Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... Administrasi - soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Belajar dari Para Kompasianer Jogja, Tangguh Melawan Covid-19

9 Agustus 2021   09:13 Diperbarui: 12 Agustus 2021   08:00 412
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kompasianer Jogja "curhat" tentang Covid-19 (dok. pribadi).

Bagi Ang Tek Khun kehilangan kedua orang tua akibat Covid-19 meninggalkan kesedihan yang lebih mendalam dibanding rasa duka lainnya yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya. Walau berusaha tegar, Ang Tek Khun mengaku tidak mudah untuk melipur lara.

Rasa kehilangan justru semakin kuat setelah sepekan kedua orang tuanya dikremasi. Bahkan, beberapa saudara Ang Tek Khun masih kerap menangis jika masuk ke rumah orang tua mereka dan melihat barang-barang di dalamnya.

Akhirnya Ang Tek Khun berusaha untuk berdamai. Berbagai cara dilakukan. Salah satunya Ang Tek Khun membatasi sementara penggunaan media sosial. Ia pun tidak terlalu berminat membaca artikel-artikel psikologi seputar Covid-19 karena menurutnya banyak isinya ditulis bukan oleh pakar yang sesuai.

Ang Tek Khun memilih fokus untuk menata hati dan pikirannya. Ia banyak mendengarkan musik. Ia pun menemukan bahwa Lagu Merpati Putih dan Dea Lova ternyata sangat membantu dalam membangkitkan ketegaran jiwanya.

Oleh karena ia pun berpesan kepada para pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi atau pemulihan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menenangkan. Menonton film, mendengarkan musik, atau bermeditasi menurutnya bisa lebih bermanfaat dibanding menyimak banyak informasi yang justru menimbulkan kecemasan.

Jangan Takut Tes Covid-19

Situasi sulit yang dihadapi pasien Covid-19 dan rasa duka yang dialami keluarganya bisa dipahami oleh kompasianer Nanang Diyanto. Sebab sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ia pun ikut menangani pasien Covid-19. Apalagi hingga sekarang rumah sakit tempatnya bertugas masih dibanjiri pasien Covid-19.

Tak jarang Nanang menjumpai pasien yang dirawatnya mengalami pemburukan hingga meninggal dunia. "Kemarin saya masih menyuapi pasien itu, tadi pagi ternyata sudah nggak ada", terangnya.

Di sisi lain ia mengharapkan masyarakat agar tidak takut mendatangi fasilitas kesehatan untuk menjalani tes Covid-19 jika mulai merasakan gejala. Inisiatif masyarakat tersebut sangat penting mengingat tenaga dan fasilitas kesehatan saat ini terbatas. Tidak mungkin petugas terus menerus melakukan tes secara jemput bola.

Seseorang yang harus menjalani isolasi mandiri pun diharapkan memberitahukan pada Satgas Covid-19 di lingkungan setempat agar kondisinya bisa dipantau.

Perihal tes ulang setelah menjalani isolasi mandiri selama 10-14 hari, Nanang menegaskan bahwa tes tersebut tidak diperlukan bagi seseorang yang telah pulih dan tidak merasakan gejala. Tes ulang dianggap akan menghabiskan waktu dan biaya yang tidak perlu.

Jika hasil tes ulang terindikasi masih reaktif atau positif, kemungkinan besar itu merupakan sisa atau bangkai virus yang sudah mati. Menurut Nanang kondisi itu tidak berbahaya karena sudah tidak menularkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun