Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Hand Sanitizer Sudah Rp4000 dan "The New Normal" ala Presiden Jokowi

20 Mei 2020   10:16 Diperbarui: 21 Mei 2020   06:28 1222 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hand Sanitizer Sudah Rp4000 dan "The New Normal" ala Presiden Jokowi
Hand sanitizer seharga Rp4300 yang saya beli minggu lalu(dok. pri).

Minggu lalu ketika pergi ke minimarket untuk membeli air mineral dan buah, pandangan saya ikut tertuju pada rak yang terlihat lumayan istimewa. Saya katakan istimewa karena di atas rak tersebut berderet aneka hand sanitizer. 

Mungkin ada lebih dari empat merek yang saya temui malam itu. Bentuknya pun bervariasi. Ada yang liquid dalam botol semprot, gel, bahkan tersedia juga kemasan refill volume 300 ml dari sebuah merek yang terkenal.

Harga semua hand sanitizer tersebut sudah jauh berbeda dengan apa yang kita jumpai satu atau dua bulan lalu di mana hand sanitizer menjadi produk langka berharga selangit. 

Sekarang hand sanitizer, paling tidak yang saya jumpai di minimarket tersebut, dijual dengan harga yang terjangkau. Mungkin mendekati harga semula sebelum masa pandemi Covid-19 terjadi.

Malah, ada satu merek yang harganya cukup murah. Satu botol hand sanitizer merek Nuvo saya dapatkan hanya seharga empat ribu rupiah lebih sedikit. Tepatnya Rp4300 untuk volume 50 ml.

Lumayan terkejut saya menjumpainya. Meski beberapa waktu lalu, seperti pernah saya ceritakan di kompasiana, hand sanitizer sudah bukan barang langka lagi dan banyak tersedia di toko daring dengan harga miring.

Baca: Penimbun dan Spekulan Hand Sanitizer Pasti Nangis Melihat Ini


Akan tetapi menemukan hand sanitizer seharga empat ribuan secara langsung di toko atau minimarket merupakan kejutan tersendiri. Untuk memastikan harganya, sempat saya bertanya kepada seorang pegawai minimarket yang kebetulan sedang membenahi sejumlah etalase produk. Ternyata harga tersebut benar adanya. Saya pun mengambil sebotol dan membawanya ke kasir.

Saya kurang tahu apakah harga hand sanitizer Nuvo dulu memang semurah ini. Kalau benar, rasanya sangat luar biasa membandingkan bagaimana harganya bisa melonjak secara ugalan-ugalan dua bulan belakangan. Di masa langkanya, hand sanitizer ini mungkin dijual lima kali lipat lebih mahal dan jadi rebutan banyak orang.

Kini hand sanitizer telah pulih harganya. Menariknya, keberadaanya pun awet di rak toko. Artinya, tak lagi jadi buruan banyak orang. Dengan kata lain kondisi pasar, stok, dan permintaan konsumen terhadap hand sanitizer bisa dikatakan telah kembali ke kondisi normal.

Bicara soal kondisi normal, hampir dua pekan ini masyarakat Indonesia juga dilingkupi suasana kebatinan baru mengenai "the new normal" di era pandemi Covid-19. Gagasan normal baru yang dilontarkan oleh Presiden Jokowi dielaborasikan dengan hidup berdamai dan berkompromi dengan Corona.

Secara umum gagasan normal baru bukanlah sesuatu yang baru. Setidaknya sejumlah negara yang terjangkit Covid-19 sudah mulai memasuki fase awal dan bahkan sudah dalam tahap menjalani normal baru. Sebutlah Tiongkok, Korea Selatan, Jerman dan sebagainya.

Akan tetapi normal baru versi Indonesia yang dilontarkan Pemerintah Presiden Jokowi ke tengah masyarakat cukup prematur. Normal baru membutuhkan bantalan dan prasyarat yang tak ringan.

Sayangnya selama bertarung melawan Covid-19 dua bulan terakhir ini, Indonesia belum cukup berhasil membangun bantalan atau landasan yang memadai untuk sebuah "the new normal". 

Sejumlah prasyarat untuk memulai normal yang baru belum terpenuhi. Maka gagasan normal baru versi Presiden Jokowi ibarat mendirikan bangunan raksasa baru di atas pondasi yang minim dan rapuh. Pemerintah seolah mengajak rakyat untuk melakukan loncatan besar secara tiba-tiba tanpa pemanasan yang berhasil.

The new normal memang sebuah keniscayaan yang perlu dijelang oleh masyarakat dunia pasca Covid-19. Masalahnya sulit membayangkan bagaimana kitamemulai normal baru jika masyarakat dan pemerintah sama-sama tak disiplin. 

Sulit membayangkan bagaimana normal baru dijalani di atas kesimpangsiuran, ketidaktegasan, serta ketiadaan evaluasi yang jelas atas segala upaya yang telah dijalankan sebelumnya.

"Kita belum sepenuhnya bisa mengendalikan Covid-19", begitu kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 beberapa hari lalu.

Oleh karena itu, kita pantas bertanya, apa modal yang telah kita miliki untuk melangkah ke normal baru? Bagaimana pemerintah merangkai gagasan the new normal? Apakah hanya gengsi demi ikut-ikutan seperti negara lain?

Saya khawatir gagasan normal baru Presiden Jokowi adalah bagian dari rangkaian kebimbangan pemerintah selama ini dalam memerangi Covid-19. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN