Mohon tunggu...
Kris Wantoro Sumbayak
Kris Wantoro Sumbayak Mohon Tunggu... Guru - Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

dewantoro8id.wordpress.com • Fall seven times, raise up thousand times.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Tanah Uruk, Inspirasi agar Hidup Gercep

26 Maret 2021   10:31 Diperbarui: 26 Maret 2021   10:46 298
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tanah uruk yang diusahakan bapak staf kebersihan kompleks | foto: KRIS WANTORO

"Mas, ini halamannya mau dikasih uruk ndak?" Bak berkah di siang bolong, petugas kebersihan di kompleks tempat tinggalku menjemput bola.

***

Bukan TV, atau media besar lainnya, melainkan seorang Dedy Corbuzier, master mejik yang capek lalu banting setir jadi host salah satu program TV, yang hantam kemudi lagi karena rating share-nya rendah kini jadi Youtuber (iri bilang, jek!)---yang mendadak meroket viewer-nya akibat mewadahi pergulatan catur Dewa Kipas Dadang Subur lawan Grand Master Irene Sukandar.

Pembuktian siapa yang lebih layak bermaster catur, kalah "bising" dengan besar nominal yang dikantongi Dedy dari sponsor maupun Youtube. Ibaratnya, pengisi panggungnya mendapat irisan kue, sedang Dedy seloyang penuh. Demikian analisis pegiat media sosial Deny Siregar. Satu hal, Dedy gercep (gerak cepat) mengambil kesempatan sebelum disadari para pemilik stasiun TV.

***

Hari Minggu lalu, bapakku singgah ke rumah guna membantu membetulkan atap fiber tempat cucian. Dari beberapa kunjungan sebelumnya, bapak merekomendasikan supaya halaman depan rumah diberi uruk agar tidak menggenang kala hujan. Memang ada jeda antara teras dan jalan aspal, posisinya lebih rendah. Terciptalah cekungan. Ditumbuhi rumput lagi. Pernah dipangkas, tapi ya tumbuh lagi.

Belum kepikiran menutup dengan cor, selain kantong tak kooperatif, belum izin pada pemilik rumah. Pikirku, nanti kalau libur akhir pekan, akan kubabat mereka. Faktanya: tak tersentuh meski ada libur Isra Mi'raj ditambah hari Jumat. Pemalas.

Senin siang, sepulang dari Pelatihan Pembuatan Soal AKM yang diselenggarakan Disdik Salatiga, tetiba sesosok bapak memanggil. Siapa rupanya? Mungkinkah sekretaris RT membagikan undangan atau formulir screening sebelum vaksin Covid-19?

Baca juga: Apa dan Bagaimana Membuat Soal AKM?

Ternyata, bapak petugas kebersihan kompleks. "Mas, ini halamannya mau dikasih uruk ndak?" Bak gayung bersambut. Aku bertanya, memastikan jenis uruknya tanah atau batu kerikil. Batu kerikil, katanya. Ojeh, sepakat.

Bagiku, drama itu bagaikan jodoh yang dipertemukan oleh nasib. Aku dimudahkan, bapak itu diuntungkan. Dari adegan ini, ada tiga mutiara bisa dipetik.

1# Yang gercep, rezekinya nancep. Tebakanku, bapak petugas kebersihan itu melihat serpihan genteng yang dibawa bapak saat datang membetulkan atap fiber. Inspiratif! Dilihatnya halaman rumah kami penuh rumput, becek pula. Sedangkan dia punya material uruk (dari puing-puing tembok yang digempur). Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Gercep juga bapaknya. Tahu kalau halaman kami butuh uruk, langsung disamperin ke rumah kami. Akibat sikap gercep itu, rezeki bapaknya juga bertambah. Nancep! Apa soal? Untuk jasa kebersihan selain sampah rumah tangga (atau jasa serupa lainnya), bapak itu berhak menerima uang rokok. Manteb!

Baca juga: (Pengalamanku tentang) Uang Rokok

2# Sekali dorong, dua masalah selesai. Tak hanya gercep, bapak staf kebersihan kompleks itu juga cermat. Sekali dorong, dua masalah selesai. Sekali jalan, dua tujuan dicapai.

Salah satu warga memerlukan jasanya untuk membuang puing bekas tembok. Ke mana? Terserah, yang penting tidak makan tempat atau menganggu. Masalahnya, puing tembok itu tak bisa busuk seperti halnya sampah organik. Tidak bisa diringkas atau dibakar seperti halnya sampah plastik. Paling logis, cari tempat cekungan untuk menjadikan rata. Halaman kamilah jodoh uruk itu.

Bapaknya pasti dapat uang rokok dari warga pemilik puing. Karena beliau berjasa menguruk halaman kami, otomatis dapat uang rokok lagi. Rezeki ganda. "Daripada saya buang ke sana, jauh..." Cakap juga kan. Sama-sama dibuang. Tak harus membawa jauh-jauh ke luar kompleks, perlu banyak tenaga. Cukup beberapa meter dari tempatnya mengangkut, di-drop di depan rumah kami. Efisien.

3# Tak perlu menunggu besar, ada peluang sikat! Banyak orang kehilangan kesempatan karena menunggu (baca: menyia-nyiakan). Menunggu sampai besar, sampai kaya, sampai berjaya dulu baru bertindak. Padahal,

Seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil

Tak perlu sepopuler Dedy Corbuzier untuk menggaet peluang dan mengantongi uang milyaran dalam sekali tayangan. Dari posisi paling bawah sekali pun, bisa. Kuncinya, harus cermat, gercep dan berani. Begitu ada peluang, sikat!

Bapak kebersihan kompleks itu contohnya. Gerobak sampahnya kecil. Sehari hanya bisa menampung produk sisa dari beberapa rumah tangga. Itulah kenapa beliau mengambil sampah di rumah-rumah warga 2-3 hari sekali. Ia tidak harus menunggu kapasitas baknya bertambah, atau menunggu sampai gerobak dorongnya di-upgrade jadi bertenaga mesin. Peluang yang dilihatnya langsung diambil, dan tarik sis!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun