Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Menepilah Sejenak Denganku

5 Juli 2018   14:47 Diperbarui: 7 Juli 2018   03:11 2764 23 13
Menepilah Sejenak Denganku
Ilustrasi:dokpri

menaklukkanku dalam jiwamu bukan hal mudah, mereka-reka apa isi hatiku di jiwamu,

mengapa ada cinta?

sedang cinta yang ada dalam jiwamu hanyalah sebuah tebusan cintaku dalam jiwamu, namun itu tak pernah ada,

adalah sebuah kesalahan, saat kau mengira bahwa itu cinta,

aku tak pernah mencintaimu,

aku hanya mencintai diriku sendiri yang ada dalam jiwamu,

apakah ini cinta?

maka, menepilah sejenak denganku.

mereka-reka apa yang ada dalam jiwamu, apakah ada jiwaku di sana, melabuhi hati di kedalaman jiwamu.

***

Hatiku berkeping. Berantakan. Akhirnya kau membuat keputusan untuk pergi dariku.

"Kau yakin dengan keputusanmu?"

"Kau sudah bisa menebaknya. Aku hanya pergi sesaat. Tak lebih. Jika hatiku telah tenang, percayalah, aku akan kembali padamu."

"Tetapi, mengapa harus begitu, Pandu? Bukankah kau mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku? Atau...?"

"Aku mencintaimu. Justru itu aku tak ingin menyakitimu. Berilah aku waktu, Nes."

Lalu, apa yang harus aku lakukan, jika kau ingin meninggalkanku. Aku mengerti. Aku merasa bersalah. Tetapi keadaan membuatku demikian. Aku sendiri sangat membenci diriku sendiri.

"Dua tahun, Nes. Waktu yang kuberikan pada diriku sendiri juga buatmu. Seandainya kita bertemu kembali, dan kita belum milik siapapun. Berarti kita berjodoh."

"Mengapa begitu?" tanyaku sambil meraung. "Please, Pandu. Kumohon, jangan pergi dariku."

"Aku harus pergi, Nes. Percayalah. Aku sangat sayang padamu. Justru itu, aku akan pergi. Ijinkanlah aku. Sejenak aku ingin mencari jati diri. Dua tahun akan cepat berlalu. Lalu kita akan bertemu kembali." katamu. Memelukku erat sebagai tanda perpisahan. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa dan hanya mengalirkan air mata.

Baiklah, Pandu. Aku akan setia. Carilah jati dirimu. Tak akan ada yang mampu memisahkan cinta kita. Tak juga.... dia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3