Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Pegawai

Blogger, senang menulis, jeprat-jepret, masak nasi goreng dan jalan-jalan ........ wdkrn.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Grab Akuisisi Uber, Bagaimana Nasib Pengguna?

27 Maret 2018   16:03 Diperbarui: 27 Maret 2018   19:31 2350 4 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Grab Akuisisi Uber, Bagaimana Nasib Pengguna?
Sumber foto: Pexels.com

Resmi sudah layanan Uber di Asia Tenggara diakuisisi oleh Grab. Layanan Uber yang di Indonesia lebih dikenal sebagai jasa transportasi ojek onlinedan taksi online, mulai 8 April 2018 sudah harus menggunakan aplikasi milik Grab.

Sebagai pengguna Uber, saya pun sudah menerima pemberitahuan resmi melalui email. Tak cuma dari pihak Uber, email dari Grab pun sudah menyapa saya dengan nada penuh optimisme.

"Ini saatnya kami kerja bersama untuk mengembangkan layanan ke depan dan semakin mendekatkan kita pada kebersamaan. Sebagai kesatuan, kami berharap akan semakin dekat pada solusi terbaik bagi kebutuhan transportasi sehari-hari, pengiriman dan pembayaran bagi jutaan pelanggan yang ada di hampir 200 kota di Asia Tenggara," tulis Grab dalam rilis emailnya.

Namanya juga sedang jualan, maka janji indahlah yang dilontarkan.

Sebagai pengguna yang mempunyai tiga aplikasi dalam satu smartphone, yaitu Uber, Grab dan Gojek, tentu saya sudah bisa mengamati dan merasakan bagaimana keunggulan dan kelemahan dari masing-masing penyedia jasa. Dicaploknya Uber oleh Grab, jelas bikin saya sempat manyun dan mengeryitkan dahi.

"Hmmm..." kemudian saya menghela nafas panjang.

Janji Grab kepada pelanggan (sumber: email Grab)
Janji Grab kepada pelanggan (sumber: email Grab)
Sangat disayangkan menurut saya. Meski ngos-ngosan pada layanan ojek online, di mana tarif murahnya dikeluhkan oleh mitra pengemudi, tapi Uber adalah penyelamat konsumen di saat-saat tertentu.

Dulu saat Grab dan Gojek bikin target ketat dengan iming-iming bonus gede khusus pada jam sibuk sore hingga jam 7 malam, saya selalu saja kesulitan mendapatkan driver yang mau mengambil orderan saya. Alasannya karena jaraknya relatif jauh dan rentan macet, abang ojol sih maunya dapat yang dekat-dekat dan gak macet, biar bonusnya lancar kalau dapat berkali-kali orderan. Nah, ketika beralih pakai aplikasi Uber masalah itu tiba-tiba terpecahkan karena sistem di Uber tidak memungkinkan bagi driver untuk mengetahui tempat tujuan si penumpang.

Maka bisa dipastikan abang ojol Uber biasanya lebih tahan banting karena selain bayarannya murah, juga dia sudah siap mengantar ke mana saja. Dari sisi driver ojek Uber, memang berpotensi merugikan apabila terlalu banyak promo yang bisa memotong tarif hingga 50% atau bahkan gratis. Mungkin inilah penyebab layanan ojol Uber kalah bersaing. Makanya saya selalu membayar lebih karena bagi saya si abang ojol Uber ini rela mengantar saya ke tujuan yang bukan menjadi favorit ojol dari aplikasi lain.

Hal serupa juga berlaku untuk taksi online. Bisa dikatakan layanan GrabCar menjadi favorit utama penggunanya karena faktor makin banyaknya pengguna ojol Grabbike yang ketika ingin naik taksi online tidak perlu lagi punya aplikasi Uber. Berbeda dengan Uber yang pada awalnya memang diinstal oleh pengguna yang berniat menggunakan layanan taksi online saja.

Namun, sebagai pilihan kedua (atau bahkan ketiga karena GoCar milik Gojek sudah mulai naik pamor), Uber tetap menawarkan keunggulan bagi penggunanya. Sudah berkali-kali saya mengalami kejadian saat driver GrabCar tidak mau menjemput saya jika saya berada di rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN