Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad mahasiswa

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Fikih Capres dan Cawapres

10 Agustus 2018   10:59 Diperbarui: 10 Agustus 2018   15:39 172 0 0
Fikih Capres dan Cawapres
www.indovoices.com

Dag dik dug dek ser....

Begitulah detak jantung para pendukung Capres dan Cawapres Jokowi dan Prabowo saat detik detik di umumkan cawapresnya. Wajar saja kan! Maklumlah, tahun ini bursa cawapres jauh lebih seksi dari pada tahun sebelumnya. 

Bagaimana tidak menarik, wong Jokowi saja mengumumkan cawapresnya KH Ma'ruf Amin pada detik-detik terahir. Padahal   yang bersiap-siapa adalah "Mahfud MD", namun ternyata pilihannya adalah KH Ma'ruf Amin. Begitulah politik. 

Bagi Mahfud MD, kejadian itu biasa-biasa saja. Walaupun ada yang mendramatisir dengan dengan mengatakan "sakitnya tuh di sini". Mahfud biasa-biasa saja, eee...yang sakit hati orang lain, aneh kan....!

KH Ma'ruf Amin bukan pendatang baru dalam dunia politik. Beliau pernah menjadi anggota legislatif dari PPP dan PKB di era Gus Dur. Pada jaman SBY, beliau pernah menjadi Watimpres Bambang Yudhoyono. 

KH Ma'ruf Amin santri sejati Tebu Ireng, pesantren yang di dirikan oleh KH Muhammad Hasyim Asaary santri dari Syekh Mahfud Al-Turmusi Makkah. Jadi, KH Ma'ruf Amin itu sosok agamawan, politisi, ekonom, dan penulis karya ilmiyah yang menarik. 

KH Ma'ruf itu  sangat  mendalam ilmunya, bijaksana dan sangat mengerti syariat agama. Namun, duit nya tidak sampai se "kardus-kardus"

Wajar jika kemudian KH Ma'ruf Amin terpilih menjadi Rois Syuriah NU, karena kedalam ilmunya, juga kebijakan-kebijakan seputar ekonomi Syariah nya. Sebagai sesepuh ulama, beliau juga menjadi ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) yang menjadi rujukan ulama Nusantara dalam setiap fatwa dan langkahnya.

Sebagai warga Indonesia, KH Ma'ruf Amin sudah biasa menghadapi dinamika politik yang beragam. Jadi, ketika beliau diminta menjadi wapres Jokowi, sangatlah wajar dan tidak berlebihan. Walaupun, kadang ada yang menyayangkan pilihan beliau menjadi cawapres Jokowi. Namun itulah politik, setiap saat bisa berubah.

Ketika KH Ma'ruf Amin menerima dan setuju menjadi cawapres Jokowi, muncullah opini-opini menarik. Ada yang bilang "sudah tua kok masih suka jabatan". 

Ada juga kelompok ek, HTI yang berkata "menolak lupa" dan kembali pada Khilafah". Ada juga yang bekata "Jokowi memanfaatkan ulama untuk kepentingan suara". 

Jika ditelusuri, suara-suara miring itu sumbernya jelas dari orang-orang yang ngak suka Jokowi. Dalam tanda kutip "mereka pernah kalah Pilpres tahun 2014". Orangnya ya itu-itu juga.

Dalam dunia politik, ketika ingin mendulan dukungan dan suara, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama "maki-maki lawan politiknya dengan kata-kata kasar dan kotor, bahkan dengan kata-kata tidak beradab, dan bukalah kekuarang-kekurangannya". 

Saat ini mulai terlihat bagaimana orang yang ngak suka terhadap Jokowi sudah mengarah pada cuitan fisik "Jokowi itu krempeng, KH Ma'ruf Amin terlalu tua (bau tanah". Jika diperhatikan, orang model begini sudah tidak punya senjata lagi untuk menjatuhkan lawannya.

Makanya, Jokowi dan KH Ma'ruf Amin akan semakin keren dan tenar, karena secara tidak langsung "cuitan-cuitan negative" terhadap beliau akan mengangkat popularitas nya di tengah-tengah masyarakat luas. Dalam bahasa marketing "seorang penjual barang, jika ingin daganganya laku, jangan sekali-kali menjatuhkan produk lain, karena itu sama dengan meng-iklankan-nya".

Kedua, carilah kelebihan yang dimiliki, prestasi dan program-program yang telah berhasil. Cara seperti ini sangat bagus dan eleghat. Jokowi, selama ini tidak pernah membalas cuitan-cuitan kasar dan kotor dari lawan-lawan politiknya. 

Mulai dikatakan "sinting, perang badar, partai setan, keturunan PKI, tidak berpihak pada ulama, berpihak pada asing dan aseng". Bahkan ada kata-kata yang kasar yang tidak selaras dengan nilai islam muncul dari tokoh islam, seperti "Jokodok". Cuitan negative, kasar dan kotor terhadap dirinya itu justru akan mengangkat Jokowi lebih tinggi.

Semua tuduhan terhadap Jokowi tidak ada yang terbukti. Namun, karena dasarnya memang tidak suka alias benci. Maka siapa-pun pasangannya, pasti kebencian akan terus tertanam, bahkan akan semakin mendalam. Ketika Jokowi berprestasi kebencian akan semakin muncul, dalam bahasa agama di sebut dengan "hasud" yang artinya "sakit hati ketika melihat teman sejawatnya sukses dan beprestasi".

Jangan melihat busana, seperti jenggot panjang, jubbah panjang lengkap dengan imamahnya, ditambah lagi dengan "jidat hitam", ketika melihat sesama muslim berprestasi kemudian sakit hati dan memaki-maki, apalagi sampai memaki-maki fisik, serta keluarga, berarti sedang "sakit hatinya". 

Ada satu hadis shahih yang patut menjadi renungan, agar supaya seseorang tidak terpukau dengan penampilan fisik "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian." (HR.Muslim). Dalam politik, semua bisa terjadi dan berubah, karena nilai-nilai agama sudah tidak berguna lagi. Semua bisa sepakat jika menguntungkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2