Mohon tunggu...
Widha Karina
Widha Karina Mohon Tunggu... Penulis - Content Worker

seni | sejarah | sosial politik | budaya | lingkungan | buku dan sastra | traveling | bobok siang. mencatat, menertawakan keseharian, dan menjadi satir di widhakarina.blogspot.com dan instagram.com/widhakarina

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Siapa Sih yang Bertugas jadi "Timekeeper" di Tempat Pijat Refleksi?

14 Maret 2018   17:00 Diperbarui: 23 Maret 2018   17:15 1945
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber ilustrasi: freepik

Tapi setelah mencoba beberapa tempat, saya punya satu keheranan.

Begini. Pijet/refleksi itu kan tarifnya jam-jaman. Bisa booking satu jam, satu setengah, atau  dua jam. Kadang dikreasikan menjadi paket 2 jam sudah dengan lulur, 2 jam dengan kop dan totok wajah, 2 jam dengan mandi uap-ratus-rendam lumpur-disanggul-rias manten-bonus calon. Wah, banyak banget.

Tapi coba perhatikan deh. Secakep-cakepnya tempat pijet, mau ambil paket yang manapun, mau sejam atau nginep seminggu, pasti ada kejanggalan pada penentuan durasi memijat. Ini terjadi di mana-mana lho, baik di lokasi pijat mentereng maupun di langganan saya dekat rumah yang fasilitasnya sederhana.

Misalnya nih... Misalkan saya ambil paket refleksi 1,5 jam. Tapi setelah dihitung, ternyata saya baru dipijat 1 jam lebih 10 menit. Itu belum dikurangi waktu kosong ketika saya menunggu terapis keluar bilik untuk mengambil pakaian ganti, air hangat, lap, mencuci tangan, dan mondar-mandir lainnya. Pernah juga tak titeni, ketika booking untuk 2 jam pun, total sesi pijatnya hanya 1 jam 40 menit, sudah termasuk waktu untuk terapis mengembalikan baki berisi air hangat, mencuci tangan, dan bolak-balik menukar handuk). Kan (cukup) ZBL

Makdarit (maka dari itu), pertanyaan saya satu: siapa sih timekeeper-nya? Kok selisihnya bisa banyak.

Jangan-jangan kalau ambil paket 1 jam, total sesinya cuma 45 menit.

Enaknya tanya ke siapa?

Saya pernah mau iseng mempertanyakan poin ini kepada si terapis (karena praktis yang kita temui saat sesi adalah terapis. Kalau nggak, ya admin di meja kasir). Tapi saya kerap mengurungkan niat untuk bertanya karena mbak terapisnya baik hati dan wajahnya tampak lelah. Ku kan jadi tak tega mau usil tanya-tanya. Apalagi untuk hal-hal berbau komplain yang pastinya kurang menyenangkan buat mereka.

Mana kalau lagi dipijet lagi enak-enaknya itu ya, males banget ngobrol. Mending dinikmati aja (meski nggak pernah sampai ketiduran, takut rugi, pijatannya nggak berasa). Mana nggak suka akutu bikin ruang pijat jadi berisik karena aku ngobrol.

Di satu sisi, rasa-rasanya hati ini maklum kalau mengingat lelahnya para terapis ini melayani customer berjam-jam setiap harinya. Apalagi kalau pijatannya tetap mantap meski mbaknya kuyakin sekali butuh juga dipijat.. Karenanya saya biarkan saja waktu pemijatan yang tak genap 1,5 jam. Toh ia sopan, kerjanya cakap, dan pijatannya memuaskan.

Tapi kalau dipikir-pikir rasanya gemas juga. Sesungguhnya bagaimana sih cara penghitungan waktu pijat yang sudah dipaketkan ini? Buat apa dibuat paket 1,5 jam apabila memang waktu pemijatan tak sampai 1,5 jam (selisih sedikit wajar, karena ini kan bukan pelajaran mencongak. Tapi kalau selisihnya sampai 15 menit kan nyesek juga mbokde).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun