Mohon tunggu...
Syarifah Lestari
Syarifah Lestari Mohon Tunggu... Freelancer - www.iluvtari.com

iluvtari.com

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Pengalaman Jadi "Debt Collector" di Usia Dini

9 Juni 2020   07:02 Diperbarui: 10 Juni 2020   05:27 2284
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi warung kelontong (Shutterstock/Rembolle via kompas.com)

Waktu kecil, aku adalah debt collector. Bukan profesi, tapi kewajiban sebagai anak bungsu yang tak kebagian tugas rumah tangga.

Kalau kakak-kakak sebagian bekerja di luar untuk menafkahi rumah, sebagian lagi mengurus makan dan pakaian penghuni rumah, maka tugasku adalah mengingatkan para tetangga agar tak lupa utang mereka pada warung kami.

Kalau kamu belanja di warung, pahamilah, untung pedagang warung itu tidak besar. Jadi kalau duitmu kurang seribu dua ribu, jangan anggap remeh. Kadang untuk satu item, laba mereka bahkan kurang dari seribu rupiah!

Yang Utang Lebih Galak dari yang Diutangi
Dari sepuluh kali menagih dapat satu saja yang langsung membayar, itu sudah hebat sekali. Kebanyakan menunda dengan berbagai drama kebohongan, dan tak jarang aku justru didamprat oleh para pengutang.

Banyak sekali koleksi kenanganku seputar duka-duka menagih utang. Tak ada sukanya.

Ibu dari kawan kecilku biasa berutang jika belanja di warung Mamak. Kali itu, aku datang menagih utangnya yang "hanya" 1.500 rupiah. Tetap kecil meski di tahun 90-an.

Seperti yang kusebut di atas, dari 1.500 itu, mungkin modal orangtuaku seribu lebih sendiri. Kukatakan mungkin karena aku tak tahu apa yang diutangnya. Tapi aku paham betul, jika harga sayur di pasar tradisional 300, paling banter Mamak menjual 500. Bisa jadi malah cuma 400, atau bahkan 350 jika hari sudah sore.

Tiba di rumah si pengutang, bapak kawanku keluar. Alih-alih membayar, ia justru mengamuk. Kesal karena aku menagih utang yang hanya segitu. Sampai bertahun-tahun tak juga dibayar utang itu. Muncul pun tidak.

Sampai sekian lama, baru ibu kawanku itu datang lagi ke warung Mamak. Untuk bayar utang? Bukan. Melainkan untuk utang lagi.

Di rumah lain, kejadian yang sama terulang. Malah sebelum pulang aku dititipi pesan, "Bilang bapak kau, datanglah ke sini biar kuparang sekalian!"

Akhirnya Kutemukan Formula Jitu
Seiring bertambahnya umur, dan pengalaman menagih utang, aku sudah bisa memberi masukan kepada orangtuaku. Siapa yang boleh diberi utang siapa yang sebaiknya jangan. Karena aku yang merasakan sakit dan malunya datang menagih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun