Wisnu  AJ
Wisnu AJ wiraswasta

Hidup Tidak Selamanya Seperti Air Dalam Bejana, Tenang Tidak Bergelombang, Tapi Ada kalanya Hidup seperti Air dilautan, yang penuh dengan riak dan gelombang.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Orang-orang di Kebun Sawit (41)

13 September 2017   21:44 Diperbarui: 13 September 2017   21:50 267 2 0
Orang-orang di Kebun Sawit (41)
Fhoto/Adin Umar Lubis



Sebelumnya baca di sini

Sedangkan bagi Nafisah, dia juga merasa heran melihat perobahan sikap mandor Sarmin, tidak lagi kasar dan jahil terhadap dirinya. Dia berpikir apakah mandor besar Bambang telah mengingatkan mandor Sarmin tentang kekasarannya terhadap dirinya. Andai kata Nafisah tahu bahwa perobahan sikap mandor Sarmin bukan karena peringatan yang diberikan oleh mandor besar Bambang atas laporannya tempo hari, tapi melainkan karena situasi perkebunan yang mengalami masa sulit, tentu Nafisah kecewa.

" Nafisah, sebaiknya kau masuk kedalam barisan Gerwani ?", Usul mandor Sarmin membuat Nafisah terheran heran. Kenapa mandor Sarmin mengusulkan agar dirinya masuk dalam barisan Gerwani.

" Mengapa tuan mandor mengusulkan itu kepada saya?",

" Jika kamu masuk dalam barisan Gerwani, tentu kamu tidak akan mengalami kesulitan diperkebunan ini".

" Maksud tuan mandor?", Nafisah sama sekali tidak tahu, bahwa teman temannya sesama kuli perempuan telah banyak memasuki barisan Gerwani. Karena masuk dalam barisan Gerwanilah makanya mereka berani untuk tidak masuk kerja .

Mandor Sarmin terdiam sejenak, bagaimana dia harus mengatakannya kepada Nafisah, jika dia masuk dalam barisan Gerwani, tentu dia memiliki tulang belakang yang dapat memperjuangkan nasibnya ketika terjadi sesuatu diperkebunan. Namun sipat colonial yang telah melekat dijiwa mandor Sarmin, apa yang ada dihatinya yang ingin disampaikannya kepada Nafisah, kemudian berbalik arah, jika Nafisah masuk kedalam barisan Gerwani, tentu dia akan leluasa untuk berdekatan dengan Nafisah, karena dia adalah pengurus PKI diperkebunan.

" Jika sampean masuk kedalam barisan Gerwani, sampean akan mendapat perlindungan dari saya, karena saya termasuk pengurus PKI diperkebunan ini. Sampean akan merasa aman jika saya berdekatan dengan sampean ", mandor Sarmin mencoba untuk memasukan pengaruhnya kepada Nafisah. Namun Nafisah tidak mengerti kemana arah perkataan yang dikatakan oleh mandor Sarmin.

" Perlindungan apa yang tuan maksudkan, saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tuan katakan". Mata hari semakin meninggi sinarnya yang terik membakar apa saja yang ada dibawahnya, sesekali Nafisah menghapus keringatnya yang bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Mandor Sarmin kembali melihat kearah lokasi pembibitan, namun  dia tetap melihat jumlah kuli yang itu itu juga.

" Nafisah, perlindungan yang saya maksudkan, adalah perlindungan terhadap dirimu dan anak anakmu jika terjadi sesuatu diperkebunan ini, tapi jika sampean tidak masuk kedalam barisan Gerwani, bagai mana saya untuk melindungi sampean ". Nafisah hanya mangut mangut. Apapun yang dikatakan oleh mandor Sarmin sedikitpun tidak membuat Nafisah tertarik untuk memasuki Partai Politik dan enderbaonya.

" Bagaimana?, maukah sampean masuk menjadi anggota Gerwani?". Mandor Sarmin menatap Nafisah, Nafisah menundukkan wajahnya. Dia terbayang bagaimana mandor Sarmin menidurinya dengan secara paksa. Apakah dia harus menerima tawaran dari mandor sarmin? Hatinya berkata kata.

" Tuan, beri saya waktu untuk memutuskannya, apakah saya masuk kedalam barisan Gerwani atau tidak ".

" Wantumu hanya satu hari Nafisah, besok saya harus sudah menerima jawaban dari sampean".

" Enggeh tuan mandor ".

Dari jauh mandor besar Bambang melihat mandor Sarmin terlibat pembicaraan dengan Nafisah, namun mandor besar Bambang tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hati mandor besar Bambang berdegup kencang, rasa cemburunya melihat Nafisah terlibat pembicaraan dengan mandor Sarmin memunculkan rasa emosinya. Tapi karena melihat siatuasi yang tidak menguntungkan dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada mandor Sarmin tentang pembicaraan mereka.

Kehadiran mandor besar Bambang kelokasi pembibitan bukanlah untuk memata matai mandor Sarmin dengan Nafisah, tapi melainkan melakukan ronda untuk mengetahui jumlah kuli yang masuk kerja. Dihadapan Nafisah mandor besar Bambang memperlihatkan wibawanya dimata mandor Sarmin.

" Bagaimana kerja sampean sebagai mandor lapangan, lihatlah kuli kuli yang sampean awasi jumlahnya hanya sedikit yang masuk kerja, apa tindakan sampean terhadap para kuli kuli yang tidak masuk kerja?", dengan suara yang bengis mandor besar Bambang mengatakan hal itu kepada mandor Sarmin.

" Para kuli yang banyak tidak masuk kerja, bukan hanya dilokasi pembibitan ini saja, tapi coba sampean lihat dilokasi pekerjaan lainnya, hampir semua kuli kuli itu tidak masuk kerja", balas mandor Sarmin, dia juga harus menunjukkan harga dirinya diahadapan Nafisah. Andai kata dia kalah gertak dengan apa yang dikatakan oleh mandor besar Bambambang, bagaimana dia akan menjadi pelindung bagi Nafisah.

" Saya sudah control semua lapangan, tapi hanya ditempat sampean yang saya lihat kuli kuli yang banyak tidak masuk kerja", apa yang dikatakan oleh mandor besar Bambang sebenarnya tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan, hampir diseluruh lokasi pekerjaan diperkebunan itu banyak para kulinya yang tidak masuk kerja. Tapi untuk menjatuhkan harga diri mandor Sarmin, mandor besar Bambang membalikkan fakta yang sebenarnya.

" Apakah sampean mengatakan yang sebenarnya?". Mandor sarmin menatap tajam kearah wajah mandor besar Bambang.

" Ya, sesuai dengan yang saya lihat dilapangan".

" Apakah Sampean tidak berbohong, mengatakan yang tidak sebenarnya?"

" Apa maksudmu?".

" Sampean jangan ambil muka, seolah olah sampean berkata jujur".

" Kenyataannya memang seperti itu yang saya lihat, sesuai dengan apa yang saya sampaikan didalam rapat dengan Tuan pemilik perkebunan, posisi sampean sebagai mandor lapangan akan saya teliti kembali. Jika sampai besok para kuli juga tidak masuk kerja, jangan salahkan saya jika saya memecat sampean ".

Nafisah terperangah mendengar kata kata yang diucapkan oleh mandor besar bambang kepada Mandor Sarmin. Wajah mandor Sarmin tampak berwarna merah, semerah sinar matahari yang menyengat. (Bersambung...)

Cerita yang dikemas dalam bentuk novel ini adalah merupakan cerita fiksi belaka. Jika ada nama dan tempat, serta kejadian yang sama, atau mirip terulas dalam novel ini. Itu hanyalah secara kebetulan saja. (Mohon Izin Bapak Adin Umar Lubis, Fhoto anda di Blogspot.com saya jadikan sebagai Beugrond dalam novel ini)

  Asahan, September  2017