Edukasi

Upaya Mencegah Korupsi dalam Pembelajaran

17 Desember 2018   12:19 Diperbarui: 17 Desember 2018   13:24 96 0 0

UPAYA MENCEGAH KORUPSI DALAM PEMBELAJARAN

Oleh : Wilda Zakiya Nufus

Keberhasilan penanggulangan pemberantasan korupsi tidak hanya bergantung pada penegakan hukum saja, namun ditentukan pula pada aspek tindakan preventifnya. Tindakan preventif ini diartikan bahwa korupsi dapat dicegah secara dini dengan menguatkan pendidikan anti korupsi di sekolah dan juga di kampus.

Dalam kurikulum nasional pendidikan di Indonesia,istilah korupsi relative belum banyak yang mengenalnya. Dalam Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional secara eksplisit istilah pendidikan pendidikan anti korupsi tidak di sebutkan. Dengan demikian, pendidikan anti korupsi dapat dipandang sebagai hasil dari inovasipendidikan. 

Hal ini sesuai dengan dinamika masyarakat, dari masyarakat yang oritarian dengan cirri ketertupan menuju masyarakat demokratis yang menjungjung tinggi keterbukaan dan kejujuran.

Pendidiksan anti korupsi merupakan langkag pencegahan sejak dini terjadinya korupsi. Hanya saja, pendekatan preventif ini memang tidak dapat dinikmati secaralangsun, tetapi akan terlihat hasilnya dalam jangka yang panjang. Berbeda dengan pendekatan represif yang mengandalan jalur hukum sehingga terlihat agresif menidangkan dan memenjarakan orang-orang yang bersalah. 

Pendidikan anti korupsi merupakan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi upaya korupsi berupa keseluruhan upaya untuk mendorong generasi mendatang untuk mengembangkan sikap menolak secara tegas terhadap setiap bentuk korupsi. 

Mentalitas anti korupsi ini akan terwujud jikasetiap orangsecara sadarmembina kemampuan generasi mendatang untuk mampu mengidentifikasi berbagai kelemahan dari siistem nilai yang mereka warisi dan meme\perbaharui sisitem nilai warisan dengan situai-situasi yang baru.

Pendidikan anti korupsi adalah program pendidikan tentang korupsi yang bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kepedulian warga negara terhadap bahaya dan akibat dari tindakan korupsi. 

Target utama pendidikan anti korupsi adalah memperkenalkan fenomena korupsi yang mencakup kriteria, penyeBab dan akibatnya, meningkatkan sikap tidak toleran terhadap tindakan korupsi, menunjukkan berbagai kemungkinan usaha untuk melawan korupsi serta berkontribusi terhadap standar yang ditetapkan sebelumnya seperti mewujudkan nilai-nilai dan kapasitas untuk menentang korupsi dikalangan generasi muda. 

Disamping itu siswa juga dibawa untuk mengenalisis nilai-nilai standar yang berkontribusi terhadapterjadinya korupsi serta nilai-nilai yang menolak atau tidak setuju dengan tindakan korupsi.

Karena itu pendidikan anti korupsi pada dasarnya aalah penanaman dan penguatan nilai-nilai dasar yang diharapkan mampu membentuk sikap anti korupsi pada diri peserta didik.

Pendidikan anti korupsi merupakan kebijakan pendidikan yang tidak bisa lagi ditunda pelaksanannya di sekolah secara formal. Jika dilaksanakan sebagaiman mestinya maka dalam jangka panjang pendidikan anti korupsi akan mampu berkontribusi terhadap upaya pencegahan terjadinya tindakan korupsi, sebagaimana pengalaman negara lain. 

Melalui pendidikan anti korupsi diharapkan generasimasa depan memiliki krakter anti korupsi sekaligus membebaskan negara Inndonesia sebagai negara dengan angka korupsi yang tinggi.

Karakteristik dari pendidikan anti korupsi adalah perlunya sinergi yang tepat anatara pemanfaatan informasi dan pengetahuan yang dimiliki dengan kemampuan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan moral. Oleh karena itu pembelajaran anti korupsi tidak dapat dilaksanakan secara konvensional, melainkan harus di disain sedemikian rupa sehingga aspek kognisi, afeksi dan konasi siswa mampu dikembangkan secara maksimal dan berkelanjutan.

Melaksanaka rangkain kata dalm bentuk gerakan terkadang amat sulit. Dibutuhkan kecerdasan dan keberanian untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadi penghambat utama lambatnya pembangunan ekonomi di Indonesia. 

Korupsi yang telah terlalu lama menjadi wabah yang tidak pernah kunjung selesai, karena pembunuhan terhadap wabah tersebut tidak pernah tepat sasaran ibarat. Pemberantasan korupsi seakan hanya menjadi komoditas politik, oleh sebab itu dibutuhkan kecerdasan masyarakat sipil untuk mengawasi dan membuat keputusan politik mencegah makin mewabahnya penyakit kotor korupsi di Indonesia.

Pencegahan tidak hanya dilakukan atau ditik beratkan pada satu titik saja, tetapi juga pada segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.