Mohon tunggu...
Wendra Fitrianto
Wendra Fitrianto Mohon Tunggu... Freelancer

Menulis ditemani secangkir susu jahe manis.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Beli Sepeda dengan Sedekah

26 Mei 2019   15:32 Diperbarui: 26 Mei 2019   15:35 0 3 1 Mohon Tunggu...
Beli Sepeda dengan Sedekah
Source: unsplash.com

Saat masih kecil, Ibu pernah menemani saya ke pasar Sleman. Kami mampir ke toko yang paling pojok. Di dekat persimpangan jalan.

Di situ berjejer sepatu dari sisi kanan dan kiri. Banyak pilihan yang ditawarkan. Yang justru membuat bingung untuk memilih.

Pembeli di toko itu bukan hanya kami. Ada seorang ibu dengan anaknya juga. Yang usia anak itu kira-kira sama dengan saya. Sekitar 8 tahunan.

Saya lihat, anak itu merengek terus. Dan sang ibu tetap kekeh tidak bisa membelikan sepatu yang anak itu mau.

Ibu saya lalu bercakap-cakap dengan mereka. Sebentar saja. Lalu memberi mereka selembar uang. Ibu dan anak itu senang. Sepatu yang diinginkannya jadi dibeli.

Mereka mengucapkan terima kasih. Kemudian pergi.

Saya heran. Toh, kami juga bukan dari keluarga yang berkelebihan. Tapi, itu sudah jadi keputusan ibu. Pun sikap ibu masih seperti itu. Sampai sekarang.

Dan keteladanan itu begitu membekas. Saya pun jadi ikut-ikutan.

Puncaknya ketika saya masuk SMK. Bukan di SMP. Apalagi SD. Karena waktu itu, uang saku masih terbatas. Cuma Rp2.000. Hanya cukup untuk pulang naik bus Jogtem. Sedang sisa uang itu saya gunakan untuk tanding Winning Eleven lawan teman saya.

Siapa yang kalah, dia yang bayar.

Pun tidak pernah jajan. Sama sekali. Hanya kadang-kadang diberikan jajanan oleh penjual di depan SMP. Gratis. Karena kami cukup akrab. Atau mungkin karena kasihan.

Sedangkan saat SMK, uang saku saya naik. Juga sudah biasa berhemat. Bawa bekal makan siang. Pun naik sepeda sampai sekolah.

Jarak dari rumah ke SMK juga lumayan. Sekitar 18 KM. Yang satu kali perjalanan ditempuh sekitar satu jam.

Itupun hanya naik sepeda jengki. Yang biasanya dipakai anak perempuan itu. Yang di depan ada keranjangnya. Yang warnanya biru menawan.

Dari situ teman saya mulai meledek: pit e koyo cah wedok! Cocok banget!

Sebagai laki-laki yang baru pubertas, saya patut merasa malu. Pun teman perempuan saya ikut menertawakan.

Ketika motor sudah merajalela. Ketika Satria Fu jadi idaman. Saya masih pakai sepeda. Jengki pula.

Walaupun begitu, ternyata ada juga gadis yang mau saya ajak jalan-jalan. Pakai sepeda itu. Boncengan. Saya sampai heran: kok dia mau ya.

Saya pun jadi berkeinginan beli sepeda gunung atau apalah itu. Yang gear-nya bisa dinaikkan. Biar bisa mbalap waktu berangkat sekolah. Biar tidak terlambat lagi.

Suatu ketika, saya mampir ke rumah bude. Cari Wi-Fi. Buat ngecek orderan dari jualan online.

"Kuwi ban e diganti! Wis tepos ngono kok.", kata bude.

Saya jawab: nggih, bude. Nek sampun gadah artha. Dalam hati: sepedanya sekalian yang diganti. Hahaha

Dua bulan kemudian, Ibu memberitahu kalau baru saja diberi uang cash 2 juta. 

Kata ibu: dari bude. Buat beli sepeda baru.

Alhamdulillah..

Saya kaget. Tidak menyangka sama sekali. Karena hampir satu tahun tidak ada progres.

Waktu itu, saya memang sudah sering sedekah. Yang kadang saya selipkan do'a: ada uang buat sepeda baru.

Meskipun kesannya tidak ada berhasil, saya selalu bersyukur. Karena selalu diberi kemudahan dalam setiap urusan.

Pun beberapa jam sebelum Ibu memberi kabar, saya juga sempatkan sedekah dulu. Setengah dari uang bulanan saya.

Malamnya juga Tahajjut. Paginya Dhuha.

Saya pun percaya. Ketika Anda memberi, Anda akan dibalas. Bahkan lebih baik.

Bukan hanya memberi materi saja. Bisa juga berupa bantuan. Kepada teman yang membutuhkan, misalnya.

Tapi jangan berharap teman Anda yang akan membalas budi. Karena tidak selalu begitu. Berharap kepadanya hanya akan membuat Anda kecewa.

Jadi, berharap saja kepada Tuhan. Yakini saja. Balasan itu akan datang. Di saat yang tepat. Ketika Anda membutuhkannya. (wendra)



NB: tulisan ini dibuat sebagai pengingat. Karena saya toh masih suka khilaf dan terlalu berharap.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x