Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis - Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Memasak Nasi Gandul, Salah Satu Cara Tuntaskan Rindu

16 Mei 2020   00:17 Diperbarui: 16 Mei 2020   12:44 556
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Semoga pandemi cepat berlalu, agar bisa menikmati kembali nasi gandul di kota asalnya. | Foto: Wahyu Sapta.

Lama tidak pulang kampung. Banyak rindu yang menumpuk. Bukan saja rindu pada orang tua, saudara, teman, dan kerabat, tetapi juga rindu pada kampung halaman. Rindu pada aromanya, suasana kota, dan kulinernya. 

Saya pulang kampung ke Kota Pati. Jika dari Semarang, lewat jalur pantura ke arah timur, kurang lebih 75 km. 

Sebenarnya jarak yang membentang tak begitu jauh. Hanya 2 jam jarak tempuhnya. Bahkan di hari-hari lalu, paling tidak seminggu sekali saya pulang kampung untuk menengok orang tua. 

Tapi, di masa pandemi ini, segalanya menjadi jauh. Tak bisa kemana-mana karena ada anjuran jangan mudik dan pulang kampung untuk sementara waktu hingga situasi aman. 

Jangka waktu pandemi juga tidak bisa ditebak. Karena pandemi ini tidak kelihatan dan membahayakan. Manusia sebagai sarana perantaranya. Maka itu perlu adanya menjaga jarak agar tidak tertular atau menularkan. 

Nah, untuk menuntaskan rasa rindu pada kampung halaman, saya mencoba memasak resep nasi gandul. Mungkin tidak sama persis rasanya. Tapi paling tidak mirip dan bisa sebagai tamba kangen. 

Nasi gandul itu merupakan makanan khas. Kata orang sana, belum ke Pati jika belum merasakan nasi gandul. Nasi yang berkuah melimpah. Berbahan daging sapi yang dimasak sedemikian rupa hingga menjadi makanan super istimewa. 

Kuahnya berwarna coklat kemerahan. Rasanya asin manis gurih sedikit pedas, bersantan mirip-mirip gulai. 

Cara menyajikannya unik. Nasi ditaruh dalam piring yang sebelumnya diberi samir. Kemudian diberi kuah dan irisan daging hingga nasi terendam. Menyelam dong. Iya, karena kuahnya melimpah. Hahaha... sluruuup...Hum sedaap...

Cara menyajikannya unik. Nasi ditaruh dalam piring yang sebelumnya diberi samir. | Foto: Wahyu Sapta.
Cara menyajikannya unik. Nasi ditaruh dalam piring yang sebelumnya diberi samir. | Foto: Wahyu Sapta.
Oh, ya. Saat menikmatinya, bisa memakai sendok yang terbuat dari daun yang disebut suru. Tetapi jika kesulitan dan masih belum terbiasa, memakai sendok biasa saja. Daripada kesusahan makannya, padahal sudah lapar berat dan tidak tahan untuk segera menyantapnya. Nggak nahan deh. 

Nah, karena ada pandemi, saya jadi tidak bisa menikmatinya. Padahal sudah kangen dengan nasi gandul ini. Makanya, setelah pandemi berlalu, saya pengin sekali menyerbu nasi gandul. Klangenan saat pulang kampung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun