Mohon tunggu...
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Mohon Tunggu... Penulis - When women happy, the world happier

Mari bertemu di www.wijatnikaika.id

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Senyum Bahagia Buruh Bangunan Sebagai Energi Baik Kehidupan

15 Agustus 2018   16:43 Diperbarui: 15 Agustus 2018   16:48 807
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Siapakah kiranya sosok paling inspiratif di dunia ini? Apakah mereka para Nabi dan Rasul? Ataukah para pesohor kelas dunia dengan segala kehidupan mewah bergelimang harta dan popularitas? Atau para motivator di panggung-panggung seminar berbiaya mahal? Atau para pemuka agama yang setiap ceramahnya mengingatkan kita tentang keindahan Surga yang dijanjikan Tuhan bagi kaum beriman? Atau para penyanyi asal Korea Selatan yang bertubuh bening layaknya boneka dengan suara indah yang memabukkan bagai bidadari? Ataukah justru para sosok sederhana di sekitar kita, yang bahkan namanya saja tidak kita kenal?

Karena kita memerlukan energi baik untuk menjalankan kehidupan, maka akan kuceritakan padamu para motivator dari kalangan rakyat biasa. Siapapun kita dan apapun latar belakang sosial kita, kukira hati dan pikiran kita dapat menerima energi baik kehidupan dari mana saja dan dari siapa saja. Karenanya, mari dengarkan ceritaku:

Aku tinggal di kos-kosan tepat di belakang stasiun Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Di sekitar kosanku sedang dibangun 3 unit apartemen untuk pelajar, mahasiswa dan karyawan. Bangunan belasan lantai tersebut dikerjakan siang malam untuk mengejar target. Karenanya tak heran jika suasana ribut dan sibuk terus terdengar sepanjang 24 jam. Mulai dari suara besi dipukul, suara mesin las, atau suara kendaraan pengangkut bahan bangunan yang hilir mudik dan sebagainya. 

Para buruh yang mengerjakan bangunan-bangunan tersebut tinggal di sejumlah kos-kosan tak jauh dari tempat tinggalku. Mereka biasanya tinggal berkelompok agar bisa berbagi biaya kontrakan dan berhemat. Mungkin yang terpenting bagi mereka bukan lagi tempat tinggal nyaman seperti rumah, melainkan sekadar tempat melepas penat dan istirahat.

Saat waktu makan tiba, mereka memenuhi sejumlah warteg yang harga makanannya murah meriah, berkisar Rp. 7.000-Rp.15.000 per porsi, untuk menu sederhana yang kupikir kurang memenuhi standar gizi jika melihat beban pekerjaan mereka yang sangat berat. 

"Nyarap dulu lah kita, sama telur dadar dan sayur bayam," ujar seorang yang kuketahui bekerja sebagai buruh di apartemen paling dekat dengan kosanku, saat memasuki warteg tempatku sedang sarapan pagi. Ia meminta sepiring nasi dengan menu telur dadar, sayur bayam, sambal dan bakwan sayuran. Kupikir-pikir, apa cukup ya sarapan sederhana begitu untuk menyambut pekerjaan berat dan kasar selama 4 jam kedepan?

Jika waktu istirahat siang tiba, mereka bergerombol di sebuah warung kopi. Mereka biasanya melepas penat dengan berkelakar satu sama lain, menikmati segelas kopi dingin atau es teh, atau minuman dingin lain yang dalam kemasan plastik. 

Kadangkala kulihat juga mereka bergerombol di sekitar gerobak penjual buah untuk membeli rujak yang harganya antara Rp. 5.000-Rp.10.000 per porsi. "Seger nih panas-panas gini makan rujak!" ujar seorang diantara mereka kepada rekan-rekannya dengan wajah gembira. Sementara aku yang menunggu giliran rujak pesananku dibuat si penjual buah hanya tersenyum dalam diam.

Atau kadangkala kudengar obrolan mereka saat menikmati makan siang di sebuah warteg yang lain. "Kopi dingin ya, Teh. Biar seger dan semangat kerja lagi nih!" ujar seseorang. "Kalau saya es teh aja dibungkus ya buat dibawa ke atas," ujar yang lainnya. 

Ya, seringkali kulihat beberapa orang buruh dengan pakaian kerja yang lusuh dan wajah terbakar matahari membawa sekantong es teh saat kembali ke bangunan apartemen tempat mereka bekerja. Mungkin, satu plastik 0,5 kg es teh seharga Rp. 5.000 dapat menjadi semacam moodbuster saat lelah melanda. Terlebih panas di musim kemarau ini benar-benar mematikan!

Lalu kulihat seorang lelaki dengan senyum sumringah menghitung uang kembalian dari pemilik warteg. "Dihitung terus uangnya, kurang ya kembalian si Teteh?" tanya seorang lelaki bertubuh mungil namun bertotot. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun