Digital

Telepon Pintar Menyebabkan Banyak Pengangguran?

11 Juli 2018   06:55 Diperbarui: 11 Juli 2018   07:05 282 1 1
Telepon Pintar Menyebabkan Banyak Pengangguran?
tipsdancara2016.blogspot.com

Telepon pintar, seperti misalnya Android, dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia. Tidak ada batasan umur atau peraturan tertentu yang dikeluarkan pemerintah mengenai aturan dasar kepemilikan. Selama mampu membelinya, telepin pintar dapat dimiliki hampir siapapun.

Mudahnya memiliki telepon pintar pada satu sisi memberikan banyak kemudahan. Apapun yang diinginkan,  tinggal klik. Mau makan enak tapi enggan film dari YouTube yang lagi seru-serunya terganggu,  tinggal klik GoFoood. Mau bepergian  tidak ada yang mengantar, tinggal klik Grab. Mau membaca buku, tapi males bacanya,  tinggal klik Audiobook. Mau pesan tiket pesawat, tinggal klik.

Menyoal pesan tiket pesawat, telepon pintar benar-benar pintar. Ia mengarahkan si pengguna, dengan tanpa mengeluh, untuk mendapatkan tiket pesawat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan membayarnya. 

Dengan memanfaatkan jasa Traveloka misalnya, seseorang dapat memesan tiket pesawat dari rumah. Berbeda dengan zaman dulu,  pesan tiket kalau tidak ke agen tiket, ya ke maskapainya. Cara ini menyita waktu. 

Telepon pintar mengubah semuanya dan memangkas waktu yabg dibutuhkan untuk mendapatkan yang dibutuhkan. Pemesanan tiket pesawat, mulai dari memilih penerbangan, harga, hari, jumlah penumpang, tidak menghabiskan waktu sampai 30 menit. 

Keberadaan telepon pintar, kepintarannya menyebabkan beberapa pekerjaan jadi hilang, ini sisi lain dari kehadirannya. Agen penjual tiket pesawat hanya tersisa satu dua, bandara tidak melayani penjualan tiket, bahkan di bandara pun, cek in, memilih kursi duduk, mendapatkan tiket cetak, semuanya tidak dilayani oleh manusia. Semuanya tinggal klik, bisa dari android, telepon pintar, bisa dari booth yang disediakan untuk kepentingan itu.

Disadari atau tidak revolusi industri 4.0 getarnya akansampai pula pada degupan jantung para pencari kerja. Telepon pintar mengambil banyak lahan kerja. Walaupun benar, ada pula pekerjaan baru sebagai akibat hadirnya layanan virtual yang disediakannya. 

Menghadapi chaos dunia kerja, keterampilan abad 21 menjadi sangat penting dimiliki agar dapat menyaingi artifisial inteligent yang kini merambah semua lini. Pendidikan menjadi tumpuan dimana keterampilan abad 21 ini bisa dilatihkan, diajarkan, dimodelkan, dan diuji. Dunia pendidikan ditantang untuk mampu menghasilkan lulusan yang cerdas, sehingga dapat bersaing dengan (salah satunya) telepin pintar.