh untuk belanja dan menikmati makanan khas Cirebon. Menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam pusat oleh-oleh tersebut karena banyak yang membeli dan mengantri untuk membayarnya. Pulang ke hotel untuk siap-siap pergi ke Keraton Kanoman, disinilah hal yang paling menegangkan di mana harus memfoto penari tari topeng Cirebon yang gerakannya super cepat dan hanya diterangi cahaya obor, ini adalah PR yang sulit tapi harus dilakukan. 

Sulit tetapi ini adalah tugas seorang calon Fotografer yang profesional. Oh iya tari topeng yang difoto adalah topeng yang khas sekali dengan Cirebon, di mana tari topeng ini sering dibawakan di luar negeri, tari topeng Cirebon dibagi menjadi lima wanda (jenis) yaitu topeng Panji berwarna putih, topeng Samba berwarna kuning, topeng Rumyang berwarna hijau, topeng Tumenggung berwana merah jambu, dan yang terakhir adalah topeng Kelana yang berwarna merah. Dari kelima warna yang berbeda-berbeda tersebut memiliki arti yang berbeda-beda pula. 

Dan ditempat inilah banyak teman-teman dari ATVI yang kemasukan makhluk, karena hal itu yang seharusnya setelah dari Keraton Kanoman lanjut ke alun-alun Kejaksan Cirebon, ini malah pulang ke hotel untuk beristirahat.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Hari ke empat yaitu hari terakhir hunting fotografi ke Cirebon. Hari terakhir ini memang tidak cukup melelahkan tapi tetap saja kepala dan leher panas terkena sinar matahari yang seperti membakar tubuh secara langsung. Pagi itu semua pergi ke Car Free Day (CFD) yang berada di depan hotel yang kami inap sampai alun alun Kejaksan, bukan untuk olahraga tapi tetap ingat tugas pertama yaitu kita mencari obyek untuk difoto. Sekalian car free day semuanya langsung berjalan kaki menuju balaikota dan stasiun Cirebon seperti biasa untuk mencari foto. Setelah berpanas-panasan di kota, kemudian melanjutkan panas-panasan kembali ke goa. 

Goa apakah itu? Ya, goa Sunyaragi, sunya yang artinya sunyi dan ragi yang artinya raga jadi Sunyaragi adalah seseorang yang mempunyai jiwa raga yang sepi. Goa ini dahulunya digunakan untuk bersemedinya para pangeran-pangeran dari kerajaan di Cirebon, disini banyak sekali memiliki mitos-mitos yang menyeramkan dan berbau gaib. Tempatnya gersang, sehingga ketika siang hari sedikit pengunjung yang datang, lebih banyak ketika pagi hari sekitar pukul 09.00 pagi dan sore sekitar pukul 15.00 WIB. 

Selanjutnya ini adalah tempat yang ditunggu-tunggu para mahasiswa/mahasiswi ATVI yaitu empal gentong. Empal gentong adalah makanan yang paling khas di Cirebon, dengan kuah berwarna kuning berisi jeroan daging sapi atau jeroan daging kambing sesuai selera, dan ditaburi dengan daun seledri diatasnya,  dinamakan empal gentong karena empal itu adalah nama jeroan-jeroan dari sapi atau kambing, dan gentong itu karena dimasaknya melalui gentong yang dibuat dari gerabah yang ada di desa Sitiwinangun. Rasanya enak, sedap dan rasanya ingin nambah lagi jika diijinkan. Setelah kenyang kembali ke Balaikota Cirebon hanya untuk berfoto bareng lalu pergi ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun