Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

BWF Harus Direformasi, Pak Moeldoko Perlu Turun Tangan?

20 Maret 2021   08:28 Diperbarui: 20 Maret 2021   08:31 205 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
BWF Harus Direformasi, Pak Moeldoko Perlu Turun Tangan?
Reformasi BWF | foto: youtube.com/c/kompastv/videos.

Ya, bulutangkis Indonesia sedang terluka saat ini. Luka dari tanah Inggris yang memupus perjuangan para pejuang bulutangkis kita secara tragis.

Ibarat luka pada kulit atau bagian tubuh, ada dua pilihan untuk memperlakukannya. Pertama, segera mencuci luka itu lalu menutupnya dengan perban. Harapannya luka akan cepat mengering, darah berhenti mengalir,  lalu sembuh hingga tak terasa lagi perih serta sakitnya.

Kedua, membiarkan luka menganga dan mengering dengan sendirinya. Berharap sakit dan perihnya sembuh seiring waktu berjalan. Tapi biasanya mekanisme penyembuhan seperti ini akan menyisakan bekas yang jelas sehingga kadang sulit dilupakan peristiwa penyebab luka itu terjadi.

Begitu pun luka bulutangkis Indonesia ini. Terdepak dari ajang All England 2021 dengan cara yang amat buruk tentu akan sulit dilupakan. Sekarang para pebulutangkis Indonesia mungkin sudah mencapai tahap menerima luka itu. Akan tetapi sakitnya mungkin akan terbawa dalam ingatan jangka panjang. Walau barangkali tak sampai menimbulkan trauma, goresan lukanya terlalu perih untuk didiamkan seolah semuanya baik-baik saja.

Ialah sikap otoriter BWF yang jadi penggores luka paling dalam itu. Bukannya mencari solusi atas peraturan otoritas kesehatan Inggris, BWF justru membiarkan tim bulutangkis Indonesia berada dalam situasi tidak pasti yang menyesakkan. Semakin sakit sebab pada saat yang sama BWF bertindak sewenang-wenang dengan mengabaikan prinsip keadilan.

Banyak alasan untuk mengatakan betapa BWF tidak memperlihatkan sikap profesional dan perlakuan sebagai mana mestinya federasi yang menaungi atlet.

Pertama, BWF mendesak tim bulutangkis Indonesia untuk segera meninggalkan arena tanpa fasilitas pengawalan maupun transportasi. Tim bulutangkis Indonesia harus berjalan kaki menuju hotel tempat menginap. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya BWF telah mengusir tim bulutangkis Indonesia. Walau istilah disebut walk out (WO), tapi istilah apalagi yang lebih tepat untuk menggambarkan perlakuan tersebut selain pengusiran?

Kedua, selain dipaksa berjalan kaki meninggalkan arena, tim bulutangkis Indonesia tak diperkenankan menggunakan lift hotel untuk menuju tempat istirahat mereka. Dengan demikian cap sebagai pesakitan segera diberikan BWF kepada tim bulutangkis Indonesia.

Ketiga, anehnya dengan memperlakukan tim Indonesia sebagai pesakitan, BWF malah tidak membuka kesempatan untuk diadakannya tes Covid-19. Permintaan tim Indonesia untuk membuktikan status kesehatan mereka tak dianggap penting. Sudah tidak transparan, tidak adil pula.

Tiga hal itu sudah cukup untuk menyimpulkan sikap dan perlakuan BWF yang buruk. Meski berlindung di balik aturan otoritas kesehatan Inggris, BWF sebenarnya bisa melakukan langkah yang lebih baik. Namun, itu tidak dilakukan.

Maka wajar jika kemarahan masyarakat Indonesia datang dari banyak kalangan. Mulai dari para pebulutangkis hingga publik pecinta bulutangkis Indonesia. Organisasi keagamaan sekelas PBNU saja ikut buka suara. Pada Jumat (19/3/2021) Sekjen PBNU memberi dukungan pada PBSI dan para pebulutangkis Indonesia untuk menuntut pertanggungjawaban BWF yang telah bertindak tidak sportif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN