Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Human Resources - Pegawai

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar | Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2022

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Pergi Gelap, Pulang Gelap, Kenapa Pekerja Bodetabek Enggan Ngekos di Jakarta?

12 Oktober 2022   16:42 Diperbarui: 13 Oktober 2022   04:50 2050
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para penglaju yang menyerbu Jakarta tiap hari (foto by widikurniawan)

Setiap hari ribuan orang dari daerah pinggiran ibu kota pergi bekerja ke Jakarta di pagi hari dan pulang di kala matahari sudah terbenam. Pergi masih gelap, pulang pun telah gelap.

Fenomena penglaju ini tengah viral gara-gara sebuah postingan video di media sosial. Seorang perempuan muda membagikan aktivitasnya yang bangun jam 3-an pagi dan berangkat kerja usai subuh, serta pulang kembali ke rumah di atas jam sembilan malam.

Ia melakukan perjalanan tiap hari dari Cisarua, Bogor, naik bus ke Stasiun Bogor dan lanjut naik KRL ke Jakarta.

Sebenarnya penglaju sepertinya biasa kita jumpai di Jabodetabek. Bahkan kian hari kian terasa bertambah jumlahnya seiring kian padatnya moda transportasi massal macam KRL.

Namun, rupanya masih banyak yang terkaget-kaget dengan fakta yang disuguhkan melalui video tersebut. Netizen banyak yang menanggapinya dengan reaksi terkejut, tidak percaya, bahkan tak sedikit yang menganggapnya hanya konten semata.

Bahkan banyak yang mempertanyakan kenapa orang tersebut tidak ngekos saja di Jakarta?

Well, sebagai sesama penglaju dari Bogor ke Jakarta naik KRL dan masih nyambung MRT, saya merasa harus ikut membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Faktanya, banyak pertimbangan dan alasan untuk seseorang pekerja di Jakarta agar bisa memutuskan ngekos atau tidak ngekos.

1. Penghasilan

Ngekos di Jakarta dan Anda berasal dari daerah pinggiran seperti Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Bogor, belum tentu menjadi pilihan yang lebih hemat. 

Saya menghitung pengeluaran untuk transportasi umum dengan kombinasi antara KRL lanjut MRT, KRL lanjut transjakarta, angkot lanjut KRL atau naik motor ke stasiun lanjut KRL, bakal menghabiskan ongkos antara 500 ribu -- 1 juta rupiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun