Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

PAN dan Politik Gagasan

30 Agustus 2020   10:33 Diperbarui: 30 Agustus 2020   11:24 73 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PAN dan Politik Gagasan
Rakernas I BM PAN/dokpri

Kala Kongres IV PAN di Bali 2015, letupan politik gagasan PAN, telah meruak. Dan dimotori kubu ketum PAN, bang Zulkifli Hasan sebagai salah satu kontestan kongres IV di Bali. Tiga gagasan besar kala itu, adalah, konsolidasi, kaderisasi dan reunifikasi.

Ini merupakan tiga pilar gagasan besar, yang membingkai perjalanan PAN pasca kongres Bali. Lalu menderivasi gagasan berikutnya, dalam bentuk-bentuk yang partikelir berdasarkan kompentensi, inovasi dan kebutuhan partai atau kader. Lalu lahirlah gagasan semisal, "Menjahit kembali merah putih dan politik tanpa gaduh."

Menjahit kembali merah putih dan politik tanpa gaduh, kemudian, menengahi bagian--fragmen politik nasional yang memang tampak rentan riuh, dalam rentang waktu 2015, 2016 hingga puncaknya 2017 (Pilkada DKI).

Diaspora pembelahan faksi politik nasional pasca Pilpres 2014, berlanjut, dan turut mereduksi parlemen dalam dua kubu vis a vis juga soalan yang sama. Mendestruksi kerja-kerja parlemen akibat kohesi  koalisi merah putih versus koalisi Indonesia hebat terus mendidih.

Dengan politik tanpa gaduh, PAN seakan memilih menyelit ke pingir, namun sesekali berkecipak, sekedar meredam gelombang noise yang makin tinggi frekuensinya, tapi sulit dicerna pesannya. PAN memilih, mengisi pos-pos ide yang kadung sepi akibat benturan friksi politik berikut kegaduhannya. Kendatipun, selalu ada perdebatan, di balik dua ide besar dimaksud yang tidak sempat kita uraikan disini.

Sikap PAN kala itu di luar politik mainstream. Meskipun, tak sedikit yang menginginkan, PAN ikut ambil bagian. Namun gelombang perdebatan politik kala itu, sudah kadung sedemikian noise. PAN mengambil sikap---tak ikut gaduh, meski seakan berada di lorong sepi. Sendiri. Tapi sikap itu kemudian memberikan arti, menjadi suatu "kondisi antara," agar perkelahian dan kegaduhan terleraikan.

Membongkar politik tengah

Beberapa Waktu lalu, saya membaca dengan cermat, dua artikel bernas ketum PAN di harian Kompas dan Jawa Pos. Secara eksplisit, ada message yang disampaikan beruntun tentang "partai tengah." Atau ketika kita sandarkan ke Al quran, ada terminologi "kelompok tengah atau ummatan washatan (QS. al-Baqarah/2: 143).."

Menurut Mubib Abdul Wahab, istilah wasath berarti tengah, pertengahan, moderat, jalan tengah, seimbang antara dua kutub atau dua ekstrim (kanan dan kiri). Ummatan washatan adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderasi, adil, dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual, ketuhanan dan kemanusiaan, masa lalu dan masa depan, akal dan wahyu, individu dan kelompok, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi.

Dua artikel ketum PAN itu, seperti megurapi gairah politik gagasan anak-anak muda seperti saya di BM PAN. Mengilhami politik gagasan. Menjadi suatu entry point politik yang padat dan berisi secara subtantif.

Dalam pandangan saya, ummatan washatan, adalah suatu pikiran---konsensus sosial Muhammad saw yang melampaui modernitas tatanan masyarakat Madinah kala itu. Pikiran tersebut melampaui logika primitf masyarakat Arab saat itu. Khazanah ini bukan barang baru, karena sudah menjadi bahan diskusi kala saya masih di Komisariat HMI.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN