Mohon tunggu...
Sayed Mahdi
Sayed Mahdi Mohon Tunggu... Menyelamatkan Lingkungan Hidup Dimulai dari Tindakan Awalmu...https://meutani.blogspot.com

Peminat Masalah Pertanian, Lingkungan Hidup, Olahraga dan Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Wow! Google Akhirnya Minta Maaf kepada Masyarakat Aceh

30 Oktober 2019   20:47 Diperbarui: 30 Oktober 2019   21:28 30 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wow! Google Akhirnya Minta Maaf kepada Masyarakat Aceh
Pemeritah Aceh dan elemen sipil Aceh mendatangi Perwakilan Google Indonesia, senin 28/10/2019 (Foto : acehtribunews.com)

Tak ada yang menyangka Google ternyata bisa buat kesilapan bahkan dituduh sebagai suatu kesalahan. Google sebagai salah satu search engine terbaik dan dengan pengguna terbesar saat ini dan merupakan sebuah perusahaan besar Amerika yang menyediakan berbagai produk dan layanan seputar internet.

Salah satu produk dan layanan google adalah Google Translate. Google Translate ini merupakan sebuah kamus internet yang diciptakan oleh Google untuk mempermudah pengguna internet dalam menerjemahkan bahasa atau suatu kalimat.

Baru-baru ini sekitar pertengah oktober 2019, google translate membuat heboh seantero masyarakat Aceh atas kejanggalan terjemahan google translate tentang frasa "Aceh" yang dianggap telah merendahkan dan melecehkan harkat dan martabat masyarakakat Aceh.

Protespun bermunculan, salah satunya dari warga Aceh Haekal Afifa. Haekal Afifa mengirim surat protes kepada Google Indonesia, dalam suratnya yang ditujukan kepada Managing Director Google Indonesia di Pacific Century Place Tower Level 45 SCBD Lot 10, Jl. Jend. Sudirman No. 53, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12190 itu Haekal menyampaikan keberatan dan protes kepada pihak Google, khususnya layanan Google terjemahan (Google Translate).

Berikut diantara cuplikan surat Haekal Afifa yang penulis kutip dari https://acehsatu.com : Saya melihat, pada laman https://translate.google.com, opsi terjemahan dari bahasa Jawa (Javanese) dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, frasa (1) 'anak aceh', (2) 'pria aceh', (3) 'wanita aceh', (4) 'gadis aceh', (5) 'bocah aceh', (6) 'ibu aceh', (7) 'ayah aceh', (8) 'saya aceh', (9) 'keluarga aceh', (10) 'baju aceh', (11) 'suku aceh, (12) 'orang aceh', (13) 'dunia aceh', (14) 'tokoh aceh', (15) 'bahasa aceh', (16) 'kakak aceh', (17) 'anak melayu' ditulis dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai: (1) 'bajingan', (2) 'Dasar brengsek', (3) 'seorang wanita yang kasar', (4) 'Dasar brengsek', (5) 'kamu bajingan', (6) 'Ibu brengsek', (7) 'Ayah brengsek', (8) 'Saya brengsek', (9) 'keluarga fanatik', (10) 'kaus kaki', (11) 'suku yang sakit', (12) 'bajingan', (13) 'dunia berantakan', (14) 'sosok yang kasar', (15) 'bahasa menghujat', (16) 'Anda brengsek', (17) 'bajingan'. Bahkan, jika frasa 'anak aceh' dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris maka ditulis terjemahannya sebagai 'son of a bitch'.

Semua frasa tersebut yang ditampilkan oleh produk layanan Google terjemahan, khususnya opsi dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia itu terlihat seperti ada unsur kesengajaan dan bukan bagian dari terjemahan, tapi lebih kepada mendeskripsikan dan mendiskreditkan saya dan orang Aceh secara umumnya.

Sebagai bangsa Aceh, marwah kami merasa telah dihina, direndahkan, didiskriminasi dan diperlakukan rasis oleh layanan Google terjemahan tersebut. Karena, dalam bahasa, budaya dan nilai hidup kami tidak pernah terdapat arti dari frasa seperti yang diterjemahkan oleh layanan perusahaan Anda.

Tindakan ini membuktikan bahwa perusahaan Anda, khususnya produk layanan Google terjemahan  tidak memiliki sistem verifikasi yang baik dan rasa sensitifitas terhadap keberagaman budaya, bahasa, suku, adat serta peradaban masyarakat di Indonesia yang berpotensi konflik horizontal dan memecahkan persatuan bangsa Indonesia.

Maka, saya meminta kepada pihak perusahaan Google LLC atau pihak Google Indonesia untuk menghapus frasa-frasa tersebut diatas pada produk layanan Google terjemahan (Google Translate) khususnya terjemahan dari bahasa Jawa dan Melayu ke Bahasa Indonesia dan Inggris yang mengandung diskriminatif rasial sesegera mungkin.


Dalam suratnya, Haekal Afifa juga melampirkan screenshot video sebagai bukti yang diakses pada tanggal 14 Oktober 2019 Pukul 02.42 Waktu Indonesia Barat (dini hari) dengan menggunakan fitur rekam layar smartphone pribadinya.

Surat Haekal Afifa tersebut diantaranya juga ditembuskan kepada Mr. Sundar Pichai (sundar@google.com) CEO Google LLC di Amphitheatre Parkway, Mountain View, USA.

Yang terbaru adalah sebagaimana dilansir serambinews.com, Pemerintah Aceh yang diwakili Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal S STP bersama sejumlah elemen sipil Aceh mendatangi kantor Perwakilan Google Indonesia di Pacific Century Place Tower Level 45 SCBD Lot 10, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan pada Senin (28/10/2019).

Kedatangan perwakilan Pemerintah Aceh ini tidak lain dan tidak bukan adalah juga untuk memprotes "terjemahan google" yang dinilai diskriminatif dan menyudutkan warga Aceh.

Perwakilan Pemerintah Aceh beserta elemen sipil Aceh diterima Putri R. Alam yang menjabat sebagai Head of Government Affairs & Public Policy, di Google Indonesia.

Pada kesempatan itu Putri R. Alam menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Aceh atas kesalahan dan kekeliruan teknologi translate mesin pencari Google. Putri juga berjanji, pihaknya akan memperbaiki sistem tersebut.

Nah, berdasarkan kejadian ini seharusnya Google sebagai salah satu search engine terbaik dan dengan pengguna terbesar saat ini segera berbenah. Tidak tertutup kemungkinan masih ada kata atau frasa lainnya yang belum sempurna dalam terjemahan dengan google translate. []

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x